Ali berjalan masuk ke hotel dan sekarang mereka sudah berada di Jepang.
Prilly terlihat berbeda ia berjalan pelan dan memaksa senyumnya.
"Ka aku ke kamar ya, kakak minum obat jangan lupa!" seru Laura meninggalkan Prilly yang duduk di lobi hotel.
Roni mendekati Ali setelah ia mendapatkan reservasi kamarnya. "Ali, kayaknya kalian bakal selantai lagi, kamar yang lain udh diambil peserta tour lain!" seru Roni padahal sebenarnya Vanesa dan Frans yang mengambil paksa darinya tadi.
"Iya ga apa-apa mas, udah biasa kalau sama Prilly," ucap Ali melihat Prilly diam di sana.
"Ya udah aku samperin dia dulu ya," ucap Roni.
"Biar saya saja mas, sekalian," ucap Ali membuat Roni tersenyum.
Prilly menghela nafas pelan, nafasnya terasa berat dan kepalanya terus berdenyut.
"Kurcil, ini kunci kamar, sekarang kamar kita hadap hadapan, setidaknya aku ga bakal denger suara berisik kamu!" seru Ali santai sambil menyerahkan kunci.
Prilly mengambil pelan kunci tersebut, ia berusaha berdiri dan berjalan pergi. Ia bahkan sebenarnya mau berterima kasih tapi ia memilih langsung berjalan pergi menahan kepalanya yang berdenyut.
Ali terlihat bingung tapi mengikuti Prilly dari belakang. Sampai didepan kamar pun Prilly masih diam. Ali pun hanya melihat sekilas karena sepertinya Prilly kelelahan dengan perjalanan mereka ke Jepang.
Ali membuka pintu kamarnya dan terkejut suara jatuh. Ia membalik badannya dan terkejut melihat Prilly pingsan.
"Eh, kurcil jangan bercanda ya!" seru Ali panik menarik Prilly dalam pelukkannya.
"Panas banget!" seru Ali lagi kaget ketika menyentuh wajah Prilly. Ternyata ia diam karena menahan sakit. Gadis ini benar-benar menyusahkannya.
Ali segera membuka kamar Prilly dan membawanya masuk ke dalam. Ali melepaskan sepatu Prilly, ia langsung mengambil handuk kecil dan langsung mengompres Prilly. Ali terdiam sejenak, ia menghela nafas sepertinya kali ini dia yang akan menjaga Prilly. Ia bergegas keluar menutup kamarnya dan mencari bantuan.
****
Ali sesekali mengigit kuku tangannya, ia berjalan bingung ke arah kamarnya Prilly. Vanesa menolak untuk membantunya, ia mengatakan ia pun sendiri tak enak badan.
"Maaf Li, tante ga enak badan, ga bisa jagain Prilly, kamu aja ya sekalian lah kan kemarin dia yang jagain kamu!"
"Tapi tante Prilly tuh sekarang.. dia.."
"Ehm, Li tante masuk ya, kebelet nih!"
"Tante.. Tante!"
Ali menggeram kesal, ia yakin tante Vanesa hanya pura-pura. Semalas itukah atau memang sengaja mengerjainya? Bagaimana mungkin seorang ibu membiarkan anak gadisnya bersama seorang lelaki. Ali menghela nafas dan masuk ke dalam. Apa ia harus menjaga Prilly? tidur bersamanya?
"Papa...." Prilly mengingau dalam tidurnya dengan nada lirih menahan perih.
Ali tersadar dari lamunannya ketika masuk mendengar isakkan Prilly. Ia langsung mendekati Prilly. Terlihat jelas Prilly berkeringat dan meracau sedih. Pendingin ruangan pun tak bisa membuat ia merasa nyaman dalam tidurnya. Ali mencoba membangunkan Prilly tapi Prilly sama sekali tak merespon.
"Kurcil, bangun!"
"Hei, bangun!"
"Papa, Prilly ga mau sendiri!" isak Prilly makin menjadi membuat Ali bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Love Is A Stranger (END)
RomanceGadis berisik dan menyebalkan yang ia sebut si kurcil selalu menggangu kerja, kalau bukan karena kerja ia tak mungkin mengikuti tour ini, ia juga mengalami patah hati membuat ia mengiyakan perintah bosnya untuk pergi ke luar negeri menikmati hal hal...
