"Sudah pulang?"
"Alex?! Kau mengejutkanku!"
Kayreen yang baru masuk ke dalam rumah itu berjenggit kaget karena ulah kakaknya. Memang seharusnya ia tidak terkejut bila dalam keadaan normal. Namun karena pikiran Kayreen tidak fokus, jadilah ia terkejut hanya karena mendengar perkataan Alex yang sebenarnya tidak terlalu keras.
"Kenapa terkejut? Aku tidak berteriak," tanya Alex terheran. Ia berjalan mendekati Kayreen, menelisik pada wajah adiknya itu yang nampak sedikit berbeda. Apalagi ditambah dengan Kayreen yang tadi melamun saat memasuki rumah, membuat Alex yakin bahwa telah terjadi sesuatu.
"Mm, a-aku itu, aku mengantuk. Aku mau tidur," ucap Kayreen dengan menundukkan kepalanya. Berharap Alex tak menyadari suatu perubahan yang terjadi padanya.
"Kau menangis?"
Ternyata Kayreen salah. Alex menyadarinya. Bagaimanapun juga, Alex adalah kakaknya yang selama ini mendampinginya. Tak mungkin Alex kesulitan menangkap kenyataan bahwa Kayreen baru saja menangis.
"Ti-tidak. Ini hanya, ini tadi aku, maksudku mataku kelilipan. Ya, kelilipan. Kau tau, ada hewan yang tadi masuk ke mataku," ucap Kayreen cepat, "Alex, sepertinya aku belum mematikan lampu belajarku, sudah ya. Aku mau ke kamar dulu,"
Setelahnya, Kayreen melangkah cepat menghindari pertanyaan-pertanyaan Alex. Ia tak mau Alex mengetahuinya kalau ia habis menangis. Kalau sampai Alex mengetahuinya, maka Kayreen akan diinterogasi bak terpidana korupsi selama berjam-jam. Dan itu adalah mimpi buruk bagi Kayreen.
Sedangkan Alex menatap kepergian Kayreen dengan pandangan heran. Alex tahu betul kalau Kayreen menyembunyikan sesuatu. Dan, Alex juga tahu kalau Kayreen habis menangis.
Alex tersadar sesuatu. Kayreen tidak memakai baju yang ia belikan. Padahal, Kayreen berkata akan memakai baju yang Alex belikan malam ini untuk makan malam bersama Justin. Dan lagi, bila Kayreen memang benar makan malam bersama Justin, kenapa Justin tidak mengantarnya pulang?
Pasti terjadi sesuatu, batin Alex.
***
Justin keluar dari restoran dengan Gloria di sampingnya.
"Ternyata kau tak seburuk yang kukira," kata Justin seraya terkekeh pelan.
"Kau juga ternyata tak sebrengsek yang kukira," jawab Gloria.
Keduanya lalu tertawa. Setelah makan malam tak teduga mereka barusan, Justin dan Gloria terlihat lebih baik, dan sedikit terlihat akrab. Bukan apa-apa, itu karena keduanya yang saling meminta maaf dan mencoba untuk menjalin hubungan sebagai teman, dan meruntuhkan benteng sebagai musuh diantara mereka. Tak hanya itu, Justin sekarang juga mengetahui bahwa ayah Gloria adalah rekan kerja ayahnya. Berbeda dengan Gloria yang memang sudah tau bahwa ayahnya dan ayah Justin rekan kerja. Namun dengan tujuan tertentu, Gloria mengatakan kalau dia juga baru saja mengetahui.
"Kau akan pulang, Justin?" tanya Gloria.
"Ya--"
Ucapan Justin seketika terhenti saat melihat sesuatu di trotoar dekat pintu restoran. Ia kemudian berjalan mendekati benda itu. Tangannya kemudian meraih benda yang tak lain adalah sebuah kalung itu. Justin memerhatikan setiap bagian dari kalung itu. Ia kemudian menyadari bahwa kalung itu memiliki sebuah ukiran nama, lebih tepatnya sama seperti namanya. Entah apa yang membuatnya tertarik, Justin kemudian menyimpan kalung itu ke saku celananya.
"Apa itu?" tanya Gloria yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
"Bukan apa-apa," kata Justin, "ayo pulang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Complicated (JB)
FanfictionHidup ini sangat rumit. Lalu, siapa yang akan kau salahkan dari kerumitan ini? Dan, bagaimana bila kau sendiri yang menyebabkan kerumitan itu?
