Chapter 2

2.2K 233 2
                                    

Dengan membawa dua cup kopi digenggamnya, Yoongi menunggu kedatangan seseorang di Heathrow Airport. Paling tidak sebulan sekali Yoongi datang kesini untuk menjemput orang yang sama. Ya, wanita itu adalah Irene. Walaupun Yoongi belum menganggap Irene sebagai tunangannya atau bahkan kekasihnya, namun Yoongi tetap berusaha untuk menerima Irene secara perlahan.

Layaknya model yang sedang berjalan di atas catwalk, Irene dengan anggunnya berjalan menuju pria yang sudah menunggunya di pintu kedatangan. Dari kejauhan Yoongi sudah bisa melihat Irene yang sedang berjalan kearahnya.

"Hai! Apa itu untukku?" Irene menunjuk salah satu cup kopi di tangan Yoongi.

"All yours."

"Nope, I'll take one." Irene mengambil salah satu cup kopinya.

Entah harus bagaimana lagi Yoongi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Irene. Setiap kali mereka bertemu, Irene selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Seperti, kapan kau akan kembali ke Korea? Kapan kita mengadakan acara pertunangan? Sampai kapan agar kau bisa menerimaku?

"Bae Irene, aku akan mengajakmu berkencan sekarang juga, tapi bisakah kau tak bertanya hal yang sama? Bahkan kau sudah mengetahui jawabannya." ucap Yoongi yang sedari tadi mendengar ocehan Irene.

"Benarkah? Kau mengajakku kemana? Makan malam romantis?" tanya Irene dengan antusias sambil memeluk lengan Yoongi erat.

"Kau akan mengetahuinya nanti."

***

Nayeon berjalan mengekor di belakang Jungkook. Ia hanya mengikuti langkah kaki Jungkook kemana pun ia berjalan. Wajahnya tak berhenti bersemu setiap kali melihat punggung lebar kekasihnya yang hanya hanya berjarak beberapa langkah di depannya.

Nayeon melihat Jungkook berhenti melangkah dan membalikan tubuhnya sambil mengulurkan tangannya pada Nayeon.
"Ayolah jangan berjalan di belakangku."

"Baiklah.."

Nayeon mensejajarkan langkahnya sesuai pemintaan Jungkook. Tangan Jungkook menggenggam erat telapak tangan Nayeon.

"Nay, aku minta maaf-" suara Jungkook tercekat seolah tak mampu melanjutkan kata-katanya.

"Maaf untuk apa?"

"Jika aku menyakitimu."

Nayeon tertawa remeh. "Kau bicara apa sih? Tak perlu meminta maaf jika tak melakukan kesalahan."

Tapi aku melakukan kesalahan yang fatal, Nay.

***

Nayeon mengikuti langkah Jungkook yang berhenti di depan restaurant bergaya classic. Jungkook memegang bahu Nayeon dengan kedua tangannya. Ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Nayeon, melihat iris mata Nayeon dalam.

"Nae-ya, kuharap kau bisa menerimanya, sampai kapanpun aku tetap mencintaimu." Jungkook mencium puncak kepala Nayeon lembut.

"Yak! Jeon Jungkook, kenapa kau aneh sekali?"
Nayeon tidak menganggap seris perkataan Jungkook.

Aneh memang, Jungkook bertingkah tidak seperti biasanya. Jungkook selalu bermain-main dengannya, menggodanya bahkan sampai membuat Nayeon menangis seperti anak kecil.
Sedangkan Jungkook yang saat ini di hadapannya adalah seorang pria yang serius, tak memiliki selera humor, bahkan berkali-kali mengucapkan permintaan maaf untuk kesalahan yang tak ia lakukan.

Sebenarnya ada apa dengan Jungkook, batin Nayeon.

Bersama Jungkook, Nayeon memasuki restaurant. Pikiran Nayeon sudah melayang-layang, berpikir mengapa Jungkook tiba-tiba berubah, bukankah Jungkook mengajaknya kesini untuk melamarnya, tapi mengapa dari tadi ia mengatakan maaf.

Waiter mengarahkan Jungkook meja yang sudah ia pesan, mereka berjalan menuju meja bundar dimana sudah seorang wanita berambut coklat sebahu dengan duduk menunggu kedatangan seseorang. Nayeon terlihat bingung, ia berpikir seperti pernah mengenal wanita itu.

"Yeri?!" sontak Nayeon terkejut mengapa adik kelasnya tiba-tiba berada di sini.

Nayeon menoleh ke arah Jungkook, ia melihat ekspresi Jungkook yang berbeda dari yang ia kira. Jungkook tidak terkejut sama sekali.

Apa Jungkook juga mengajaknya kemari? Batin Nayeon.

***

Melody✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang