29. Trauma

13.2K 455 14
                                    

Bismillahirrahnmanirrahim

.

.

.

Masih dengan langkah gontainya, Fia terus melangkah tanpa memperhatikan langkahnya. Ia hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong. Benar, ujian hidupnya kini ternyata terasa complicated. Ia masih bingung akan langkah seperti apa yang akan diambilnya utuk masa depan.

"Hei, lo orang baru?" langkahnya terhenti sekaligus membuyarkan pikirannya yng entah sedang berada dimana. Memfokuskan pandangannya dan menilai orang yang berada di hadapannya kini.

"Halo, gadis piyama." Ia melambaikan tangan di hadapan wajah Fia agar Fia memfokuskan perhatiannya.

"Eh." Fia baru tersadar. Ia menaikkan alisnya, seolah bertanya 'Siapa?'

"Lo ngapain disini?" tanyanya sekali lagi, pasalnya Fia seperti orang kebingungan.

"Eh, maaf. It-u aku sama temen." Ia menoleh kesembarang arah, mencari keberadaan Gia yang entah sekarang berada dimana. Fia mendadak panik saat matanya tak menemukan Gia dimanapun. Bahkan sekarang suasana terlihat kacau, ditambah dengan suara sirine polisi bersahutan.

"Gawat, lo ikut gue." Tanpa aba-aba lelaki yang menyapa Fia itu menarik tangannya untuk mengikuti langkahnya bahkan terkesan berlari.

"Hei, mau kemana?" Fia tak mau mengikuti begitu saja. Ia berusaha melepaskan cekalan tangannya.

"Ikut aja, ini gawat." Tapi, seolah tak mempedulikan penolakan Fia ia terus saja menarik tangannya. Berusaha menghindari beberapa orang yang menghalangi langkahnya. Keadaan di arena tersebut benar-benar chaos.

"Shit! Ini pasti karena Ghazy bangs*t itu. Ngerepotin banget." Mendengar umpatan itu Fia memperhatikan lelaki ini. Sepertinya lelaki tersebut mengenal suami brengseknya.

Setelah lumayan jauh dan berhenti di depan sebuah minimarket, lelaki itu tersebut berhenti dan berbalik melihat keadaan Fia yang sepertinya masih syok. "Lo nggak pa-pa?"

"Nggak pa-pa," jawab Fia sekananya. Percayalah bahwa kini belum mampu mencerna situasi yang terjadi. Terlalu banyak kejutan dalam hidupnya dalam beberapa waktu terkahir hingga rasanya untuk menganalisis apa saja yang terjadi ia kehilangan akalnya untuk mencerna segalanya dengan cepat.

"Cih, khas cewek banget." Ia berdecih pelan, ia merasa lkesal dengan kata sejuta makna untuk para betina tersebut.

"Mending lo duduk dulu disitu, gue beli minum dulu di dalam." Ia menunjuk bangku dan meja yang disediakan minimarket. Tanpa menunggu jawaban Fia ia berbalik. Namun, saat akan memasuki pintu minimarket ia kembali berbalik melihat kearah Fia.

"Awas aja lo kabur, gue cari sampe dapat. Gadis piyama." Ia memberikan pandangan mengintimidasinya. Fia yang melihat itu hanya melaksanakan apa yang diperintahkan oleh lelaki tersebut. Sekarang ia bingung sedang berada dimana, ia tak mengenal tempatnya sekarang. Hingga sekalipun lelaki itu tak memintanya untuk tetap diam ditempat ia akan tetap diam. Ia cukup was-was melihat sekarang sudah jam satu malam.

"Kirain lo kabur." Fia melirik kearah lelaki tersebut sambil mendengus pelan.

"Kan kamu yang nyuruh aku diam disini." Mendengar jawaban Fia, lelaki itu terkekh canggung.

"Nih, minum." Ia menyerahkan botol minuman yang baru saja ia beli. Terjebak dalam suasana canggung, akhirnya mengalihkan pandangannya. Memperhatikan lalu lalang kendaraan yang bisa dihitung jari.

"Terima kasih." Lelaki itu kembali menengok kearah Fia, terlihat raut wajahnya terkejut dengan apa yang baru saja Fia ucapkan. Seakan kata itu sangat langka ia dengar.

Crazy Ghazy ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang