MLIS 18

9K 902 27
                                        

Prilly berjalan mengitari beberapa tempat dan takjub melihat sekitar. Mereka berada di Gangnam district sekarang dan Prilly merasa kesal karena tak bisa membeli apapun di sini.

"Bagus!" seru Prilly menunjuk sebuah patung couple memakai baju senada.

"Biasa aja!" ucap Ali pelan membuat Prilly menoleh kesal.

"Ish, bagus tahu, penuh estetika, dasar ga tahu seni!" seru Prilly membuat Ali menggeleng tak percaya.

"Kita sedang membicarakan sebuah patung memakai baju senada bukan lukisan abstrak!" dengus Ali kesal membuat Prilly terkekeh.

"Makanya jangan selalu ngomong biasa aja, dipuji gitu kalag dasar!" seru Prilly santai.

Ali menatap Prilly gemas dan kemudian menghembuskan nafasnya. "Kita mau ke mana lagi, hampir 2 jam kita hanya berjalan kesana kemari, Ku rasa kita sekarang bukan lagi di gangnam... apakah tidak seharusnya kita duduk, aku capek mengikuti kamu!" seru Ali membuat Prilly menoleh.

"Ternyata mister bisa ngeluh juga,. biasanya hanya ngomong ga apa-apa atau diam aja, aku takjub mister bisa ngomong panjang gitu!" ucap Prilly menatap Ali tak percaya.

Ali bergidik, ia pun bingung bisa bersikap santai pada Prilly. Ia bahkan bersikap selayaknya ia bersama Juwon. Ia terlalu apa adanya dan bahkan ia tak merasa tak enak hati, ia bisa menjadi apa adanya dirinya.

Prilly menatap Ali bingung, melihat pria itu hanya diam saja, ia kemudian melihat sekitar dan tak jauh dari sana ada penjual es krim. Prilly tersenyum senang.

"Hmmmn.... eko, eko, kalau mau duduk, duduk aja, aku ke sana ya sebentar!"

"Eko?" tanya Ali kebingungan.

"Dibalik!"

Ali memikirkan ucapan Prilly. Dibalik? eko berarti oke. Ali tersadar sesuatu. Kalag berarti?

"Ah, galak?" gumam Ali mengingat panggilan Prilly. Ali menggeleng tak percaya mengingat Prilly.

"Kurcil, berarti kamu ngatain aku?" tanya Ali menoleh tapi tak mendapatkan Prilly disekitarnya.

"Kurcil benar-benar ya, sejak kapan dia sudah berada diujung sana?" gerutu Ali langsung berlari menyusul Prilly.

Ali berhasil menyusul Prilly. Lagi lagi gadis itu sedang asik memakan es krim dengan cuaca yang cukup dingin di Korea. Gadis itu benar-benar menyukai hal ekstrim.

Ali duduk menunggu di sebrang karena ia yakin Prilly melihatnya. Setelah mendapatkan es krimnya ia langsung berjalan mendekat pada Ali tanpa melihat sekitar.

Ali berdiri melihat sepeda dengan kecepatan yang sepertinya bisa menabrak Prilly, jika gadis itu menyebrang sekarang. Ali berjalan cepat ke arah Prilly.

"Mister, ini es krim!" pekik Prilly senang, tapi Ali langsung menariknya cepat.

Prilly terkejut merasakan pelukan Ali. Ia bahkan sampai menjatuhkan es krim yang ia pegang saking kaget dan tak siap. Ia kembali terkejut ketika mendengar suara teriakan heboh anak anak yang berbalapan sepeda lewat dengan kencang dari arah belakangnya.

Prilly dapat mendengar suara jantungnya sendiri dan juga Ali. Sama cepatnya tapi jantungnya jauh lenih cepat berdetak.

Ali merenggangkan pelukannya, jantungnya berdetak cepat saat bergerak cepat mendekati Prilly. Ali memperhatikan Prilly yang pucat. Gadis ini sepertinya terkejut. Ali membawa Prilly duduk ditempatnya tadi.

"Kamu ga apa apa?" suara Ali membuat jantung Prilly tak tenang. Ia harus membuat Ali pergi darinya sebentar.

"Mister, es krim aku, aku mau eskrim!" seru Prilly menunjuk es krimnya yang sudah tak berbentuk di jalan.

My Love Is A Stranger (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang