30. I'm your Boy!

416 43 34
                                        

Terbang tinggi, lantas dihempaskan. Sakit? Kata siapa? Berterima kasihlah pada yang telah menerbangkan, sebab beruntung bisa merasakan terbang tinggi. Namun, bila tanpa diterbangkan, lalu dihempaskan, itulah rasa sakit yang sebenarnya.

Ah, kalau begitu, tinggal terjun saja dari sini. Pikir Justin.

Ya, dari sini. Sini yang Justin maksud adalah atap gedung berlantai empat. Dengan begitu, ia bisa merasakan bagaimana rasanya terbang. Namun pikiran lain menyusupinya. Ya, kalau bisa sempat merasakan. Dengan gravitasi 9,8 m/s2 apalagi ditambah meluncur dari ketinggian yang hanya 16 meter, maka remuklah yang akan Justin dapatkan.

"Berniat bunuh diri?" tanya seseorang di belakangnya. Seorang perempuan. Sangat jelas dari suaranya. Namun, siapa perempuan yang mau memanjat ke atap di saat yang lain sibuk mengamati pertandingan basket yang nampak ramai di bawah sana?

"Gloria?" ucap Justin terkejut. Nampak tak percaya bahwa perempuan itu adalah Gloria. Dan, bagaimana Gloria bisa tahu ia ada di sini?

"Kenapa?" Gloria berjalan mendekati Justin yang berada tepat di pinggiran gedung. Mungkin dengan sedikit dorongan saja tubuh kekar Justin akan terjatuh. Namun entah kenapa, melihat Gloria mendekatinya, sama sekali tak tampak ketakutan atau semacamnya.

"Pergilah. Aku tak mau melihat siapapun, termasuk orang yang telah menghianati kekasihku!" usir Justin yang nampak terganggu dengan kehadiran Gloria. Niat Justin sebenarnya hanyalah untuk menyendiri. Namun  sekarang, rusak sudah semua angannya dengan kehadiran Gloria.

Gloria terkekeh pelan, "Kekasihmu yang mana? Yang baru saja memutuskanmu?"

Gloria tahu? Batin Justin. Tak mungkin secepat itu Gloria tahu ia dan Kayreen baru saja putus.

"Moon, Sun, and Star. Am I the Star?" tanya Gloria dengan tangan meraih lengan Justin, kemudian secepat kilat mendorong tubuh Justin.

"Gloria!" teriak Justin yang nampak hilang di telan hembusan angin.

Apakah Justin terjun ke bawah? Tidak. Tangan Gloria masih menggenggam lengan Justin. Sedang pijakan Justin sekarang hanyalah bibir gedung yang bila diukur, mungkin hanya beberapa senti meter. Hanya ujung sepatunya yang masih menapaki gedung. Tangan kanan Gloria masih setia pada lengan Justin, namun lama kelamaan semakin turun, seiring gravitasi yang menarik tubuh Justin. Sedang lengan kirinya memeluk erat tiang penyangga yang tepat berada di samping tubuh Gloria.

Tidak sia-sia aku berlatih tinju selama ini, batin Gloria puas.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Justin, geram sebab ulah Gloria yang tiba-tiba mendorongnya. Dan sekarang, dengan santainya tengah memainkan hidup dan mati Justin. "Cepat tarik aku!" perintah Justin kemudian.

Gloria menaikkan sebelah alisnya. "Ada syaratnya!" ucapnya.

"Ya Tuhan, cepat tarik aku! Atau aku akan jatuh!" perintah Justin lagi. Benar-benar tak habis pikir dengan Gloria.

"Semua tak ada yang gratis."

Justin mendengus, lantas kembali meneriakkan nama Gloria saat pegangan tangan Gloria kini semakin turun. Oh tidak.

"Katakan apa maumu!" kata Justin cepat.

"Be my boy!"

Justin terdiam. Gloria benar-benar licik. Namun, Justin bisa menjadi lebih licik dari pada Gloria. Justin menyeringai, "Tarik aku, atau aku yang akan menarikmu, lalu kau akan mati!"

Menurut perkiraan Justin, Gloria akan langsung menariknya. Namun sepertinya ia salah, karena Gloria hanya terdiam, malahan setelahnya terkekeh. "Kalau aku mati, itu sebuah kebahagiaan. Apalagi aku akan mati bersamamu. That must be so great!"

Complicated (JB)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang