"Pa, Bio mau ke Amerika. Papa nggak anter?" Kylie sedang menelepon Papanya siang itu. Kedua kakinya berayun-ayun dengan bebas ke sisi ranjang.
"Papa udah bilang nggak bisa anter ke Bio. Soalnya ada meeting di kantor. Kamu aja ya yang wakilin Papa." Kata beliau. Terdengar suara kerasak-kerusuk lembaran yang sedang di bolak-balik dengan gerakan cepat.
Cewek itu akhir-akhir ini sangat sering sekali menghela nafas berat. "Mama?"
"Wakilin Mama juga ya." Tambah beliau lalu.
"Iya." Ia memutuskan sambungan secara sepihak. Ponselnya ia lempar ke kasur dengan bebas. Sedang dirinya berbaring menatap langit-langit kamarnya.
Sudah beberapa hari Kylie tak masuk kuliah lantaran dirinya malas. Percuma juga. Toh jikalau dirinya masuk pun, nggak bakalan ada Sarah, Stefy juga Dave kaya biasanya. Ponselnya pun sama sekali tak ada notifikasi dari mereka bertiga. Ia sangat di asingkan.
Ponselnya yang jauh dari jangkauan kembali berdering keras. Suara alarm jam, untuk mengingatkan Kylie agar segera bersiap-siap menuju bandara. Siang ini Bio dan tante Nadia akan berangkat ke Amerika. Ia bangkit dari tidur dengan gerakan lambat menuju ke balik pintu mengambil celana jeans belelnya. Hanya mengenakan kaus oblong dan celana jeans yang terlihat sudah bulukan. Tak lupa tas kecilnya yang hanya muat berisikan hape, kontak mobil, juga beberapa lembar uang saja. Kali ini dirinya benar-benar malas melakukan aktivitas di luar ruangan.
"Haduh!" Gumam Kylie saat mendengar benda kecilnya berdering keras lagi. Telepon dari Bio. "Apa, Bi?"
"Lo dimana?"
"Mau otw nih." Katanya dengan mengapit ponselnya di antara bahunya dan telinga sementara kedua tangannya sibuk mengunci pintu apartnya. Ia melangkah lebar-lebar menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai basement.
"Cepetan, Kay. Udah jam berapa ini? Di jalan ntar macet." Bio mengomel dari seberang telepon.
"Ya ampun ini gue udah di mobil, Bio. Sabar. Pasti ketemu gue kok. Nggak bakalan enggak." Kata Kylie sambil menahan emosi karena ia hampir saja menyerempet pengendara motor. Jelas karena sibuk konsen dengan si penelepon. Bukan konsen dengan jalanan di depan.
"Sampe dimana?"
"Masih di lampu merah deket apart gue. Lo tunggu aja deh. Gue mau nyetir."
"Ya udah ati-ati. Jangan ngebut, Kay." Suaranya melembut saat mengucapkan membuat perasaan Kylie jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Ya udah. Bye." Ponselnya ia taruh di tempat duduk sampingnya. Ia memfokuskan pandangan ke arah jalan. Hari ini hari Kamis, sekitar pukul dua siang. Jalanan masih sedikit lebih lengang daripada nanti pukul tiga sore. Waktunya jam menjelang pulang kantor.
Kylie menginjak pedal mobil dalam. Melajukan mobilnya kencang karena kebetulan sekali jalanan tidak seramai biasanya. Hanya butuh kira-kira tiga puluh menitan, dirinya telah tiba di tempat tujuan. Ia merogoh tas untuk mengambil ponselnya, segera menghubungi Bio.
"Halo, Bi. Lo dimana? Gue udah sampe—tunggu! Tunggu gue!" Kylie mematikan telepon dan berlari menuju ke tempat tunggu secepat kilat. Matanya melihat Bio yang menjulang tinggi di antara kerumunan banyak orang saat itu.
"Kay!" Panggil cowok itu terdengar samar di telinga Kylie, sedang melambaikan tangannya beberapa kali.
Kylie berlari ke arahnya kencang dan bertabrakan dengan tubuh Bio yang khas dengan bau parfumnya. Memeluknya sangat erat, menghirup aroma tubuh Bio dalam-dalam. Di balik punggungnya, Kylie menyapa Tante Nadia yang sedang duduk manis memperhatikan keduanya sekilas dengan lambaian tangan beberapa kali.
"Kay. Jangan nakal ya disini." Bisik Bio sambil mengelus lembut puncak kepala Kylie.
Ia mengangguk. "Gue bakalan kangen lo, Bi. Kenapa harus Amerika? Kenapa nggak disini aja?"
Laki-laki itu diam tak menjawab langsung. "Kalo gue tetep disini, bukan cuma gue yang sakit. Tapi lo, sama orang-orang di sekitar kita juga akan sakit. Kita nggak bisa egois, Kay."
Kylie melepas pelukannya. "Tapi..."
Kedua telapak tangannya di taruh di pipi Kylie. Mengarahkan pandangan matanya lurus ke mata Bio. "Hidup bahagia ya. Gue bakalan baik-baik aja. Lo bisa ngelewatin semua ini bareng Dave." Ucap lelaki tersebut dengan yakin.
Hidung Kylie seketika memerah dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Gue... Sarah, Stefy, Dave, kita udah nggak bareng lagi. Gue..."
"Kenapa?"
Air matanya telah membasahi pipinya. "Gue udah nggak sama Dave lagi. Gue sedih karena lo pergi, sama gue sedih karena mereka pergi juga."
"Karena Dave termasuk nggak?" Kylie terdiam, tak mengerti jawaban apa yang paling tepat untuk pertanyaan itu. "Lupain gue. Lo pantes dapetin yang lebih baik dari gue, Kay. Gue ngerestuin kalian berdua. Tolong, kalo lo nggak mau ngecewain gue, jangan buat doa restu gue terbuang sia-sia." Ucap Bio bersungguh-sungguh. "Gue masuk dulu ya." Ia memeluk saudara tirinya hangat kembali.
"Jangan pergi, Bi." Kylie memohon dengan suara pelan di dada Bio.
"Gue sayang lo, Kylie." Kemudian Bio melepas pelukan mereka berdua. Jemari keduanya saling menahan satu sama lain, seakan tak ingin salah satu dari mereka saling berjauhan. Namun tetap saja mau tak mau Bio dan Kylie harus berpisah. Perlahan tangan mereka terlepas. Bio dan Tante Nadia masuk ke dalam untuk pengecekan tiket.
Disana tersisa Kylie yang masih menatap bayangan samar Bio dengan tatapan gamang. Ia berbalik arah untuk kembali pulang ke tempat tinggalnya. Mengurung diri beberapa hari kembali disana. Menambah buruk suasana hati juga keadaannya. Ia menghela nafas sambil terus menunduk menatap ujung-ujung sepatu ketsnya yang melangkah saling mendahului. Kylie sama sekali tak melihat jalan di depannya, menyebabkan dirinya menabrak seseorang yang sedang berdiri di depan Kylie.
"Sori, sori." Ia mendongak menatap orang tersebut. "Dave..." Laki-laki itu masih diam mematung disana. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantung celana yang dipakainya saat ini. Jarak keduanya lumayan dekat, namun merasa sangat jauh satu sama lain. Terutama bagi Dave. Kylie terasa sangat jauh di ujung sana. "Kamu ngapain disini?" Tanya Kylie memulai percakapan.
"Apa kabar?" Pria itu tak menghiraukan pertanyaan Kylie. Di antara mereka berdua, jantung yang paling berdebar adalah Dave. Seperti ingin melompat keluar saat mereka berdua kembali bertemu. Perasaan yang semua sedih tak keruan, mendadak berubah menjadi senang. Apalagi Dave dan Kylie bisa saling bertatap muka seintens sekarang.
Cewek itu menunjukkan jajaran giginya yang rapi. Menandakan dirinya baik-baik saja. Lebih tepatnya berusaha memperlihatkan dirinya tidak terjadi apa-apa sebelum ini. Namun, Dave yang sudah mengetahui semua tentang Kylie tidak bisa di bodohi dengan cengingirannya. "Baik. Kamu?"
"As you can see." Jawabnya terlihat acuh. Lebih tepatnya berlagak sok cuek. Ia mengacuhkan Kylie seperti pertemuan terakhir mereka berdua.
Kepala Kylie manggut-manggut mengerti. "Duluan ya." Pamitnya segera, merasa situasi mendadak jadi canggung satu sama lain. Ia berlalu dari hadapan Dave cepat. Tetapi sebelah tangannya di tarik ke belakang. Kylie berbalik lagi menatap Dave.
"Mau kemana?" Tanya cowok itu menatap langsung ke dalam manik matanya. Tidak bisa di pungkiri bahwa dadanya saat ini sangat sesak. Walaupun sebagian perasaan Dave bermood baik, tak bisa di pungkiri juga sebagian yang lainnya merasa sakit yang tak bisa di jelaskan. Teringat kejadian Bio dan Kylie saling berpelukan.
"Pulang." Dave sangat ingin memeluk tubuh mungil Kylie. Memeluknya erat, terlampau sangat erat karena telah merindukannya setengah mati. Apa lo baik-baik aja tanpa gue, Kay?
×××
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine.
Romance[COMPLETE] "Kenapa sih harus cewek duluan yang ngejar cowok?" -Kylie Lee, cewek hyperactive yang lagi jatuh cinta. "Gue nggak minta lo ngejar gue." -Bio Niagarawan. Kylie yang sedang jatuh cinta dengan Bio, teman seangkatannya di SMA, dengan begitu...
