Pain

51 13 9
                                    

Aku menenangkan diriku di tangga darurat, sampai obat itu selesai menolongku. Setelah beberapa jam aku sudah bisa tenang, dan menegendalikan diriku lagi.

Apa Yoongi mengejarku? Batinku tapi entahlah, apa peduli ku semua harapanku sudah hancur.

Aku membuat sebuah pangilan...

Calling...

Park Jimin

Jim? Masih bersama Jia?

Iya nih,

Lagi dimana sekarang?

Café depan kantor, beli gulali
Aku akan segera kembali

Tidak usah aku yang akan kesana
Belikan aku satu he he he

Tuut tuut tuut...

Setelah aku memutus panggilan. Aku bergegas keluar menghampiri Jimin dan Jia.

Sesampainya disana.

"Dimana Appa?"
Tanya Jia sambil melihat sekeliling.

"Appa, sedang ada meeting sayang"

Jia cemberut dan kesal.

"Jia.. Appa bekerja untuk Jia. Jia gaboleh manja ya?"

"Isshh.. aku mau gulali lagi kalau begitu"
Jia cemberut dan itu sungguh mengemas kan

"Hahaha iyaa iyaa sayang, jangan cemberut lagi ya.."

Setelah itu Jimin memberikan milikku ke Jia.

"Jia mau ice cream juga"

Aku mengangguk. Dia menarik tangan Jimin untuk menemaninya beli ive cream.

"Aku akan membelikan untukmu juga"
Jimin berjalan meninggalkan aku dan pergi bersama Jia

Andai Jimin itu adalah Yoongi. Suamiku.
Aku hanya bisa berkhayal untuk itu.

Setelah beberapa menit mereka kembali dengan ice cream ditangan mereka. Terlebih Jia sangat lucu dengan 2 ice cream cone ditangannya kemudian satunya dia berikan padaku.

"Terimakasih,  sayang "

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Terimakasih, sayang "

Aku memaksakan diri tersenyum lagi dan lagi. Aku tidak mungkin menunjukkan kesedihan dan kehancuran ku dihadapan anak tak bersalah ini.

" Eomma, Jia main kesana ya?"
Sambil menunjuk playground di pojok ruangan cafe

Jadi di cafe ini memang ada playground untuk anak-anak. Karena itulah Jimin mengajak Jia kesini.

"Iyaa, kalau sudah selesai kembali kesini ya!?"

"eung"
Jia berlari sambil mengangguk anggukkan kepalanya.

Sementara aku dan Jimin dalam suasana canggung.

"Kau, baik-baik saja?"
Jimin membuka percakapan untuk menghilangkan kecanggungan diantara kami.

Aku mengangguk

"Semua sudah berakhir Jim."
Aku menundukkan kepalaku

"Yaa. Apa kau akan membiarkan Yoongi hyung untuk jalang sepertinya"
Jimin meninggikan nada bicaranya.

"Dia bukan jalang Jim, dia bisa membuat Yoongi tertawa itu sudah cukup untukku."

Cinta memang bisa membuatmu bodoh. Contoh nya adalah aku. Aku membiarkan diriku terluka untuk orang yang aku cinta.
Bukankah itu bodoh?

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Jimin kembali bertanya

"Apapun, asal dia bahagia."

Tanpa sadar setetes air mengalir membasahi pipiku. Sekuat apapun aku menahannya ini terlalu berat untukku.
Seketika aku menghapus air mataku sebelum Jimin menyadarinya. Tapi terlambat Jimin telah melihat air mata itu.

"Sua-ah . jika beban yang kau tanggung terlalu berat, berbagilah denganku. Setidaknya kau tidak akan menahan luka itu sendiri?"

Jimin mendekati ku dan menenangkanku dalam pelukannya.

Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berteriak dari kejahuan mencari Jimin.

Aku sontak melepaskan pelukan itu.

"Jimin-ah, aku mencarimu kemana saja kau?"

Dengan aku yang masih terisak, aku berbalik dan melihat seorang laki-laki yang berdiri dikejauhan.

Air mataku tidak dapat dikendalikan lagi. Hanya dengan melihatnya aku ingin menangis dipelukannya. dia bergegas menghampiriku. Setibanya dia didepanku dia langsung memelukku.

Iya aku butuh pelukkan ini. Pelukan dari seorang sahabat yang sudah kuanggap sebagai kakakku.

"NamJoon-ah. Hiks.. aku hiks. Semuanya hiks hiks telah hiksss-"

Aku tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena aku semakin menangis dengan brutal.

"Yaaa, tenanglah dulu. Apa yang terjadi?"

Nam joon memeluku, Tangis ku semakin menjadi dalam pelukannya.

Kemudian di mengalihkan pandangannya kepada Jimin dengan tatapan seolah bertanya

"Ada apa, apa yang terjadi?"

"Sepertinya, kau harus menenangkannya dulu. Aku akan membawa Jia bersamaku."

Nam Joon mengangguk.
Kemudia Jimin pergi ke tempat Jia. Sementara aku masih menangis dipelukan Nam Joon.

"Berhentilah menangis, disini banyak orang. ayo pergi dari sini, dan ceritakan semuanya. Hemm"

Tanpa menjawab aku mengikutinya berdiri, menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari café ini.

di dalam mobil aku hanya menangis dan Namjoon mengenggam tangan serta sesekali melirikku yang belum juga terdiam..

"Sua-ah, bisakah kau tenang dulu aku tidak dapat berkonsentrasi dengan jalan jika kau masih menangis seperti ini."

Nam Joon berbicara dengan lembut dan membelai suraiku pelan. Aku hanya mengangguk dan berusaha diam.

"Apa kau ingin pulang?"

Aku mengeleng.

"Lalu?"

"Kemanapun asal aku tidak melihatnya"

Nam Joon mengangguk.

Min Yoongi brengsek, kau membuatnya menangis lagi - Namjoon

"Istarahatlah kau pasti lelah menangis"

Aku mengangguk lagi, dan memalingkan wajahku ke jendela mobil. Melihat jalanan yang seolah berjalan meninggalkanku. Akhirnya aku mulai mengantuk dan tertidur. Tanpa tau kemana Nam Joon akan membawaku.

Love is not overTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang