Love Destiny 7

5.2K 225 2
                                    

Pria tampan berusia 25 tahun itu sedang berkutak-katik dengan laptonya, ia sengaja menyibukkan diri di kantornya. Padahal hari ini pekerjaan tidak terlalu banyak.

Pikirannya di penuhi dengan istri yang baru dua hari ia nikahi. Walaupun Aqilla sudah menjadi miliknya akan tetapi dia hanya menganggap sebagai teman bukan suaminya. Menurut Farqah itu awal yang baik walaupun ia berharap suatu saat nanti istrinya bisa menerimanya sebagai suami bukan teman.

Farqah masih sibuk menatap layar yang berukuran persegi empat itu,  sesekali ia manatap foto-foto pernikahannya di laptopnya itu. Sampai-sampai seseorang masuk ruanganya ia tak menyadarinya.

"Wahh apa yang aku liat pagi ini pengantin baru sudah masuk kerja saja," kata pria tampan yang baru saja masuk ke ruangan Farqah.

Farqah melirik sekilas dan kembali menatap laptopnya.

Denis mendudukan tubuhnya di depan Farqah, "kau baru menikah sob, apa kau tidak honeymoon?" Tanya Denis heran.

Denis adalah bawahan Farqah, ia bekerja sebagai G. Manager di perusahaan milik Farqah. Selain karyawan di kantor Denis juga sahabat Farqah, mereka bersahabat sejak sama-sama kuliah di universitas yang sama. Denis belum menikah mungkin di pikirannya ia tak ingin menikah. Ia seperti Ladykiller suka gonta-ganti pasangan sesuka hati. Saat datang kepernikahan Farqah pun ia membawa gadis yang berbeda.

Farqah menyenderkan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya dan menatap sahabatnya itu. "Sudahlah urusin saja urusan mu!"

Denis mengangkat satu alisnya, "kau sepertinya kurang fit, apa yang terjadi denganmu?" Tanyanya.

"Aku hanya kurang tidur," jawab Farqah memijit pelipis di keningnya.

Denis merapatkan tubuhnya dan kedua tangannya di letakkan di atas meja, "Wah apa yang kau lakukan semalam sampai-sampai  sahabatku kurang tidur, cepat ceritakan padaku!" kata Denis penasaran.

Farqah menghela napas lalu menghembuskannya dengan pelan, "buang jauh fikiran kotormu itu," kata Farqah memperingatinya.

"Ayolahh kawan aku juga sering menceritakan padamu tentang wanita-wanita yang bersamaku".

Farqah menatap Denis tidak suka, "istriku berbeda dengan para wanitamu, jangan samakan dia".

Denis mengusap pelan dagunya dan berkata "apa kau jangan-jangan belum-"

 "Stopp!" Potong Farqah dengan tatapan tajam. "Keluarlah aku ingin sendiri!" Lanjut Farqah.

"Ohh Baiklah aku akan keluar! Sepertinya kau sedang sensitif seperti prempuan saja," Kata Denis dengan kekehannya dan berjalan keluar,  Farqah hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu. Ntah kapan Denis bisa berubah memandang wanita.

.

.

Disisi lain Aqilla yang baru bangun dari tidurnya menyadari bahwa suaminya sudah tidak ada di kamarnya. Walaupun ia satu kamar tetapi mereka tidur terpisah, Farqah selalu mengalah ia tidur di sofa. Aqilla tak menyadari kalau suaminya tak terbiasa tidur di sofa, Farqah selalu menutupi agar istrinya tidak cemas.

Sebenernya Farqah bisa saja tidur kamar lain tetapi ia tidak mau menjadi  suami yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana kalau papa mama mertuanya tahu itu hal yang tidak diinginkan oleh Farqah. Seburuk-buruknya tingkah istri, suami harus bisa menyeimbangi serta mengarahkannya. Oleh karena itu, ia harus selalu di samping istrinya agar rumah tangganya terlihat baik-baik saja.

Aqilla menurunkan kaki jenjangnya dan mengibas pelan selimut yang menutup tubuhnya. Ia mengucek-ucek matanya pelan dan tangan kanannya meraih ponsel di atas nakas. Matanya terbelalakan melihat jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Kebiasaan saat masa gadis belum berubah.

Love DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang