Twenty seven (REVISI)

913 23 0
                                        





Happy reading....

💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻

Silvy tak henti-hentinya tersenyum diatas kasurnya. Ia tidak bisa tidur saat ini, karna ia sedang menunggu matahari terbit menerangi bumi. Ia tidak sabar ingin bertemu kekasihnya yang sudah lama tidak ia jumpai. Silvy memandang frime yang ia pegang sekarang. Frime itu, berisakan foto Banna dan dirinya saat mereka liburan bersama di Bali. Di frime itu, Banna dan dirinya tersenyum bahagia. Tersenyum yang sangat sangat bahagia dengan yang sedang mereka lakukan disana.

Flashback on

"Sil, coba kamu liat bule yang disana deh" Banna menunjuk salah satu bule yang sedang menjemur dirinya dipinggiran pantai. Silvy melihat kearah tangan Banna menunjuk.

"Kenapa emang sama bule itu? Kan dia lagi nyantai tuh" sahut Silvy. Banna mendengus, ia memajukan bibirnya satu centi. Dan itu membuatnya terlihat sangat sangat menggemaskan.

Silvy melirik Banna yang kini tak ngoces lagi. Silvy tersenyum dalam hati saat melihat Banna memanyunkan bibirnya.

"Ngapain sih manyunin bibir gitu hm? Minta ditabok?" Silvy menyentil pipi Banna pelan. Banna menatap Silvy, lalu ia membuang mukannya kembali seperti semula. Dan masih sama, ia masih memanyunkan bibirnya. Silvy tersenyum sekarang, ia tak tahan melihat ekspresi wajah kekasihnya yang ia tak tahu kenapa.

"Kenapa sih cemberut gitu?" Tanya Silvy seraya mengelus pelan rambut Banna. Seperti seorang ibu yang sedang bertanya kenapa anaknya.
Banna semakin memanyunkan bibirnya. Dan itu menambah kadar kegemasan Silvy pada Banna menambah.

"Apaan sih, ditanya malah makin mayun gitu sih"

"Bodo" Jawab Banna ketus.

Cup!

Satu ciuman dipipi Banna. Silvy mencium Banna saat kekasihnya itu berbicara dengan nada ketus. Banna menatap Silvy sekarang. Lalu ia memicingkan matanya dan sedikit memdekatkan kepalanya pada Silvy.

"Mulai genit ya kamu sekarang" Silvy memundurkan wajah nya dari wajah Banna yang semakin memdekat padanya.

"Aku ngga genit" ucap Silvy enteng. Banna menaikkan alisnya satu.

"Jadi kalo ngga genit apa dong? Cium-cium pipi aku duluan hm?" Mata Silvy langsung melotot saat Banna berkata seperti itu. Ia berniat mencium Banna agar Banna tak lagi mendiamkan dirinya.Tapi malah ia dikatakan genit saat ini pada Banna. Ngga tau diuntung banget sih.

Silvy mendorong wajah Banna. "Mm.. Itu sih kategori ngga genit kalo sama pacar sendiri" Ucap Silvy seraya menatap Banna dengan lekat.

"Karna cium pacar sendiri itukan halal. Timbang aku nyium pacar orang wle" Silvy langsung lari saat ia berhasil membuat Banna yang kini semakin bete akan ucapannya. Banna mengejar Silvy. Mereka saling kejar mengejar saat ini. Lempar melempar pasir pantai. Tertawa bersama. Menikmati liburan bersama dengan indah.

Flashback off

Silvy melihat jam yang terletak di dinding kamarnya. Pukul 03.00 am. Sudah hampir pagi, namun Silvy belum juga menutup matanya untuk tidur. Ia terus tersenyum mengingat kembali masa masanya dengan kekasihnya dulu. Ia senang, akhirnya ia bisa kembali menemukan Banna.

Mata yang tadinya bengkak seperti panda, kini sudah mengempes, karna tadi Silvy mengompresnya dengan es batu. Karna ia berfikir, ia tidak mungkin bertemu dengan Banna dengan mata yang bengkak seperti panda. Sungguh. Ia sangat tidak ingin itu terjadi.

Banna, where are you?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang