Beberapa bulan berlalu. Ali menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Ali berubah jauh lebih ramah tapi tetap terlihat susah didekati. Ia kehilangan semua hal yang berkaitan dengan Prilly. Nomor yang dulu digunakan tak lagi aktif.
Seperti sekarang ia tak ada kerja dimeja kerjanya tapi sibuk memainkan gelang couple nya yang mulai berubah warna tak lagi semengkilap dulu. Ali membuka handphonenya melihat semua fotonya yang baru ia sadari semua berisi wajah Prilly selama tour.
Awalnya foto foto itu ingin ia berikan selesai tour. Tapi gadis itu langsung menghilang begitu sampai Indonesia. Ali tersenyum pahit menyadari kebodohannya.
Vino memutar kursinya menatap Ali bingung. "Ali, lo kenapa sih, beberapa bulan ini lo diam banget, ekstrim banget tahu gak, hidup lo kayak mode getar hp, gemes gue lihat lo jadinya!"
"Padahal ya, buku baru lo masuk buku terlaris di toko buku, lo kenapa sih sebenarnya? lo sampai ga minat sama sekali buat di interview?" tanya Vino bingung.
"Gue lagi ga mood aja," ucap Ali pelan.
"Nggak mood lo berbulan bulan, horror banget lo! lo mau ngalahin seremnya cewe PMS," ucap Vino membuat Ali tersenyum kecil.
Ali memutar kursinya menatap Vino. "Kesepian gue, makanya pinjam istri lo!" seru Ali membuat Vino mau melempar pulpennya. Ali tersenyum geli.
"Enak di lo ga enak di gue! tapi serius gue, lo kenapa, padahal buku terbaru lo isinya sangat ceria, cerita cinta dari sebuah tour yang berakhir happy ending tapi kenapa lo ga sebahagia itu, bukannya lo peserta tour itu!" ucap Vino bingung.
"Itu hanya sebuah fiksi, Juon yang minta buat kisah cinta manis dan bahagia, menurut gue seperti itu cerita yang manis," ucap Ali tersenyum bingung melihat Vino menatapnya tak percaya.
"Lo bukan patah hati karena gue nikah sama Laras kan?" tanya Vino hati-hati.
"Ehm, gue tahu dari Laras hubungan kalian dulu, kenapa lo ga pernah bilang ke gue Li, kalau gitu gue ga akan deketin Laras," Vino terlihat bersalah membuat Ali terkekeh.
"Well, sebenarnya iya, tapi yang gue pikirin bukan istri lo kok, itu masa lalu buat gue, dia seseorang yang baru baru ini dekat sama gue," ucap Ali pelan.
"Dan kalau lo ga ambil Laras, gue kayaknya ga akan ketemu gadis ini?" ucap Ali bingung.
"Terus lo ga mau kenalin ke gue?" tanya Vino bingung.
Ali tersenyum samar. "Nanti kalau gue ketemu sama dia."
"Oke, o, iya, lo dapat proposal kerjasama, langsung disetujui Juwon tahu, ini masuk pilihan Juwon kemarin, siap siap lo dipanggil, lo kan bank berjalannya jadi dia ga akan membiarkan lo tenang sebelum lo benar-benar bisa menghasilkan untuk dia," ucap Vino santai saat melihat Juwon berdiri dibelakang Ali. Vino tersenyum geli dam dan memutar kursinya kembali mengerjakan pekerjaan.
"Ali ke ruangan gue sekarang," ucap Juwon berlalu masuk ke dalam ruangan membuat Ali terkejut.
"Idih, apaan tuh bocah, lo pake ga bilang dia dibelakang," ucap Ali kesal melihat Vino tertawa.
"Biarin dia lagi berusaha serius, biar dia bahagia, pura-pura takut aja," ucap Vino geli melihat Ali berdiri dan berjalan malas ke arah ruangan Juwon.
****
Ali masuk keruangan Juwon dan duduk sambil memainkan hiasan meja Juwon.
"Kayaknya lo lebih susah move on dari si kurcil ketimbang Laras ya?"
"Ini udah hampir 3bulan, semenjak lo keluarin buku baru lo!" seru Juwon tapi Ali pura-pura tak mendengar omongan Juwon.
"Ali gue tahu lo kehilangan kurcil bahkan lo ga bisa menemukan dia dimanapun tapi masa depan gue juga penting!" seru Juwon frustasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Love Is A Stranger (END)
RomanceGadis berisik dan menyebalkan yang ia sebut si kurcil selalu menggangu kerja, kalau bukan karena kerja ia tak mungkin mengikuti tour ini, ia juga mengalami patah hati membuat ia mengiyakan perintah bosnya untuk pergi ke luar negeri menikmati hal hal...
