Lathifa Callia Anindita

38.8K 3.4K 226
                                        

Tepat pukul 16.30 WIB, Rey sudah bersiap menghadap sang bos dengan laporan di tangannya. Bergegas dia menuju ruangan Bayu, lantas meminta sekretaris Bayu menyampaikan bahwa Rey ingin menemuinya setibanya di sana. Tidak butuh waktu lama untuk bisa menemui Bayu. Bos sekaligus mantan kakak tingkatnya di perguruan tinggi itu mempersilakan ketika sekretarisnya menyebut nama Rey. Hanya saja, urusan setelah itu tidak bisa secepat mendapat izin menemui Bayu.

"Pak ..." Rey yang selalu melihat ke arah jam tangannya setiap 5 detik sekali akhirnya mengintrupsi Bayu yang masih membaca laporannya. Bosnya itu memang kelewat teliti kalau menyangkut pekerjaan. Alhasil, karyawannya—termasuk Rey—harus menunggu lama untuk mendapat keputusan laporannya bisa diterima atau harus direvisi.

"Pak ...." Rey memanggil Bayu sekali lagi, karena lelaki itu tidak bereaksi.

"Hmm?"

"Kalau laporannya saya tinggal dulu, bagaimana? Biar Bapak lebih leluasa mengeceknya," usul Rey. Dalam hati, dia berharap Bayu menyetujui usulnya.

"Tapi, kan kamu tahu saya suka mengecek dan mengoreksi langsung," balas Bayu.

"Iya, Pak. Saya mengerti, tapi ...."

"Mau cepat-cepat pulang ke rumah?" tebak Bayu, membuat Rey meringis. "Ckk, dasar. Karena gue lagi baik hati, dan mengingat lo itu sobat gue, jadi gue ijinkan."

"Beneran, Pak?"

Bayu mengangguk. "Atau mau ditarik ijinnya?"

Rey segera menggeleng. Kesempatan emas, tidak boleh dilewatkan olehnya. "Jangan, Pak. Saya permisi dulu," pamit Rey segera meninggalkan ruangan Bayu.

Baru hendak menutup pintu ruangan Bayu, gerakan Rey terhenti karena panggilan dari bosnya itu. "Ya, Pak?"

"Salam buat Nilam. Juga anak lo, hmm ... siapa namanya?"

"Lathifa Callia Anindita."

Bayu menganggukkan kepala sambil menggerakkan jari telunjuknya. "Yah, si Latif."

"Thifa, Pak," Rey mengoreksi.

"Sama saja. Ada Latif-latifnya juga namanya," Bayu sama sekali tidak membenarkan panggilannya untuk anak Rey.

Rey hanya bisa mendesah pasrah. Tidak berani lagi mengoreksi sang bos. Semua demi keselamatan pekerjaannya, masa depannya, juga Thifa.

※※※

"Udah mau pulang, Rey?" tanya Dito melihat Rey sudah merapikan meja kerjanya.

"Iya, dong," jawab Rey dengan senyum lebar.

"Nanti dulu lah Rey, temenin gue lembur," pinta Dito.

Rey menggeleng dengan tegas. "Nggak ada lembur hari ini. Udah seminggu gue lembur, masa mau lembur lagi. Gue butuh quality time sama Thifa. Sorry, bro."

Dito mendengus tidak puas. "Ah, nggak setia kawan lo. Kemarin lembur aja, gue temenin."

"Gue kan nggak minta," Rey membalas. "Lagian lo kan emang menawarkan diri nemenin gue gegara Alena ngambek karena lo lupa sama hari ulang tahunnya."

Dito sudah merengut kembali diingatkan masalahnya dengan sang istri. Bukan salahnya juga kalau melupakan tanggal ulang tahun istrinya. Belakangan ini Dito sibuk. Kejar setoran karena anak keduanya sebentar lagi lahir.

"Udah, ya gue duluan," pamit Rey.

"Buru-buru amat, Rey," Dito mengomentari.

"Ini demi Thifa, Dit," kata Rey sambil berjalan menjauh. "Gue harus sempai rumah sebelum si buaya cilik datang."

(Un)PretendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang