Thanks

51 14 2
                                    

Jennie telah tiba di Korea beberapa jam yang lalu, setelah dia mendarat dia langsung bergegas menuju Rumah Sakit dimana Sua dirawat.

Jennie memasuki lobby RS dengan membawa sebuah koper yang cukup besar, saat berada didepan lift tanpa senaja dia menabrak seorang laki-laki yang tengah mengandeng seorang gadis kecil.

BRUUK

"Ah. Maaf aku terburu-buru"
Jennie melihat laki-laki dan gadis yang berada disampingnya, gadis itu terlihat tidak asing bagi Jennie.

"Tidak apa-apa, lanatai berapa?"
laki-laki itu berniat baik karena melihat Jennie sedang kerepotan dengan ponsel dan kopernya.

"Lantai 5, sekali lagi maafkan saya eum--"
Jennie bingung haru berterimakasih kepada siapa.

"Jimin, Park Jimin"
Jimin mengetahui maksud Jennie yang tidak mengenali nya begitu pun sebaliknya.

"Oh maafkan saya dan terimakasih Park Jimin ssi. Aku Kim Jennie"

Jimin membalas dengan senyuman indahnya.
Tiba-tiba Jia bekata

"Jia, mau ice cream"

"Iya sayang, kita keruangan eomma dulu ya, ambil dompet"

Mendengar nama Jia bukanlah hal asing bagi Jennie. Dia mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.

"Siapa nama ibumu, sayang?"
Jennie memandang anak itu penuh kasih

"Moon Sua" ucapan Jia dengan senyum semanis gula.
saat itu juga Jennie berhambur memeluk tubuh munggil Jia.

Sementara Jia masih bingung.

"Ahjuma.. Jia tidak bisa napas.."

"Oh.. maaf sayang. Kau sudah sebesar ini"

Jia memandang Jimin. Kemudian Jimin bertanya

"Apa kau mengenalnya?"

"Aku teman ibunya. Seharsnya aku selalu ada disampingnya agar tidak berakhir seperti ini tapi aku tidak bisa menemaninya kembali ke Korea karena beberapa pekerjaanku di Jerman"

TING

Pintu lift terbuka.

"Mari saya antar keruangan Sua"

Jeennie mengangguk dan masuk ruangan Sua dirawat.

"Gadis, bodoh. Kau melakukan hal bodoh lagi hanya untuk orang tidak berguna"

Jennie menangis dan memarahi Sua secara bersamaan sampai membangunkan Nam Joon dari tidurnya.

"Apa kau Jennie?"

"Iya.. oh kau Nam Joon? Sua sering sekali menceritakanmu"
Jennie tersenyum dan mengahampiri Nam Joon yang kini duduk di sofa.

"Caritakan padaku tentang Sua selama bersamamu."

Nam Joon langsung to the point. Sementara Jimin dan Jia bermain disisi lain ruangan walaupun begitu dia bisa mendengar dengan jelas pembicaraan Nam Joon dan Jennie.

Jennie menceritakan semua kejadian satu tahun yang lalau, semuanya tanpa ceelah.
Hal itu sontak membuat amarah Nam Joon kembali memuncak. Dia berniat menemui Yoongi dan membunuhnya saat ini juga. Tapi langkahnya dihentikan oleh Jimin.

"Hyung, Kau hanya akan menyakiti Sua jika kau bertindak gegabah dan   kau bisa melukai dirimu sendiri. Bahkan baru semalam kau pulang dengan wajah babak belur kau ingin mengulanginya?"

Akhirnya Nam Joon merdakan amarahnya dan kembali duduk.

-
-
-

2 hari berlalu dengan keadan yang sama, Sua masih tidak sadarkan diri, Nam Joon dan Jimin menjaga Jia secara bergantian, Jennie merwat Sua di RS. Dan orang tua Sua sudah menetahui kalau anaknya dirawat. Sementara Yoongi menghilang tanpa kabar.

Saat nya pemeriksaan, Jung Kook dan para perawat memasuki ruangan Sua. Betapa terkejutnya Jung Kook dan para perawat melihat keadaan Sua yang tengah terkulai lemas dilantai dengan lengan yang mengeluarkan darah tanpa henti.

"Sua Apa yang kau lakukan?"

Sayup-sayup suara Jung Kook masih dapat didengarkan oleh Sua. Dia berusahah membuka mata nya dan tersenyum saat melihat Jung Kook. Dan kembali tak sadarkan diri.

"Kau gila masih bisa tersenyum.

Siapkan ruang operasi. "

Jung Kook berteriak pada semua perawat dan dia menekan luka Sua agar tidak mengeluarkan darah yang lebih banyak. Setelah ruang operasi siap dengan kecepatan penuh Jung Kook dibantu para perawat meluncur ke Ruang operasi.

Saat dijalan menuju ruang operasi mereka berpapasan dengan kedua orang tua Sua. Yang panik dalam seketika berlari mengikuti kemana putri kecil mereka dibawa. Setelah sampai di depan ruangan Ayah Sua menelpon Nam Joon, Jennie, dan Jimin.

flashback on

Saat ini ruangan Sua sepi. Nam Joon ada rapat yang tidak bisa ditinggalkan, sementara Jimin pergi menjemput Jia, Jennie dia kembali ke hotel untuk berganti pakaian. Sebenarnya ada orang tua Sua yang menjaganya tapi mereka sedang pergi ke kantin untuk makan siang. Jadi Sua sendirian di dalam ruangan.

Saat semua orang tidak ada disampingnya Sua tersadar dari tidurnya, dia membuka matanya pelan dan beradaptasi dengan cahaya lampu rumah sakit yang menyilaukan pandangannya. Dia berusaha menggerakkan anggota badannya dan duduk bersandar pada bahu tempat tidur.

Dia menginggat semua yang terjadi sebelum dia tidak sadarkan diri, dia berharap semua itu hanya mimpi.
Tapi kenyataan berkata lain, saat ada seseorang yang membuka pintu ruangannya.

Senyum diwajah Sua terukir seindah bulan dan sangat indah. Tapi senyum itu dibalas tatapan dingin seorang laki-laki yang baru memasuki ruangan.

"Aku pikir, kau sudah mati, ternyata kau masih bisa bertahan."

Sua hanya diam dan mengeryitkan dahi nya. Aneh dengan perlakuan laki-laki didepannya sementara laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.

"Nam Joon terlalu berlebihan dengan kondisimu, aku menyesal sempat mengkhawatirkanmu. Karena ternyata kau baik-baik saja aku tidak perlu menahan diriku untuk semua ini... "

Laki-laki itu memberikan amplop coklat dengan angkuh dan dingin. Sementara Sua yang baru tersadar dari mautnya masih terdiam dengan kelakuan suaminya Min Yonggi.

"Tandatanganilah surat cerai itu, sekertarisku akan mengambilnya besok dan kau behentilah berpura-pura seakan kau yang paling sakit dan hancur disini."

Pura-pura katanya.

"Lebih baik kau mati daripada menganggu hidupku. Apa kau tau berapa pukulan yang kudapat karena sandiwaramu."

Sua hanya memandangi surat cerai yang kini ditangannya, dia menahan semua air matanya.

Ketika hubungan memudar dan terasa hambar itu saatnya berhenti dan mengakhiri. -  Sua

Yonggi pergi tanpa melihat kebelakang. Sementara Sua menatap punggung orang yang dicintainya selama ini perlahan menghilang dari cakupan retina matanya.

"Aku akan pergi dari hidupmu Yoon"

Sua bicara dengan air mata tertahan yang berusaha menerjang pertahanannya. Kemudian dia menarik  infus yang terbuat dari kaca hingga jatuh ke lantai dan pecah. Dia memaksakan dirinya untuk turun dari tampatnya sekarang mengambil serpihan kaca tersebut dan tanpa ragu menggoreskannya di lengan kirinya dengan sangat dalam, hingga dia kehilangan banyak darah. Berharap semua rasa sakit ini akan hilang setelah ini.

Flash back off

Love is not overTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang