CHAPTER 40

1.1K 81 18
                                        

Sore hari, Xiumin sedang sibuk mengurus JongSeok yang tengah rewel karena ia haus. Tapi Xiumin sudah memberinya asi karena tidak tega melihat wajah imut sang anak. Karena JongSeok sudah kenyang, ia tertidur digendongan Xiumin. Xiumin menaruhnya ditempat yang biasa Xiumin menidurkan JongSeok.

Xiumin beristirahat sebentar diruang tamu sembari melihat layar ponselnya. Ia menggeser geserkan jarinya untuk mencari berita terkini, hm.. Ada satu foto yang menurutnya ada kejanggalan. Ya, foto mantannya, Jimin.

"Jimin? Dia sudah mempunyai pasangan baru? Wah cantik sekali." Xiumin memuji wanita cantik berambut sedikit pirang yang sedang berpose dengan Jimin sambil duduk bersebelahan.

Tidak sengaja Chen melihat Xiumin dari belakang, ia sengaja tidak mau bicara karena penasaran dengan apa yang Xiumin lihat. Chen mengintipnya dari belakang dan raut wajah Chen kembali kesal.

"Untuk apa memandangi wajahnya? Cemburu?" tanya Chen dengan begitu sinis.  Xiumin terkejut ada Chen yang sudah menatapnya dengan perasaan berbeda.

"Ah tidak, Chen. Aku hanya--"

Chen meninggalkan Xiumin dan berjalan menaiki tangga. Xiumin merasa ada yang aneh pada Chen. Xiumin berusaha diam karena dia tidak ingin rumah tangganya kembali rusak seperti kejadian yang lalu-lalu.

Xiumin tidak peduli dengan foto Jimin dan pacar barunya, ia mencari foto yang lain.

----

"Xiumin menyebalkan, kenapa dia terus saja mengingat mantan pacarnya itu!" Chen menahan emosinya karena kejadian tadi ditambah Xiumin yang sudah mulai menstalk instagram mantan pacarnya.

Sekitar 10 menit, Xiumin membuka pintu kamar dan siap-siap untuk pergi. Kemana dia akan pergi? Bahkan Chen pun tidak tahu.

"Kau mau kemana?" tanya Chen dengan tatapan kesalnya itu.

"Chen, aku ingin mengunjungi rumah sakit, Jimin bilang temanku yang bernama Ara sedang sakit." kali ini Xiumin tidak bohong, mungkin perasaan Chen yang berlebihan menyebabkan rasa curiga yang juga berlebihan.

"Tidak bohong kan?"

"Tidak mungkin sayang, yasudah aku pergi dulu ya."

"Sebentar, akan kuantar." Chen bangkit dari kasur dan menghampiri Xiumin.

"Tidak usah Chen, aku akan pergi bersama Jimin."

Selama Xiumin dibawah, ia kontekan bersama Jimin. Memang awalnya Jimin yang memberitahu kalau temannya ada yang sakit.

Yah, rasa emosi Chen sudah tidak bisa ditahan. Ia membentak Xiumin.

"Yak Xiumin! Lagi-lagi Jimin! Kenapa kau lebih memilih dia daripada aku!" bentaknya.

Xiumin terkejut hebat atas bentakan itu, sungguh ini pertama kalinya Chen membentak Xiumin.

"Chen kenapa kau membentakku?" Xiumin bicara gagap.

"Tentu saja! Kau sudah bersikap berlebihan pada mantanmu."

Xiumin menatap Chen dengan mata yang berkaca-kaca.

"Begitu? Lalu bagaimana dengan mantanmu? Apa dia bersikap diam selama ini? Apa dia tidak pernah mengganggu hubungan kita?" Xiumin kembali kesal.

Kedua pasangan ini sekarang menjadi sama-sama egois.

"Justru itu! Aku tidak mau dengan kehadiran mantanmu, rumah tangga kita jadi berantakan seperti sebelumnya!"

Entah siapa yang salah kali ini, ucapan Chen ada benarnya juga. Ia tidak mau dengan kedatangan orang ketiga, membuat rumah tangganya kembali memanas. Dan tidak bisa salahkan Xiumin juga, Xiumin sudah tidak menyimpan rasa apapun pada Jimin tapi Chen yang terlalu curiga.

"Tapi aku mohon jangan simpan rasa egoismu, Chen!" Xiumin menangis karena ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Yasudah pergi sana bersama mantanmu! Jangan pulang!" Bentakkan itu kembali terdengar pada telinga Xiumin. Xiumin sakit hati, ia tidak sangka kalau Chen akan bersikap begini.

"Kau berharap aku tidak pulang?" tanya Xiumin sekali.

"Ya!"

Xiumin lelah debat, ia mengambil tasnya dan pergi. Xiumin membanting pintu dan pergi dari kamar.

Seketika Chen tersadar kalau apa yang ia katakan itu berlebihan. Tidak seharusnya ia berkata kasar pada Xiumin.

---

Jimin sudah ada diluar rumah Xiumin, karena Xiumin sudah memberitahunya lewat Instagram tadi.

Xiumin membuka pintu mobil Jimin,

"Xiumin? Kau menangis?" tanya Jimin merasa khawatir.

"Tidak, tadi mataku terkena debu. Sudah tidak usah dipikirkan. Ayo pergi sekarang." ucap Xiumin berusaha menahan tangisnya.

"Ya ayo." Jimin menancap gas dan pergi melaju.

Chen sedang menangis dikamar karena takutnya nanti malam Xiumin benar-benar tidak pulang.

"Aku salah! Aku bodoh!" Chen menjenggut rambutnya sendiri.

"Yah lebih baik aku meminta maaf pada Xiumin." Chen mengambil ponselnya dan mengetikkan nomor Xiumin.

Ponsel Xiumin sudah berdering tapi Xiumin tidak mendengarnya, karena keadaan dirumah sakit sana ramai.

Saat Xiumin mengambil ponselnya, kebetulan panggilannya mati.

"Jimin? Bolehkah tolong ambilkan foto?" Xiumin menyuruh Jimin yang sedang duduk santai di sofa rumah sakit.

"Ne tentu saja." Jimin mengambil foto dimana Xiumin dan teman-temannya berkumpul.

Cekrek

Satu foto sudah terambil, saat Xiumin ingin mencoba lihat hasil fotonya, Ara memanggil Xiumin untuk mencoba menyuapkannya roti. Alhasil Xiumin kembali ke Ara dan panggilan dari Chen kembali berbunyi.

"Chen? Oh apa dia suaminya Xiumin?" pikir Jimin.

"Hm, boleh juga. Akan aku panaskan dia."

Jimin menggeser tombol berwarna hijau dan menelfonnya diam-diam.

"Hallo Xiumin, aku sungguh minta maaf atas kejadian tadi. Tolong pulanglah malam ini, tadi aku hanya terbawa emosi."

Oh, jadi dia sedang marahan dan suaminya ini mengusir Xiumin? Bisa juga. -jimin

"Maaf kau suaminya Xiumin?" tanya Jimin.

Chen terkejut karena yang menjawab suara laki-laki.

"Kau siapa?"

"Aku Jimin."

"Kemana istriku? Tolong berikan ponselnya padanya sekarang!"

"Ah aku sedang di hotel."

Chen terkejut atas jawaban itu. Chen merasa dibohongi oleh Xiumin.

Tbc.. 😊😉

CHENMIN AREA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang