Sebenarnya tanpa perlu dimintapun Runa sudah pasti akan membantu Jin dengan caranya sendiri. Runa memang kesal pada Jin, tentu saja, tetapi ia juga masih punya rasa simpati dan tidak akan begitu saja mengabaikan teman baiknya sejak ia sekolah memasak di Prancis dulu.
Kebetulan situasi saat itu juga benar-benar sinkron, senin sore usai Jin menelepon, Runa memang sedang bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit. Tanpa ia minta sebelumnya, rupanya Hiro telah memutuskan lebih dulu untuk membawanya pulang ke rumah keluarga Takahashi atau Ferd agar ada yang menemaninya mengurus bayi mereka selama pria itu pergi ke luar negeri untuk beberapa hari ke depan. Runa tentu saja tidak menolak dan menyetujuinya tanpa banyak protes.
Sangat sulit mencari waktu agar bisa bicara hanya berdua saja dengan Sojung. Gadis itu tampak menjaga jarak dengannya dan seolah sengaja selalu mencari alasan agar tidak terjebak berdua saja dengannya.
Runa baru punya kesempatan bicara pada selasa pagi, saat Ibu mertuanya pergi bekerja ke klinik dan Hiro serta Ayah mertuanya pergi ke kantor untuk mengambil beberapa dokumen sebelum pergi ke bandara.
“Kita perlu bicara, So-chan. Kau harus mendengarku kalau kau tidak ingin menyesal.”
Sojung tampak tidak begitu berminat, tetapi Runa tetap melanjutkan kalimatnya. “Kemarin Jin meneleponku.”
“Dengar, So-chan,” kata Runa lagi. “Beberapa hari lalu Hiro sempat menceritakan semua yang kalian bicarakan di kantin rumah sakit padaku, dari cerita itu aku bisa langsung menebak siapa orang yang kau sukai. Tetapi kurasa aku perlu meluruskan sesuatu agar kau tidak salah memahami situasi.”
“Kau tidak perlu menjelaskannya, Runa. Tidak ada kesalahpahaman di antara kami,” sahut Sojung.
“Tidak, kau jelas salahpaham padanya!” bantah Runa tegas.
“Jin tidak menyukaiku.”
“Baiklah,” Runa mengalah saat melihat Sojung menaikkan sebelah alisnya skeptis. “Mungkin dia memang pernah menyukaiku, tetapi itu dulu, sekarang dia menyukaimu, So-chan. Aku mengatakan ini bukan tanpa alasan, aku melihat usahanya dengan mataku sendiri. Jin tidak akan segigih itu menanyakan keberadaanmu padaku hanya untuk menjelaskan kesalahpahaman, dia bukan orang yang akan berusaha keras menjelaskan pada orang yang salah memahaminya, dia bukan tipe yang sangat peduli pada penilaian orang lain tentangnya. Percayalah, aku sudah lama mengenal anak itu. Dulu sebelum banyak orang yang mengkritiknya, Jin sempat dikenal sebagai orang sombong dengan harga diri yang tinggi, dia tidak akan berbesar hati meminta maaf pada orang lain kalau kenyataannya dia tidak bersalah. Tetapi dia melakukannya padamu kemarin, dia menelepon dan memintaku untuk menyampaikan permintaan maafnya padamu, katanya dia tidak bisa menyampaikannya secara langsung karena kau memblokir seluruh kontaknya.”
Kali ini Sojung tampak heran. “Tetapi aku tidak pernah memblok….”
“Jangan menyela dulu!” Runa menggeleng. “Saat dia tidak bisa menemuimu minggu lalu, sebenarnya itu bukan salahnya. Minggu lalu dia terpaksa tidak menemuimu karena dia mengantarku ke rumah sakit saat aku akan melahirkan. Apa kau tidak bisa memikirkannya lebih jauh? Dia mengantarku malam harinya lalu tidak lama kau pasti mendapatkan kabar kalau aku melahirkan, semuanya saling berkaitan. Apa kau tidak menyadari dan memikirkannya sejauh itu?”
++
“Apa kau tidak menyadari dan memikirkannya sejauh itu?”
Tanpa bisa dicegah, percakapannya dengan Jin minggu lalu kembali berputar di kepalanya dan memberikannya pukulan telak. Sojung akhirnya mengerti maksud perkataan Jin tempo hari, lelaki itu memang sedang menghadapi situasi yang genting. Kali ini Sojung harus mengakui bahwa tindakan Jin sudah benar, ia yang salah karena terlalu cemburu hingga tidak mau mendengarkan penjelasan lelaki itu lebih dulu dan menyebabkan kesalah pahaman. Ia bahkan tidak mau menelaah kembali semua hal dari awal dan bertingkah layaknya gadis paling menderita di seluruh dunia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panna Cotta Girl
FanfictionCast : - Kim Sojung (Sowon) - Gfriend - Kim Seok Jin (Jin) - BTS - Kim Taehyung (V) - BTS Sinopsis : Jin menatap Sojung dengan kening yang mengerut. "Untukku mana?" "Dari awal aku tidak berniat memberikanmu jatah. Aku tidak akan pernah membiarkanmu...
