18화

1.4K 127 0
                                    

We're really in love

Sehun POV

Setelah sampai di Fukuoka, kami langsung ke hotel. Semua memberku telah tau kabar Irene yang pingsan dan semuanya memberiku semangat. Para manager juga memberi kami waktu istirahat lebih dari biasanya. Kami biasanya akan langsung melakukan latihan sebelum konser langsung setelah sampai di bandara namun kali ini kami ke hotel dan akan memulai latihan setelah makan siang.

Aku kini di dalam kamar hotel sendirian. Aku akan memakai kamar ini selama empat malam kedepan. Aku bukan langsung membuka koper seperti kebiasaanku jika sudah sampai di dalam kamar. Seluruh fokusku sepenuhnya tertuju pada layar hpku. Hpku yang baru saja berfungsi untuk melakukan sambungan telfon sedang menghubungi Irene setelah aku mendapat kabar bahwa segala acara di Seoul sudah selesai.

tut....tut....tut...

"Halo.." suara lembut seorang wanita yang sangat kukhawatirkan membuat darahku berdesir cepat dan jantungku berdegub tidak sehat. Seakan aku ingin dia langsung laporan tentang keadaannya.

"Sayang, aku ganggu ya?" tanyaku tak kalah lembut.

"Sehun? Kok bisa nelfon? Kamu ga latihan? Ada masalah? Kamu kenapa? Kamu sakit ya?" lah... kenapa jadi dia yang khawatir coba.

"Sayang kalo nanya jangan kroyokan dong, satu-satu kan bisa. Aku baik-baik aja, sayang. Emang ga boleh ya nelfon pacar sendiri?" tanyaku bercanda.

"Ya boleh lah sayang. Tapi kan, tumben aja... biasanya kamu kalau lagi tour ga pernah bisa nelfon sebelum tournya selesai. Biasanya juga kamu sibuk latihan kan." kata Irene.

"Latihannya entar abis makan siang, sayang. Kamu di dorm ya?" tanyaku.

"Iya. Lagi di kamar ini." jawabnya.

"Tadi sarapan apa?" tanyaku langsung.

"Sarapan? Eumm... sarapan roti? Iya sarapan roti." makan angin mungkin sayang... salah tuh.

"Rotinya terbuat dari apa sayang? Udara ya? Makanya perut kamu kosong trus pingsan?" gemes aku.

"...." diam kan dia.

"Sayang..." panggilku.

"Ka-kamu tau?" tanyanya gagu.

"Kenapa sih ga makan? trus makam malam siang sama malem setengah, ga dihabisin. Kamu mau buat aku mati muda karena kaget denger kabar kamu pingsan? Makan dong sayang." biasanya itu dia yang begini ke aku. Dia bahkan bisa bawelin aku sampai setengah jam karena banyak hal.

"Engga mau... Maaf sayang... Iya aku makan. Nanti siang aku makan yang banyak, janji." kata Irene.

"Foto entar makanannya. Kirim ke aku. Kalau bisa kita makan sambil videocall." pintaku.

"Ihhhh, iya aku makan yang banyak. Ga usah videocall. Entar aku foto deh. Bawel ah." keluh Irene.

"Hm... Sayang, aku khawatir banget pas tahu kamu pingsan tadi. Aku bawel gini juga demi kebaikan kamu. Please jangan pingsan dan sakit..aku ga tau gimana nanti di panggung kalau pikiran aku ke kamu terus. Aku sayang banget sama kamu. Kalau bisa aku balik ke Seoul aku bakal balik dan ngejaga kamu supaya makannya teratur."

Semua perkataanku keluar begitu saja. Kalau saja aku mampu melakukan seperti yang kukatakan tadi, aku benar-benar akan melakukannya. Tapi ada banyak hati yang harus kujaga, ada banyak situasi yang harus kupahami, dan ada banyak konsekuensi yang nantinya menjadi malapetaka bagi banyak pihak. Aku ga bisa seegois itu tidak memikirkan memberku, terutama banyaknya penggemar yang menunggu. Aku tahu, Irene akan melakukan sesuai yang kupinta. Untuk kali ini, aku ga bisa menahan diriku hanya diam seperti biasanya.

ADDICTIVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang