Bismillahirrahmanirrahim
.
.
.
Dalam perjalanan ini tak ada yang benar-benar Fia nikmati. Selain jendela dan segala ciptaan yang telah Allah atur sedemikian rupa. Pikirannya tak tentu arah, ia sebenarnya tak pernah berada di waktu yang sama dengan dirinya. Pikirannya selalu berkelana entah dimanapun itu.
Pesawat yang mereka tumpangi tak lama lagian akan landing. Tapi, Fia masih saja sibuk dengan dunianya sendiri. Tak peduli apapun yang tengah terjadi disekitarnya. Bahkan saat seseorang duduk disampingnyapun tak ia hiraukan.
"Serius amat." Orang itu mencolek bahu Fia yang sama sekali tak ditanggapi.
"Halo, ada orang?" Ia masih terus saja mencari perhatian agar Fia mau menanggapinya.
"Diem."
"Nggak bisa." Selalu seperti ini, orang berada disampingnya itu ketika dilarang ia akan menganggap bahwa itu adalah perintah.
"Ngapain disini?"
"Lagi nyamperin istri lah." Ia menjawab santai seakan itu bukan masalah.
"Aku nggak butuh ditemenin." Fia kembali melanjutkan aksinya yang hanya menatap jendela dengan pandangan kosong. Gambaran kota Jakarta yang gemerlap sama sekali tak membuatnya terpana.
"Tapi, gue yang butuh." Fia menoleh, menatap Ghazy yang kini juga menatapnya dalam.
"Butuh apa?"
"Butuh diperhatikan. Masa yang lo perhatiin jendela mulu. Itu jendela nggak akan kabur." Fia memutar matanya malas.
"Kamu juga nggak perlu diperhatiin. Nggak akan kabur juga, " balasnya dengan santai. Ghazy mendengus, Fia ini sangat sulit diberi gombalan.
"Tapi, gue berpotensi diambil orang."
"Orang mana juga yang mau ambil kamu, kurang kerjaan banget. Masa mau nambah beban." Lagi-lagi jawaban Fia membuat wajah bahagia Ghazy lenyap.
"Jadi, maksud lo gue itu beban?" Ia bertanya dengan nada tak terima.
"Emang benar kan?"
"Lo tuh ya, gue itu datang kesini mau ngehibur lo. Tapi bukannya terhibur lo malah buat mood gue juga ikutin jelek."
"Aku nggak minta kamu buat datang kesini. Mending kamu balik." Fia masih menjawab acuh membuat Ghazy yang tingkat kesabarannya hanya setipis kulit bawang itu menghembuskan napas kasar.
"Ok, kalau itu mau lo." Dengan gerakan cepat ia berdiri. Berusaha tak peduli lagi dengan perilaku Fia yang menurutnya aneh belakangan ini. Ia melangkahkan kakinya kembali ke tempat duduknya semula yang berada di kursi samping Fia namun berada disebelah kanan. Bersebrangan dengan tempat Fia duduk.
"Berantem, Mbak?" tanya orang yang kini menempati seat yang sempat Ghazy duduki tadi.
"Nggak, Cuma Abang kamu aja tuh yang baperan." Masih tetap dengan nada ketusnya. Entah mengapa sejak kemarin mood Fia sangat tidak terkontrol. Ia bahkan kadang tak mengenali dirinya sendiri.
"Jangan galak-galak atuh, Mbak. Kan Alva Cuma nanya." Ya, benar. Yang berada di seat yang Ghazy tempati tadi itu adalah milik Alva. Adik kedua Ghazy dimana Alva ini juga kembaran dari Alya. Manusia rese yang sejak bertemu saja menurut Fia itu sudah seperti medusa. Mulutnya sangat lihai menyudutkan dirinya. Untung saja Fia bukan pemain sinetron ikan terbang. Ia bukan orang yang akan menangis karena ditindas adik ipar sendiri.

KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Ghazy ✔
RandomTakdir yang mempertemukan, takdir pula yang memisahkan. Tanpa ketaatan maka akan tersesat dijalan. "Kamu dan luka itu sama, terlalu menyakitkan." »»--⍟--«« Start : 05/08/2022 Finish : 31/01/2023 Copyright ©...