25

5.7K 175 1
                                    

Hampir dua jam kemudian, dan aku masih tidak tahu apa yang harus kukatakan.

Aku masih terkejut karena ancaman Kaylie yang menghancurkan semuanya. Aku bukan satu-satunya yang terpengaruh pada itu. Aku takut setengah mati dengan cara Adam melalui itu. Aku tau, Adam sangat menyayangi Ayah dan Ibunya. Dia tak ingin perusahaan yang Ayahnya bangun dari nol hancur karena dirinya.

Dia sedingin es. Tanpa ekspresi. Tanpa emosi. Hampa dari apapun dan semuanya. Aku menghabiskan seminggu siang dan malam bersamanya.

Aku telah melihatnya dia yang sebenarnya pada saat dititik terendah dan tertinggi. Dia benar-benar marah dan benar-benar peduli, bahkan aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.

Aku tidak tahu harus berbuat apa untuknya. Dan dia tidak ingin berbicara padaku. Ini berakhir dengan waktu empat jam yang terpanjang dan terhening selama hidupku.

Jalanan memang kejam! Cuaca sialan, hujan terus menerus dan jalanan menjadi licin, membuatnya nyaris mustahil, aku dapat melihat melalui kaca depan, hujannya sangat deras.
Dia menyalakan radio saat kami memulai perjalanan, sangat jelas mengatakan bahwa dia tidak ingin berbicara, jadi aku tidak
memaksa.

Tapi aku ingin. Oh, aku tak tau apa yang terjadi dengannya dan Kaylie. Dan apa hubungan antara perjodohannya dengan Kaylie. Setelah Olive dan sekarang Kaylie? Aku semakin tak mengerti ini. Adam tak pernah menceritakan lebih tentang Kaylie. Dia hanya berkata Kaylie adalah temannya semasa kuliah dulu. Ini benar membuatku bingung... oh tuhann!!

Aku tidak marah padanya. Wanita itu menjeratnya kedalam kegilaan ini, hubungan yang memuakkan, dan dia tidak tahu bagaimana caranya keluar dari ini semua.

Ini masih membingungkan bagaimana dia masih bersamaku semalaman, kemarin malam dan malam-malam sebelumnya selama 2 bulan belakangan ini.

Satu jam terakhir aku tidur dengan gelisah terbangun karena sentakan ketika mobil sepenuhnya berhenti dan dia mematikan mesinnya. Aku
menengadahkan kepalaku dan menatap keluar jendela, menemukan kami sedang berada di area parkir di komplek apartemenku.

Yay. Aku dirumah.

"Kita sampai," katanya, dengan suara tenang yang dalam. "Butuh bantuan dengan tasmu?"

Aku menatapnya tak percaya. "Benarkah ini cara kita untuk
mengakhirinya?" Tatapannya bertemu denganku dan penuh dengan derita, aku hampir
memalingkan muka. Tapi aku menolak. Dia tidak akan menang.
Aku menolaknya untuk mengantarku.

"Kau dengar perkataannya, Adel. Tidak mungkin aku berharap kau akan tetap tinggal untuk itu."
"Kau benar-benar akan menyerah dengan semuanya Dam?" Ucapku lemah. Aku tak tau hatiku kini terasa sangat sakit. Aku tak mau mengakhirinya. Kami baru saja memulai. Memulai hubungan yang bukan hanya sekedar pura-pura tapi karena kami saling menginginkan.

"Adel, dengar.. Aku tak ingin menyakitimu dan aku tak ingin kau tinggal. Dan kesepakatan kita sudah selesai. Semuanya sudah berakhir Del"

Tuhan, perkataannya sangat membuatku sakit sekaligus marah dan kecewa. Aku ingin memukul dan memeluknya dalam waktu yang sama.

"Baiklah" Aku menoleh kebelakang dan mengambil tas ranselku kemudian melemparkan ke pintu yang terbuka dan keluar dari mobil secepat mungkin sampai aku hampir terjatuh.

"Adelia.." Sahutan dari namaku membuatku berhenti, jariku mencengkram pinggiran pintu mobil yang ingin sekali kubanting sedetik yang lalu.

"Apa?"

"Aku—aku harus mencari cara. Aku harus menyelesaikan ini." Matanya memohon padaku untuk mengerti. "Aku butuh waktu."

Aku menggelengkan kepalaku, daguku gemetar, Aku menolak menangis di depannya. "Terserah Dam. Nyatanya kau tak menginginkanku"

Dia menarik napas berat dan memalingkan mukanya dariku.
Wajahnya tersinggung terlihat dirahangnya dan ekspresinya sangat tegang, aku takut mungkin dia akan hancur. Akupun tak tega melihatnya jika dia harus bersama nenek sihir itu. Aku tak bisa membayangkannya, hatiku terasa sakit.

"Percaya padaku Del.. Aku berjanji akan menyelesaikan semua ini. Kumohon mengertilah. Aku tak ingin jauh darimu. Hatiku terasa hancur"

Hatiku lebih hancur. Aku tidak tahu bagaimana semuanya masih utuh, dengan semua yang telah kami lewati. "Masuklah bersamaku. Aku perlu menemui Ibuku dan Eric dan kemudian… kita bisa berbicara. Okay?"

"Eric?" Tatapannya bertemu denganku dan dia mendesah.

"Dia kakak sepupuku. Dia yang menjaga Ibuku. Aku hanya perlu memastikan mereka sudah sampai lalu kita akan bicara Dam.." Jelasku

"Masuklah Del.. Ibumu pasti khawatir"

"Adamm.." Ibuku memang penting. Tapi aku lebih khawatir padamu Dam.. aku ingin selalu disisimu. Gumamku dalam hati

"Pergilah Dell.. aku akan menelfonmu"

"Tidak.. kau takkan menelfonku"
Kemarahan memenuhiku dan
aku membanting pintu mobil kencang, kecewa karena kami harus berpisah.

Aku menuju gedung apartemenku, pundakku melawan hujan yang jatuh dari kegelapan, langit marah. Aku mendengar Adam menyalakan mobilnya, mendengar suaranya memanggil namaku dari jendelanya tapi aku tidak membalikkan badan. Aku tidak menjawabnya. Aku melakukan apa yang ia perintahkan.

-------------

Bersambung..

Jangan lupa Vomment..

Xx

Adelia's Love StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang