Ada yang aneh dengan diri Mas Rey beberapa hari belakangan ini. Pertama, dia absen dari kebiasaan mengantar jemputku berangkat atau pulang kantor. Kedua, dia selalu mengabaikan ajakan makan siangku. Jika aku berinisiatif menghampiri Mas Rey ke kantornya, lelaki itu pasti sudah tidak ada di tempat. Membiarkanku mendapat senyuman penuh celaan dari Alivia—si resepsionis yang ku duga memendam perasaan pada kekasihku. Ketiga, tidak ada lagi pesan-pesan manis berlebihan yang dikirimkannya padaku. Bahkan sekadar mengirimi salam di pagi hari dan malam hari pun tidak dilakukan oleh Mas Rey.
Aku cukup memaklumi kondisi pertama dan kedua. Anggap saja Mas Rey memang sibuk mengurusi pekerjaannya. Namun, tidak untuk kondisi yang ketiga. Terlebih Mas Rey juga terang-terangan mengabaikan semua pesan yang ku kirimkan padanya. Sekalinya ku telepon, jawabannya selalu sama. "Maaf, Lam. Mas sibuk. Teleponnya nanti lagi, ya?"
Menelepon nanti lagi? Yah, aku melakukannya. Sayangnya, ponselnya tidak aktif. Membuatku selalu terhubung dengan layanan mail-box. Bukankah, dia terkesan menghindariku?
"Kucel amat mukanya dari kemarin?" tanya Farah sembari meletakkan nampan berisi burger, kentang goreng, ayam goreng, dan minuman bersoda ke meja.
Aku tidak segera menjawab pertanyaan Farah. Lebih memilih menjatuhkan perhatian pada makanan cepat saji yang terhidang di hadapanku. Aroma dari masing-masing makanan yang terhidang memenuhi penciumanku. Membuatku kalap mencomot kentang goreng sekaligus menggigit burger.
Aku mencintai makanan ini meski mengandung banyak lemak dan kolesterol jahat. Aku tidak mempedulikannya. Karena hanya lewat makanan inilah, aku mampu menyalurkan semua emosi yang ku pendam selama ini. Salah satunya, karena Mas Rey sengaja menghindarkku.
"Lam?" Farah berdecak melihatku yang makan dengan tidak cantik. "Lo doyan apa laper?"
"Dua-duanya," sahutku. Kali ini aku meletakkan burger yang sudah ku makan separuh. Giliran ayam goreng yang kini menjadi targetku. Baru saja menggigit ayam bagian dada itu, aku tersedak ketika penglihatanku menangkap sosok lelaki yang sangat ku kenali dari jendela kaca.
"Far ... hhuk ... it-hu Mas Rey, kan?" tunjukku setelah menyesap minuman bersodaku. Aku mengernyit tipis saat minuman itu melalui kerongkonganku. Sungguh, aku lebih membutuhkan air putih ketimbang minuman bersoda saat ini.
"Mana?" Farah menyipitkan mata. Kepalanya celingukan mencari sosok yang ku maksud. Namun Farah kurang cepat, karena sosok Mas Rey sudah menghilang. "Lo salah lihat kali," kata Farah.
"Nggak. Gue yakin banget kalau itu Mas Rey. Gue hafal bentuk punggungnya," kataku tak mau kalah. Yah, aku tidak akan pernah melupakan punggung templok-able yang ku gilai sejak SMA itu.
"Lha, kalau itu beneran Mas Rey, ngapain dia ke mal? Bukannya lo bilang dia lagi sibuk?" tanya Farah.
Aku menggelengkan kepala, "Nggak tahu. Makanya kita harus cari tahu," kataku segera bangkit dari kursi.
"Mau ke mana?" Mata Farah melotot saat aku menarik tangannya.
"Cari Mas Rey, terus cari tahu ngapain dia di sini," kataku, kembali menarik Farah untuk mengikutiku.
"Makanan kita, Lam!"
Aku tidak mempedulikan semua kentang goreng, ayam, burger, bahkan minuman bersoda. Karena saat ini nafsu makanku sudah lenyap dalam sekejap.
O0O
Tidak mudah mencari Mas Rey banyaknya manusia di sini. Terlebih kami harus memeriksa satu per satu toko di setiap lantainya. Nyaris kami menyerah. Bahkan Farah sampai meminta waktu untuk beristirahat sejenak dari misi pencarian kami. Membuat acara pencarian ini semakin tidak efisien.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Un)Pretend
General FictionUntuk kedua kalinya Reyza Ardhian Pratama mengakui Sekar Nilam Kusumawati sebagai kekasihnya. Berbeda dengan sebelumnya, Rey melakukan hal ini bukan hanya untuk menyelamatkan Nilam, melainkan juga untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Rey pikir hubu...
