Rubah itu datang lagi ke rumah kami. Ini sudah kelima kalinya ia berkunjung. Aku malas melihat wajahnya itu.
Ia bersikap baik dan manis di depan Taehyung, tapi saat Taehyung tidak ada ia langsung menjadi nenek sihir.
Kadang alasannya adalah kerja kelompok, menanyakan hal yang ia tak mengerti dengan Taehyung, atau berkunjung untuk tebar pesona.
Memuakkan.
"Ngomong-ngomong kenapa dia selalu disini? Kalian tinggal bersama?"
Rasanya ingin sekali aku menendangnya dari sini. Dia terlalu ingin tahu tentang kehidupan kami. Aku memang mengikhlaskan Taehyung padanya tapi setidaknya bersikaplah baik padaku.
"Sebenarnya Yuna adalah anak asisten pribadi ayahku. Ibunya menitipkan Yuna padaku karena mereka sedang bekerja di luar kota selama beberapa bulan."
Benar-benar pendusta. Taehyung sangat ahli dalam berbohong. Dan bodohnya lagi Hee Ji mempercayainya.
Not a perfect couple but stupid couple.
"Eonni bukannya ini sudah malam? Sebaiknya kau pulang.", ujarku dengan berani. Aku sudah tak peduli lagi jika Taehyung memarahiku nantinya.
"Ah baiklah aku pulang. Sepertinya pacarmu ini terganggu. Bye Tae."
Dasar jalang, pergi saja kau jauh-jauh dari kami. Aku tak menyukaimu, bahkan Mongmong juga begitu.
Aku melambaikan tanganku padanya lalu menguap karena mengantuk.
Ah ngomong-ngomong dimana Kylie? Aku tak melihatnya dari tadi siang. Aku akan cek ke kamarnya dulu.
Aku mengetuk pintu berwarna pink dihadapanku ini. Awalnya aku heran kenapa mereka menggunakan pintu berwarna pink ini padahal anak mereka hanya Taehyung, itupun dia laki-laki.
Kylie membuka pintu, ada apa dengan wajahnya?
"Kylie gwenchana?"
Ia menggeleng lalu menarikku masuk ke kamarnya. Kamarnya sangat berantakan seperti kapal pecah. Apa aku harus membereskannya? Tanganku gatal sekali, aku tak bisa melihat rumah berantakan.
"Yuna-ya hatiku sakit.", ujarnya lirih.
Ia menunduk, tadi siang dia baik-baik saja. Aku mengangkat wajahnya agar menatapku. Matanya sembab, sudah berapa lama ia menangis?
"Ada apa? Ceritakan padaku."
Ia tiba-tiba memelukku, sebenarnya aku takut mengingat ia adalah lesbian tapi ia sedang sedih saat ini.
Kuberanikan diriku menepuk punggungnya pelan. Bahunya gemetar, aku yakin ia kembali menangis.
"Seseorang yang aku cintai berciuman dengan kekasihnya. Tadi aku melihatnya secara langsung, hatiku sakit sekali melihatnya."
Dia melihatnya secara langsung? Berarti orang itu ada di Korea? Tapi seharian ini dia ada di rumah. Jadi kapan ia melihat orang yang ia cintai itu?
"Tenanglah, kenapa kau menyukai laki-laki yang sudah punya kekasih? Ada banyak laki-laki diluar sana. Kau ingat Minhyuk, temanku yang kemarin itu kan? Aku bisa mengenalkannya padamu."
Kylie melepaskan pelukannya dariku. Ia menatapku dalam, aku bisa melihat kehancuran dimatanya.
"No! Dia itu menyukai seseorang yang aku cintai!"
Aku tidak mengerti. Jadi Kylie menyebut Minhyuk seorang homo?
"Minhyuk bukan homo!", bantahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nae Sarang ✔
Fanfiction[COMPLETED] Setelah perceraian orang tuaku. Aku dan ibuku kembali ke Korea. Aku menderita semenjak bertemu dengan seorang senior disekolah baruku. Kim Taehyung. Ia memperlakukanku seperti hewan, ia menjadikanku budaknya.
