Jin menatap kepergian Sojung dengan banyak pertanyaan, apakah senyumnya terlihat kaku hingga gadis itu tidak mengatakan apa-apa dan langsung pergi begitu saja?
Rasanya memang sudah lama juga ia tidak pernah menampilkan senyuman normal, maksudnya bukan senyum formal dan kaku yang selama ini ia berikan pada orang-orang.
Selain itu yang lebih penting, sejujurnya ia sedikit kecewa karena tidak mendapat respon apa pun dari gadis itu. Setidaknya Jin pikir gadis itu juga akan membalas senyumnya dan mengatakan sesuatu seperti 'tidak apa-apa, santai saja' atau 'ini hanya hal kecil, cepatlah sembuh."
Huh! Ia pastilah sudah gila kalau mengharapkan orang yang mendeklarasikan diri membencinya mengatakan kalimat manis berisi perhatian.
Sesaat Jin merasa semuanya seperti berakhir dengan sia-sia karena gadis itu masih menolak memaafkannya sampai saat ini.
+panna+cotta+girl+
Bel apartemen Jin berbunyi tiga puluh lima menit kemudian. Kim Taehyung berdiri dengan senyuman ceria yang bisa meluluhkan hati para wanita, sangat kontras dengan Jin yang kini terlihat cukup terkejut dan terganggu dengan kedatangan Taehyung, lalu tak lama menghela napasnya lelah.
"Kudengar kau sedang sakit, jadi sebagai adik yang baik aku ingin menjengukmu." Taehyung buru-buru masuk bahkan sebelum Jin mempersilakannya, lelaki itu menuju dapur yang lagi-lagi tanpa dipersilakan dan menaruh bungkusan yang dibawanya di atas meja.
Dengan pelan Taehyung membuka lemari pendingin dan meraih sebotol air mineral sebelum akhirnya meneguknya dengan rakus.
Jin yang sejak awal seolah resah dengan kedatangan Taehyung memilih masuk ke kamarnya dan kembali berbaring di atas tempat tidur. Ia membiarkan pikirannya melayang-layang selama beberapa saat sampai pintu kamarnya diketuk.
"Aku tahu kau sedang tidak melakukan apapun," Taehyung nyengir dan duduk di kursi yang beberapa saat lalu diduduki oleh Sojung.
"Hyung, kau baik-baik saja, kan?" Taehyung kembali bertanya saat Jin tidak mengatakan apa pun, kali ini pertanyaannya pun hanya dijawab dengan gumaman tidak jelas.
"Kita perlu bicara," ujar Taehyung, nada suaranya berubah berat.
"Apa kemarin kau bertemu dengan Ibu?"
Barulah setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Taehyung mendapatkan perhatian Jin meski lelaki itu hanya mengubah posisinya menjadi duduk lalu menatapnya dengan alis yang berkerut samar seolah berusaha untuk menutup-nutupi keheranannya.
"Ibu kemarin menelponku dan memberitahukan hal ini," jelas Taehyung.
Jin mendengus seperti tidak tertarik lagi pada pembicaraan.
"Sudah waktunya kau tahu apa yang terjadi, hyung." Suara Taehyung mendadak terdengar memohon.
Dengan enggan Jin duduk di depan Taehyung dan menunggu adiknya melanjutkan pembicaraan meski sebenarnya ia tidak berminat. Rasanya ia tidak ingin tahu saja, ia sudah terlanjur kecewa pada siapapun bahkan kedua orangtuanya. Semua orang penipu, dan ia hanya mempercayai dirinya sendiri.
"Awalnya aku juga kecewa dan nyaris membenci Ayah dan Ibu," Jin bisa melihat sorot mata Taehyung terlihat sedih dan terluka secara bersamaan. "Saat kukatakan ayah tidak bersalah, aku tidak berbohong," jelas Taehyung menambahkan.
"Awalnya ini seperti hanya kesalahpahaman sepele, tetapi ternyata kenyataan yang ada di belakangnya benar-benar menyakitkan."
"Tolong katakan intinya saja," potong Jin.
Taehyung yang awalnya menampilkan raut wajah sedih lantas memberengut, tetapi tidak lama karena ekspresi lelaki itu kembali pada raut sedihnya.
"Dibelakang kita sebenarnya Ayah dan Ibu memiliki hubungan yang kurang harmonis, kautahu bagaimana kehidupan di dapur restoran yang dijalani Ibu dan juga perusahaan yang dijalankan oleh Ayah benar-benar menguras waktu. Mereka jarang berkomunikasi dan selalu ada hal kecil yang selalu bisa diperdebatkan, lalu akhirnya hal yang tidak menyenangkan itu terjadi, Ibu meributkan masalah perselingkuhan Ayah dan memang benar kalau Ayah dulu selalu pergi bersama wanita itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panna Cotta Girl
FanfictionCast : - Kim Sojung (Sowon) - Gfriend - Kim Seok Jin (Jin) - BTS - Kim Taehyung (V) - BTS Sinopsis : Jin menatap Sojung dengan kening yang mengerut. "Untukku mana?" "Dari awal aku tidak berniat memberikanmu jatah. Aku tidak akan pernah membiarkanmu...
