30. Detak

14.2K 436 15
                                    

Bismillahirrahmanirrahim

.

.

.

Sekitar jam 03.45 Fia sampai di depan rumah mertuanya. Ia turun dari motor dengan mata mengantuknya yang berusaha ia tahan. Melihat kearah Gean dengan mata sayunya.

"Makasih ya," ucapnya.

"Nggak masalah, lo masuk duluan deh. Udah ngantuk banget kayaknya." Gean menimpali. Sejuurnya masih ada banyak pertanyaan yang mencokol di kepalanya. Tentang mengapa Fia bisa ada disini.

Ini rumah orang tua Ghazy!

Apa hubungan mereka?

Bukankah Fia mengatakan bahwa tak mengenal Ghazy?

"Engh, Fi—"

Hoam!

"Eh maaf, tapi aku udah ngantuk banget. Sekali makasih ya. Hati-hati dijalan. Assalamu'alaikum." Fia berbalik. Matanya sama sekali tak lagi bisa diajak bekerja sama. Matanya kini sudah mulai berair, kantuk benar-benar menyiksanya yang tak terbiasa begadang.

"Wa'alaikumussalam, happy nice dream." Ucapannya hanya terdengar samar oleh Fia tapi tak sekalipun dibalas. Kantuk benar-benar menguasainya. Setelah melihat Fia benar-benar hilang dari pandangannya dan masuk ke dalam rumah barulah Gean meninggalkan halaman rumah tersebut.

Saat memasuki rumah pun Fia tak memperhatikan sekitar, ia hanya terus mengucek matanya agar tetap focus untuk menaiki tangga untuk sampai ke kamarnya. Ia terus saja menguap, tanpa menyadari jika rumah tersebut gelap gulita.

Ceklek!

"Senang?" Lampu kamar yang tadinya gelap berubah terang benderang membuat matanya harus menyesuaikan cahaya yang masuk pada retinanya.

Prok! Prok!

"Wah, lo ngebuktiin kalau sebenarnya lo itu murahan. Kemarin Adnan, Lalu Alva. Dan sekarang Gean. Heh?!" Pandangan Ghazy tak lagi sehangat biasanya Fia lihat. Mata itu benar-benr seperti mengulitinya. Ia tadinya sedang menenangkan pikiran di balko kamar disuguhkan pemandangan yang benar-benar membuatnya kebakaran tanpa bisa dipadamkan.

"Maksu-."

"Ssst, lo nggak memiliki hak bicara saat ini. Kemarin gue udah buat lo paham dan bahkan udah ngasi kesempatan buat melakukan pembelaan. Tapi, nyatanya lo udah buktiin kalau kepercayaan gue sama lo nggak ada apa-apanya." Ghazy melangkah mendekati Fia yang hanya berdiri kaku. Menatap Ghazy dengan pandangan takut yang menyelimuti. Saat Ghazy semakin mendekati tubuhnya ia memilih memejamkan matanya. Ia harus siap jika sewaktu-waktu Ghazy memperlakukannya kasar seperti yang terjadi pagi tadi.

Tek!

Fia membuka matanya saat suara pintu dikunci di belakangnya. Menatap Ghazy dengan pandangan bertanya. Apa yang akan dilakukan oleh lelaki tersebut. "Takut?"

Ghazy membalas tatapan matanya, mata coklat kehijauan itu menatapnya sedingin es. Hanya dengan menatapnya saja Fia bisa merasakan aura mematikan di dalamnya. "Apa yang kakak lakukan?"

"Apa? Hanya mengunci pintu." Ghazy masih terus saja menatap Fia dalam. Mendekati telinga Fia ia membisikkan sesuatu dan itu berhasil membuat Fia merinding. "Agar tak seorang pun tahu apa yang terjadi di kamar ini nantinya." Tak lupa tangannya menekan tombol di dekat saklar lampu, menyalakan system kedap suara dalam kamar tersebut.

"Lo nggak lupa kan sama peringatan gue tadi pagi?" ingatan Fia mulai berputar pada kejadian yang terjadi padanya dan Ghazy tadi.

"Gue nggak mau liat lo deket sama cowok manapun selain gue."

Crazy Ghazy ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang