Chapter 16

371 59 8
                                        

– Aku belum kenyang. Apa kau punya sedikit waktu untuk pergi bersamaku mencari sesuatu seperti... Takoyaki, mungkin? –

Sojung tersenyum setelah membaca pesan singkat dari Jin. Ia menunduk sesaat berusaha untuk menyembunyikan senyuman di bibirnya lalu melirik Taehyung yang kini sedang sibuk dengan adonan roti kayu manis dan berdeham pelan.

Setelah menimang-nimang sebentar, Sojung berbalik dan berkata, “Taehyung, bisa aku menitip sebentar cheesetart-nya. Aku akan pergi ke Combini sebentar membeli softdrink.”

Taehyung hanya meliriknya sekilas dan menjawab sambil kembali sibuk dengan pekerjaannya. “Baiklah, belikan satu untukku, oke?”

Sojung mengangguk sekilas, lalu meraih tasnya dan keluar dari toko kue. Ia berjalan beberapa langkah sebelum kembali menatap ponselnya dan bermaksud mengetik pesan balasan tepat ketika seseorang menepuk bahunya dengan cukup keras dan berhasil membuatnya terlonjak kaget.

“Hei!”

Yang berdiri di belakangnya tentu saja adalah Jin, lelaki itu tersenyum lebar sebelum melambaikan tangannya pelan ketika Sojung berbalik menatapnya. Sojung mendengus sebagai balasan, ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Jin dengan pandangan pura-pura sebal.

“Kau mengagetkanku, tahu!” seru Sojung lalu mencebikkan bibirnya, ia berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Jin beberapa langkah di belakangnya.

Jin lalu menaikkan sebelah alisnya dan terkekeh pelan dengan kepala yang menggeleng-geleng pelan tak habis pikir, tak lama kemudian ia berderap menyusul Sojung.

“Kau marah?” tanyanya setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu. “Hei, kau benar-benar marah karena aku mengagetimu, ya?” tanya Jin lagi ketika tak mendapatkan jawaban apa pun.

“Pikir saja sendiri,” balas Sojung cemberut.

“Oh, ayolah, ma pouce! Kau tidak akan terlihat manis apalagi cantik kalau marah dan cemberut,” sahut Jin.

Langkah Sojung berhenti tiba-tiba, Jin ikut berhenti dan tetap memberinya senyum manis. Astaga, ada apa dengan lelaki itu hari ini?

Ma pouce?” tanya Sojung dengan kening mengerut dan bibir yang berusaha ia tahan untuk tidak tersenyum, tapi tidak berhasil.

Jin mengangguk dan berkata, “Nama panggilanmu mulai sekarang.”

Sojung mengernyitkan keningnya. “Mengapa tiba-tiba kau berpikir untuk membuat nama panggilan?”

“Hanya agar lebih akrab,” jelas Jin sekenanya. “Selama ini kita jarang memanggil nama satu sama lain. Kau kadang hanya memanggilku ‘chef’ dan semua orang yang akrab denganmu memanggilmu So-chan, kan? Sebagai pembeda, aku akan memanggilmu ma pouce.”

Sojung terkekeh. “Panggilan yang lucu.”

“Kau bisa mendapatkan nama panggilan barumu itu secepatnya kalau kau tidak terus memukulku saat di taman. Kau benar-benar ahli kekerasan.”

Sojung meringis pelan lalu berusaha mengubah topik pembicaraan. “Beritahu aku apa artinya!”

Jin lantas memasang wajah pura-pura bodoh sebelum menyeringai kaku dan membuat Sojung segera menyipitkan mata karena curiga.

“Kuberitahu atau tidak, ya?” ujar Jin dengan nada menggoda. Ia berhenti dan menghadap Sojung, lalu membungkuk sedikit untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis itu masih sambil menyeringai, tetapi seringaiannya kali ini adalah jenis seringaian menggoda.

Dengan sekali tarikan napas, Jin lalu berbisik pelan di telinga Sojung. “Dalam bahasa Prancis, pouce artinya kutu.”

Sebelum menerima pukulan atau teriakan protes, Jin sudah berderap lebih dulu sambil tertawa geli meninggalkan Sojung yang masih mengerjap-ngerjapkan mata mencerna perkataan yang baru saja dibisikan di telinganya.

Panna Cotta GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang