Twenty three (REVISI)

725 21 0
                                        




Happy reading....


💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻


Pagi ini Silvy kembali bersekolah— setelah 3 hari ia tidak masuk sekolah.

Silvy melangkah menuruni tangga rumahnya langkah demi langkah.

"Pa- loh kok lo ada disini Ka?" Takas Silvy langsung pada Raka.

Raka yang sedang berbincang dengan Malik pun menoleh saat mendengar suara Silvy.

"Lo kok disini Ka? Lo tau dari mana kalo gue hari ini mulai masuk sekolah?" Tanya Silvy terus pada Raka.

Silvy bingung kenapa Raka sudah ada dirumahnya sekarang. Padahal Silvy tidak memberitahu siapapun, kalo dia hari ini kembali sekolah.

"Gue tahu dari nyokap lo kok" kata Raka seraya tersenyum pada Siska.

Silvy menoleh ke arah Siska. Siska yang tahu apa maksud Silvy menoleh padanya.

"Mama ngga mau kamu kenapa napa dijalan sayang, jadi mama minta nak Raka untuk jagain kamu sementara ya"

"Silvy bukan anak kecil kali ma yang harus djagain terus"

"Kali ini aja kamu nurut mama sayang" pinta Siska dengan lembut.

"Iya ma iya, Silvy nurut apa kata mama" ngalah Silvy. Siska tersenyum melihat Silvy yang menurut padanya. Siska harus melakukan satu hal, untuk Silvy tidak terlihat sedih lagi. Yang hanya bisa membantu Siska sekarang hanya Raka. Karna tak ada lagi selain Raka orang yang tepat untuk membantunya saat ini.

"Labil banget sih lo, bilang aja lo mau dijagain sama kak Raka. Sok jual mahal banget" gumam Sila— namun masih bisa didengar oleh Silvy.

"Sensi mulu sih lo sama gue, gue punya masalah sama lo?" Tanya Silvy dengan nada ketus.

Sila hanya memutarkan kedua bola matanya malas.

"Nak Raka, untuk sementara ini jagain putri tante ya." Pinta Siska lembut dengan Raka.

Raka tersenyum pada Siska.

"Iya tante saya bakal jagain Silvy kok, sebelum tante nyuruh saya untuk jagain Silvy. Saya udah ngejaga dia terlebih dulu kok tan"

"O ya? Kok tante ngga tahu sih tentang kamu dan Silvy" heboh Siska sendiri di meja makan.

"Diantara aku dan Raka ngga ada apa apa ma, oh ya lo udah siap kan Ka? Yuk buru berangkat ntar telat"

Silvy langsung bangkit dari kursi, ia menyalami kedua tangan orang tua-nya. Lalu ia berjalan lebih dulu kedepan dan meninggalkan Raka yang masih di meja makan.

Siska dan Maluk hanya menggelengkan kepala bersama. Ntahlah, mereka hanya butuh waktu untuk mengembalikan semuanya.

"Tante Raka pamit dulu ya"

"Eh iya nak, maafin sifat Silvy barusan ya"

"Iya tante ngga papa kok, udah maklum" kata Raka dan berjalan menyusul Silvy.

💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻

"Sekarang keadaan lo gimana Sil? Udah mendingan?" Tanya Raka memecahkan keheningan di dalam mobil.

"Udah mendingan kok Ka"

"Bagus dong, lo kenapa bisa sakit kayak kemarin sih? Pasti lo kebanyakan nangiskan, makanya lo sakit." Tebak Raka

"Ngga usah sok tau" ketus Silvy pada Raka.

Sekarang mood Silvy sedang buruk, namun Raka tidak menyadarinya. Raka terus bertanya dan berceloteh ngga jelas pada Silvy. Kuping Silvy serasa mau ia tutup karna mendengar celotehan Raka.

"Ka makasih" ucapa Silvy dan langsung turun dari mobil Raka.

"Sam-" belum sempat lagi Raka membalas ucapan terimakasih Silvy, Silvy sudah menutup pintu mobilnya.

Sabar Ka, sabar. Lo pasti bisa kok.

Raka menghela napasnya, lalu ia turun dari mobilnya.

Raka berjalan memasuki koridor sekolah, ia masih bisa melihat Silvy yang tengah berjalan sendiri disana. Namun ia tidak mau menghampiri gadis itu, ia hanya mengikuti Silvy dari kejauhan saja dengan Silvy sekarang.

Raka terus mengikuti Silvy dari kejauhan. Raka mengkerutkan dahinya. Ia bingung dengan arah jalan Silvy sekarang. Silvy bukan berjalan menuju kelas, melainkan sekarang berjalan menuju rooftop. Meski begitu, Raka terus mengikuti Silvy dari belakang.

Kini Silvy duduk dikursi yang sering diduduki anak-anak bandal saat bolos jam pelajaran. Ia memandangi bangunan bangunan kota kelahirannya dari atas gedung sekolah ini dengan luas.

"Kalo mau ikut duduk, duduk aja. Ngga usah berdiri disana. Ntar lo pendarahan" ketus Silvy dengan orang yang tidak jauh jaraknya dengan ia duduk sekarang.

Silvy tahu orang itu Raka. Silvy juga tahu kalo sedari tadi Raka mengikutinya. Tapi Silvy membiarkannya untuk mengikutinya.

Raka tersentak, namun dengan cepat ia menetralkan kembali wajah nya. Ia berjalan pada Silvy, lalu ia duduk di samping kiri.

"Resek lo, masa lo doain gue pendarahan sih. Parah lo ah jadi temen" ucap Raka bercanda. Namun hanya di balas dengan acuhan kedua bahu Silvy.

"Lo kok kesini sih? Lo mau bolos? Kalo mau bolos kenapa mau niat sekolah tadi. Kan gue bisa anterin lo ketempat yang lo mau"

"Sukak gue lah mau bolos dimana, urusan gue juga" ketus Silvy

"Ya tapikan kalo disekolah ngga asik Sil, ntar kalo ketahuan guru, masuk Bk, panggil orangtua. Ribet banget"

"Peduli amat gue yang begitu, gue bayar kok disekolah" ucap Silvy enteng.

"Ye lu mah dibilangin songong. Gue juga bayar kali disini" balas Raka tak mau kalah.

"Yauda kalo gitu kita sama"

Raka terdiam. Ia menahan kesal pada Silvy sekarang. Hari ini Silvy sangat mengujinya.

Silvy menoleh kesamping kirinya, ia melihat wajah Raka yang sedang merah. Ia tahu Raka sedang menahan kesal karna ulahnya barusan.

Silvy terus menahan tawa untuk tidak keluar begitu saja. Tapi.

"Ahahahhahahaha" tawa Silvy pecah. Ia tak bisa menahan benteng yang ia buat. Karna melihat wajah Raka yang sedang menahan kesal itu.

"Kenapa lo ketawa? Kesambet setan rooftop lo?" Ceplos Raka.

"Eh.. Hah" Silvy berusaha meredakan tawanya.

"Bukan urusan lo" ucap Silvy setelah ia sudah menetralkan kemabali dirinya.

"Aneh banget sih lo!" Balas Raka.

Mereka terhanyut dalam keheningan dikeduanya. Raka tidak bisa dengan situasi seperti ini. Ia sudah mulai merasa bosan dan itu terlihat dari gelagat tubuhnya yang gelisah.

"Kenapa lo? Bosan?" Tanya Silvy.

"Ha? Eh, iya bosan gue."

"Kalo lo bosan balik gih lo sana ke kelas! Jangan disini."

"Tap... Tapi-"

"Ga usah tapi tapian deh Ka, kalo lo bisan lo bisa cabut dari sini! Gue juga lagi hutuh waktu sendiri!"

"Oke, gue pergi!"

Setelah pamit, Raka benar benar meninggalkan Silvy sendirian. Ia tidak ingin mengganggu gadis itu yang ingin waktu sendiri.

💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻

Vote + coment ya guys jangan lupa😊

Banna, where are you?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang