25-QUIT

2.5K 99 2
                                        

You're my favourite hello and my hardest good bye.
-Kylie Lee

#########

Dua setengah tahun berlalu. Kylie sudah sangat-sangat jarang bertemu dengan cowok itu. Ia juga tak pernah mengunjungi Tante Nadia sejak hari dimana Papa mengakui keberadaan Bio sebagai saudara tirinya. Informasi terakhir yang tak sengaja ia dengar dari teman-teman seangkatannya, Bio mengikuti kelas aselerasi yang mana kelas tersebut adalah untuk mempercepat masa kuliah mereka. Alias mereka bisa lebih cepat lulus dan siap untuk bekerja. Sudah jelas kelas tersebut siap bersaing dengan mahasiswa-mahasiswi terpintar yang Binus punya. Sebulan lagi, anak-anak tersebut akan lulus. Tepatnya kelas aselerasi hanya melaksanakan kuliah selama dua setengah tahun saja.

Sedangkan Kylie dan dua temannya, juga Dave masih harus menempuh kuliah mereka satu setengah tahun lagi agar mendapat gelar sarjana di masing-masing bidang yang mereka masuki. Selama dua setengah tahun ke belakang juga, Dave dan Kylie selalu bersama. Ke kantin, kelas, berangkat kuliah, pulang kuliah, makan siang, makan malam. Mereka benar-benar melakukan rutinitas bersamaan.

Sarah, sudah ada kemajuan jauh dari sebelumnya. Sahabat Kylie tersebut sudah tidak lagi selalu bersikap kekanak-kanakan meskipun terkadang suka kumat. Ia sudah sepenuhnya melupakan Dave dan menggantinya dengan seorang cowok tampan di kelasnya. Yosua Namanya. Mereka berpacaran setahun yang lalu. Stefy, teman pendiamnya itu juga sudah ada kemajuan. Ia banyak mengikuti komunitas yang sebenarnya Kylie juga gak seberapa paham karena saking banyaknya Stefy join.

Siang itu mereka berempat-Kylie, Sarah, Stefy, Dave-sedang lengkap untuk makan siang bersama di kantin kampus. Jarang sekali mereka mempunyai waktu yang tepat untuk sekedar berkumpul bersama karena kelas jurusan yang berbeda.

"Yosua mana, Sar? Tumben nggak berdua?" Tanya Stefy setelah meneguk minuman air mineralnya.

"Dia lagi ngerjain tugas kelompok." Jawabnya dengan mengunyah kerupuk kulit favoritnya di kampus.

Kylie meraih botol Stefy dan meneguknya hingga tersisa sepertiga botol saja tanpa seijin pemiliknya. "Minta, Stef. Haus." Ijinnya setelah selesai minum.

"Gak tahu diri." Olok Stefy sedikit bergumam.

Mereka berempat lalu berbincang-bincang santai di selingi tawa khas masing-masing dari mereka. Kylie benar-benar merindukan kedua sahabat karibnya itu yang kini sudah mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sikap Sarah yang jahil, ceplas-ceplos saat bicara, sikap Stefy yang lebih dewasa dan tenang dari antara mereka bertiga. Semuanya terasa sangat pas saat ketiganya bertemu satu sama lain seperti ini, dari pada harus bertemu di room chat mereka. Meskipun tetap sama saja ramainya, tetapi Kylie lebih senang jika saling bertatap muka seperti sekarang.

Mata Sarah tidak sengaja menangkap bayangan sosok pria yang baru saja berjalan masuk ke kantin, sedang bersama dengan gerombolannya.

"Kenapa, Sar?" Kylie kemudian refleks menoleh ke balik punggungnya sendiri. Bio... Sebutnya dalam hati. Matanya tercekat melihat siapa yang di pandangi Sarah sejak tadi. Buru-buru ia menghadap ke depan lagi, bersikap sewajarnya saja. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

"Masih diem-dieman, Kay?" Tanya Stefy memelankan suaranya.

"Emang kenapa harus diem-dieman?" Tanya cewek itu sembari tertawa kecil awkward.

"Kalian udah nerima keadaan masing-masing?" Tanya Sarah.

"Kenapa harus di tolak kalo udah di takdirin begitu?" Lagi-lagi Kylie menutupi sedikit kesedihannya dengan tertawa kecil. Menampilkan semuanya baik-baik saja. Emang gue baik-baik aja kok.

"Sok tegar." Celetuk Sarah kemudian.

"Gue ke toilet bentar deh. Kebelet beser." Pamitnya buru-buru. Upaya untuk menghindari sergapan teman-temannya tentang Bio. Terlebih dirinya hanya ingin menjaga perasaan Dave yang tadi langsung bungkam saat tahu Bio ada di kantin.

Sesampainya di dalam toilet, ia membasuh wajahnya beberapa kali untuk merileksasikan hatinya yang sedikit nyeri juga pikirannya yang tak menentu. Ia benar-benar memisahkan bayangan orang-orang di masa lalu dan kehadiran orang-orang di masa sekarang sebelum perasaannya sendiri yang kacau balau. Setidaknya, biarkan urusan personalnya dengan bayangan Bio yang kadang menghantui pikiran Kylie, ia tuntaskan terlebih dahulu. Baru setelah itu ia bangkit bersama dengan orang-orang di masa sekarang. Dirinya harus mengubur semuanya di masa lalu untuk kedamaian hidupnya di masa sekarang.

Setelah pikirannya tenang, ia memutuskan untuk keluar dari toilet dan kembali ke kantin. Namun sesaat setelah kakinya berjalan satu langkah, ia menabrak seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapannya, setelah bersandar di balik tembok. Membuat Kylie terjatuh ke lantai lumayan keras. Ia mendapati sebuah uluran tangan di depan wajahnya, berniat untuk membantunya berdiri.

"Ngapain lo?" Kylie segera berdiri sendiri tak menggubris uluran tangan itu saat melihat orang tersebut adalah Bio. Ia segera berlalu meninggalkannya. Lebih tepatnya mungkin menghindari Bio.

"Setelah lulus, gue pergi ke luar negeri sama nyokap." Kylie menghentikan langkah kakinya. Tak berbalik, masih di posisi yang sama, saling memunggungi. "Ke Amerika."

Kylie tertawa kecil bersamaan dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca. "Silahkan." Ucapnya lantang.

Ia mendengar Bio menghela nafas berat. Tanpa sadar, dirinya pun mengkuti helaan nafasnya yang berat. Terlalu berat baginya untuk jauh dari Bio. "Gue akan hidup disana selamanya." Tambah Bio setelah sepersekian detik saling diam.

"Sounds good, dude." Suara Kylie agak bergetar saat mengatakannya.

"Demi kebaikan kita berdua," Kata laki-laki itu merendahkan intonasi suaranya sendiri. "dan keluarga." Air mata Kylie mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya. Hidungnya menjadi memerah karena tangisannya yang di tahan. Efek samping itu pula, tenggorokannya menjadi sangat perih sekalipun itu untuk menelan ludah. "Hiduplah dengan tenang, Kay. Jangan bandel." Ia memberi jeda lagi-lagi dengan helaan nafas berat. "Adek gue gak boleh bandel." Tambah laki-laki tersebut. "See you next time..."

Kerongkongan Kylie di rasa semakin perih saat tangisannya yang sudah di tak kuat ditahannya. Tapi bagaimanapun itu, ia hanya bisa membungkam mulutnya dengan telapak tangannya sendiri agar Bio tak bisa mendengar tangisan pilunya. Ini terlalu menyakitkan untuk di lewati seorang diri nantinya. Apalagi Bio. Laki-laki itu akan pergi dari kehidupan Kylie untuk selamanya. Seharusnya akan membuatnya jauh lebih mudah untuk melupakan Bio. Indera pendengarannya mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Sekilas menoleh ke sampingnya memastikan cowok itu sudah pergi, tangisnya baru pecah kemudian.

Kakinya tak lagi mampu menopang beban tubuhnya sendiri, hingga dirinya terjatuh ke lantai kembali sambil menangis pilu. Ia berpikir kemarin-kemarin dirinya sudah tak terlalu menghiraukan Bio, sudah tak memiliki perasaan apapun, mengira akan kuat apapun kemungkinan besar bisa terjadi antara mereka berdua, mengira dengan adanya orang baru sosok yang lama akan terlupakan dengan sendirinya. Namun nyatanya tidak. Semua masih sama. Sekalipun kenyamanannya sudah bersama dengan orang lain, nyatanya sosok yang lama masih belum pergi. Masih di tempat yang sama. Dan untuk orang yang sama. Semuanya memang sudah lewat dan sudah berbeda. Tapi hati Kylie masih tetap sama. Masih memperdulikan sosok kakak tirinya. Semuanya masih masih.

Lo bisa ngelupain gue, Bi? Tanya Kylie dalam hati merasa sangat menyedihkan. Orang paling menyedihkan.

×××

Tbc.

Mine.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang