Bismillahirrahmanirrahim
.
.
.
Pandangannya yang senantiasa tajam itu menyorot jalan yang dilaluinya. Ia hanya focus akan apa yang ada di hadapannya tanpa memperdulikan yang terjadi disekitar. Kini hari sudah menjelang malam, pesona senja mulai menyorot dengan cahaya keemasannya. Namun, keindahan itu sama sekali tak membuat lelaki itu terpana atau berhenti sejenak untuk menatapnya. Ia seolah acuh akan keindahan yang tersedia. Ia meliuk-liukkan motornya dengan lihai seakan bebas hambatan padahal kenyataannya hari yang menjelang malam adalah waktunya terjadi kemacetan. Terlebih ini adalah ibu kota yang tak akan terlepas akan hal tersebut.
Gedung di pinggir kota mulai terlihat, saat sampai di tempat tersebut Ghazy membanting stir motornya, memanuver motor tersebut hingga berputar seratus delapan puluh derajat. lalu terkahir memacu kencang gasnya dan secara bersamaan ia menekan koplain dan rem cakramnya, hingga ban belankang motor hitam metallic kesayangannya itu terangkat.
"Anj*r, masih aja keren!" puji seseorang yang kini menghampirinya dengan heboh.
"Lihat, nih. Bos bestie gue balik. Lihat kalian nggak bakalan ada lagi yang bisa bully gue setelah Abang Ghazy balik. Maju lo sini semua lawan gue, bully gue. Cupu!" teriaknya lantang. Memamerkan bahwa sekarang dirinya memiliki tameng sebagai pelindung.
"Berisik, Tar!" desis Ghazy melewati orang yang sejak tadi berteriak heboh itu.
"Heh, jangan ninggalin gue!" ia berlari cepat menyusul langkah Ghazy yang menuju markas mereka. Xeon gang.
"Diem!" kini bukan hanya peringatan dengan desisan tajam. Namun, telah didirringi dengan lirikan tajam yang menusuk.
"Ok, ok. Gue diem." Tara hanya bisa mengalah saat melihat wajah tak bersahabat yang Ghazy tunjukkan. Ia mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah, melihat hal tersebut Ghazy melanjutkan langkahnya. Tak peduli dengan gerutuan Tara di belakangnya. Melihat hal tersebut Tara menghela napas lega, menurut Tara Ghazy saat ini sangat menyeramkan. Berteman beberapa tahun dan membangun Xeon baru kali ini Tara melihat wajah Ghazy yang seakan ingin memakan orang hidup-hidup.
"Gimana rasanya dicuekin?" Sesampainya di hadapan teman-temannya. Seseorang menghampiri Tara. Merangkulnya, tentu dengan maksud untuk menggoda anggota inti termuda mereka tersebut. Tara yang mendapat perlakuan tersebut langsung melepaskan diri dari rangkulan tersebut.
"Araz bangs*t!" umpatnya yang dihadiahi kekahan.
"Lo emang nggak akan lepas dari yang namanya bullyan Tar. Terima nasib aja." Kembali Araz menganggu bontot emosian tersebut. "Mana tadi udah pede banget teriak-teriak nyuruh maju buat hadapin. Taunya lo yang cupu!"
Araz melepaskan rangkulannya pada Tara. Tak lupa mengacak rambutnya. "Anj*ng!"
"Nyebut, Tar. Perasaan mulut lo isinya kata kotor, pakai air zam-zam sana biar suci bersih." Sahutan Araz yang menghampiri Ghazy nyatanya tetap membuat emosi tara meluap-luap.
"Anj-"
"Istighfar!" tegur temannya yang lain.
"Yok, bisa yok. Astaghfi—"
"Nyebut apaan ege. Gue Kristen!" kembali semuanya tertawa lepas menertawakan wajah penuh kekesalan Tara tersebut. semuanya sibuk tertawa sebelum suara Ghazy membuat mereka semua terdiam.
"Gimana Ram. Lo udah urus semua?" tanyanya pada seseorang.
"Udah. Tinggal eksekusi aja," jawab lelaki bernama Rama tersebut. Ia adalah orang yang menjabat sebagai wakil Ghazy. Dan mengantikan Ghazy saat berada di pesantren sebulan yang lalu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Ghazy ✔
De TodoTakdir yang mempertemukan, takdir pula yang memisahkan. Tanpa ketaatan maka akan tersesat dijalan. "Kamu dan luka itu sama, terlalu menyakitkan." »»--⍟--«« Start : 05/08/2022 Finish : 31/01/2023 Copyright ©...