8 (2)-The Last Page.

4.2K 161 5
                                        

"Maaf," Kylie mengangguk pelan mulai terdengar isakan tangisnya. Bio menarik ia ke belakang dan memeluk lehernya erat. "Gue gak suka ada cewek nangis, makanya gue peluk."

Yang dipeluk segera melepaskan diri dengan cepat, berbalik menghadap Bio dengan wajah merajuk. "Berarti lo meluk gue karena gue nangis?" Bio mengangguk beberapa kali polos membuat Kylie menangis lagi.

"Apa sih, Kay? Gue salah apa lagi?"

Kylie beranjak dari duduknya setelah itu duduk di samping Bio masih tetap sambil menangis. "Lo tuh... nyebelin!"

"Ya udah maaf."

"Maaf doang?!"

"Terus mintanya apa?" Siapa yang nggak baper saat orang yang di sayang tiba-tiba melembutkan nada intonasinya ke yang paling lembut?

Cewek itu cengingiran tanpa menghapus air matanya. Tangan Kylie terbuka lebar minta untuk di peluk oleh Bio. "Peluk..."

"Nggak!"

"Bio..."

"Ogah." Bio kembali membaca bukunya. Tetapi tiba-tiba seseorang memeluknya dari samping. "Ngapain lo?" Telunjuknya menjauhkan dahi Kylie jauh-jauh dari jangkauan tubuhnya.

Bukan Kylie namanya kalau nggak melanggar. Ia kembali memeluk pinggang Bio semakin erat dari sebelumnya, kepala ia tempelkan di dada bidang Bio. Kylie samar-samar bisa mendengar deguban jantung Bio yang semakin cepat. Ia memposisikan dirinya di posisi yang paling enak sambil memejamkan kedua matanya menikmati aroma parfum di baju cowok itu tepat di leher.

"Lo belum selesai belajar, Kay."

"Apa?"

"Lo belum selesai belajar."

"Tunggu bentar." Katanya sambil setengah berbisik setengah mengantuk.

"Minggir, ah."

"Nggak. Setelah ini gue nggak akan bisa ketemu lo lagi kaya sekarang. Kita beda kampus. Gue takut lo kangen gue."

"Siapa yang kangen lo?"

"Lo, Bio." Kylie tertawa kecil. "Gue... nggak pernah nyesel sayang sama lo, Bio. Andai lo nemu cewek lain, dia harus lebih dari segala hal dari gue. Gue nggak mau ngerelain orang yang gue sayang sama orang yang salah." Bio hanya berdeham. Tangannya ia sanggakan di atas pundak sofa karena pegal sedari tadi di apit perempuan itu.

"Maaf gue nyebelin, manja kaya anak kecil. Gue bingung harus narik perhatian lo pake apa lagi. Gue berdoa semoga gue dapet pengganti lo, yang jauh lebih baik dari lo, atau mungkin gue mintanya kaya lo aja. Soalnya di mata gue lo udah sempurna. Atau yang lebih gampangnya lo aja deh. Tapi kayanya nggak mungkin ya, Bi? Hehehe..."

Kylie menatap langit-langit ruang tamu menerawang jauh. Begitu juga Bio mendongakkan kepala ke langit-langit, sibuk dengan pikirannya sendiri. "Kenapa ya lo susah banget? Kalo matematika bisa di pecahin, kalo lo... gue nggak dapet sama sekali jawabannya." Ia menghembuskan nafas panjang dengan tenang. "Gue rasa di dunia pararel, kita udah bahagia bareng ya, Bi?" Bio berniat untuk melepaskan Kylie yang tengah memeluknya karena omongannya yang mulai melantur, tetapi di cegah terlebih dahulu olehnya.

"Hari ini hari terakhir gue ketemu lo. Tunggu bentar sampe waktu belajar gue selesai, baru setelah itu... silahkan lo pergi."

Mereka berdua malam itu saling berpelukan dalam hening. Kylie sibuk mengatur pikirannya yang memikirkan yang tidak-tidak. Gimana kalo dia sama cewek lain? Gue iklas nggak? Terus berulang kali hingga matanya mulai berat dan terpejam karena kantuk. Sedangkan Bio, tak ada yang tahu apa yang cowok pintar pikirkan saat ini sampai kapanpun. Bio hanya membiarkan Kylie memeluk pinggangnya erat dengan kepala yang bertumpu di dadanya.

×××

Panas matahari menyilaukan matanya yang kini mulai panas. Matanya terbuka sedikit memastikan pukul berapa sekarang melalu ponsel. Pukul setengah delapan lebih. Seusai ujian siswa-siswi kelas dua belas di perbolehkan untuk tidak masuk sambil menunggu pengumuman kelulusan di rumah masing-masing, juga pemberian ijasah. Maka dari itu ia bebas setiap pagi mau bangun pukul berapa pun tak jadi masalah.

Selimutnya ia singkap hingga kedua kaki jenjang Kylie terlihat. Sambil mata tertutup, kakinya menuntun tubuhnya berjalan menuju dapur menghampiri kulkas untuknya mengambil minum segelas air putih.

Tunggu.

Rasa kantuknya hilang dalam sekejap menguap entah kemana saat dirinya tersadar sesuatu. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan mengecek sesuatu yang janggal. Sekelebat ingatan tentang tadi malam muncul secara acak di kepala Kylie tanpa satupun ia pahami di mulai dari mana. Seingatnya, mereka berdua sedang les untuk ujian masuk universitas kan?

"Hari ini hari terakhir gue ketemu lo. Tunggu bentar sampe waktu belajar gue selesai, baru setelah itu... silahkan lo pergi."

Kylie menepuk jidatnya keras. "Gue... Bio..." Kakinya mendadak lemas. Punggungnya bertumpuan di dinding apartemen yang dingin dengan tubuh merosot ke bawah. "Udah pergi..." Ia menangis dalam sendiri di ruangan luas itu. Sesuatu menoel bahu kirinya beberapa kali.

"Bio!" Pekiknya saat melihat yang menoel bahu Kylie. "Lo kok nggak pergi?"

"Ngapain lo nangis pagi-pagi? Lo ngusir gue?" Tanya Bio agak tersinggung dengan pertanyaan Kylie. Cowok itu menaruh kantung plastik berisi belanjaan di atas meja dapur dan mengeluarkannya satu persatu.

Kylie menggeleng cepat. "Seharusnya lo kan udah pulang dari semalem? Kok masih di sini? Lo abis dari mana?" Sekalipun Kylie masih syok dengan adanya Bio di apartemen miliknya, tanpa sadar tangannya membantu Bio memberikan bahan-bahan makanan agar di masukan ke dalam kulkas.

"Satu-satu tanyanya!"

Kylie memutar bola matanya cuek. "Lo abis dari mana?"

"Belanja." Jawab Bio singkat berbalik menghadap kompor untuk membuat telur omelette.

Kylie mengekori Bio, berdiri tepat di samping cowok tinggi itu memperhatikan tangannya yang bergerak dengan cepat membuat sarapan pagi. "Lo kan harusnya udah pulang dari semalem? Kok masih di sini?"

"Satu-satu." Cangkang telur di lemparkan ke dalam bak sampah kecil di seberangnya dan masuk dengan mudahnya. Nggak heran sih, Bio anak basket sekolah.

Sekali lagi Kylie harus sabar menghadapi Bio yang susah. "Lo kan harusnya udah pulang dari semalem?"

"Mmm... Harusnya."

"Kenapa masih di sini?" Kylie menyerahkan dua piring kepada Bio yang sedang mencari-cari benda itu di bufet-bufet atas kepalanya.

"Karena lo nggak bolehin gue pergi."

"Tapi kan gue udah bilang setelah jam les selesai lo boleh pergi." Jawab Kylie cepat tak terima. "Lagian biasanya juga gitu, gue bilang lo pergi juga lo langsung pergi." Kylie bergumam tak jelas sembari duduk di depan meja makan, berhadapan dengan Bio.

"Gue denger itu."

Kylie tak menjawab melainkan mengunyah omelette miliknya. "Gue juga nggak apa-apa lo tinggal."

"Alah, gue tinggal bentar aja lo langsung mewek bombay kaya tadi." Cibir Bio tangannya sambil menuangkan saus sambal di piring.

"Bodo amat! Bio, lo tidur mana semalem?" Dagu laki-laki itu menunjuk sofa empuk Kylie. "Terus gue?" Sekali lagi dagunya diarahkan ke sofa itu. "Oh... HAH?! Gue... sama lo..."

"Kalo pikiran lo sama gue sama, jawabannya iya." Dengan entengnya Bio menjawab sambil mengunyah pelan sarapannya. Hal pertama yang muncul di otak Kylie, membuat kedua tangannya secara otomatis menutupi kedua dadanya rapat-rapat menatap Bio dengan waspada.

×××

TBC.

Mine.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang