20. Never let you go

448 36 6
                                        

"Justin? Kay--?"

"Maaf membuat Kayreen menangis dan tertidur, Alex. Tapi, bisakah kau menyingkir sebentar?" ucap Justin membuat Alex sedikit menyingkir, memberi jalan pada Justin yang saat ini tengah menggendong Kayreen.

Justin berjalan membuntuti Alex menuju kamar milik Kayreen. Justin masuk ke kamar Kayreen setelah Alex membukakan pintunya. Setelahnya, Justin membaringkan Kayreen di atas tempat tidur. Keduanya lalu keluar setelah Alex
menyelimuti tubuh Kayreen.

"Kau memberitahu Kayreen kalau kau sudah tau semuanya?" tanya Alex sambil menutup pintu kamar Kayreen.

"Ya.." jawab Justin, "dan, kukira semuanya akan baik-baik saja... ternyata aku salah besar," lanjutnya dengan menunduk lesu.

"Sudah kukatakan, Kayreen sangat lemah akan masa lalunya. Seharusnya kau memberitahunya pelan-pelan,"

"Aku minta maaf,"

***

Kayreen terbangun dari tidurnya sambil memegang kepalanya yang mendadak pusing. Matanya mengerjap beberapa kali, menyesuaikan dengan pencahayaan disekitarnya. Kepalanya menoleh, melihat jam digital di atas nakas.

02:38

Haus. Satu kata itu yang saat ini Kayreen rasakan. Perlahan, kaki-kaki jenjang itu menapaki lantai dan berjalan keluar kamarnya, menuruni tangga, dan seketika terdiam ketika sudah melewati anak tangga terakhir.

Justin? Batin Kayreen tak percaya.

Terlihat jelas Justin tengah duduk membelakanginya di sofa dengan pandangan tepat pada televisi yang hanya menampilkan layar hitam di depannya.

Kayreen teringat sesuatu. Ya, dia baru saja pergi berjalan-jalan tadi dengan Justin. Dan... Justin mengetahui semuanya. Apakah semuanya akan berubah setelah ini? Apakah Justin akan meninggalkannya setelah ini? Dan banyak pertanyaan lainnya di benak Kayreen. Kayreen takut, sangat takut. Bagaimana bila semua ketakutannya menjadi kenyataan?

Sungguh, Kayreen tak mampu. Ia tak mampu lagi untuk merasakan sakit untuk yang kesekian kalinya. Mampu bangkit dari masa lalunya saja sudah menjadi suatu keajaiban bagi Kayreen. Namun ia tak tahu, apakah ia mampu untuk bangkit bila Justin benar-benar meninggalkannya setelah ini.

Namun, tiba-tiba Kayreen berpikir, apakah Justin akan malu memiliki kekasih sepertinya? Ah, tentu saja, batin Kayreen miris. Justin pasti malu menjadi kekasihnya yang sudah jelas-jelas memiliki masa lalu yang amat buruk.

Jika memang benar Justin merasa malu, maka tak ada lagi yang bisa Kayreen lakukan selain membiarkan Justin meninggalkannya. Oh, mungkin Justin merasa malu bila harus mengatakannya pada Kayreen. Maka, Kayreen yang akan pergi dan menjauh dari Justin. Tentang bagaimana perasaan Kayreen kedepannya, Kayreen tak peduli. Ia hanya ingin reputasi Justin tidak memburuk hanya karena dirinya.

Bila semua itu yang terbaik, maka akan Kayreen lakukan.

"Kay?"

Kaki Kayreen melangkah sekali kebelakang, terkejut mendengar suara yang membuatnya tersadar dari lamuanannya.

"Kenapa kau bangun? Apa yang kau rasakan sekarang? Apakah masih sakit? Kau sedikit demam tadi," Justin melangkah menghampiri Kayreen yang tengah mematung menatap setiap pergerakannya.

Justin mengangkat tangannya, menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi sebagian wajah manis Kayreen yang terlihat sedikit pucat, menyelipkannya kebelakang telinganya. Setelahnya, tangannya menangkup sebelah pipi Kayreen dengan lembut, lalu mengelus pipi Kayreen dengan ibu jarinya. Mulut Justin sedikit terbuka, hendak mengatakan sesuatu pada Kayreen.

Complicated (JB)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang