~~Happy Reading~~
.
.
.
"Jadi, tujuan mereka adalah Hakyeon?"
"Ne, Appa! Mereka pasti mengincarnya karena tahu ia adalah seorang manusia dan kupastikan mereka akan melaksanakan serangan hari ini," jawab Taekwoon tegas. Kini namja tampan itu sedang berada di ruang utama istana untuk menghadap kedua orang tuanya. "Tapi, bagaimana bisa mereka tahu jika Hakyeon adalah manusia. Kau sudah memasang penangkal aura padanya kan?" kini giliran sang ratu andil bertanya.
Taekwoon menatap eommanya dan mengangguk. "Sudah, tapi aku tak tahu jika mereka akan sehebat ini. Lantas, apa tidak sebaiknya kita menunda upacara nanti?"usul sang pangeran. Ia tak mau terjadi apa-apa pada Hakyeon saat upacara pernikahannya berlangsung.
Sang raja terlihat berpikir, ia harus menetapkan keputusan sekarang dan keputusan tersebut haruslah matang. "Appa, kumohon tunda upacaranya. Aku tahu bahwa upacara ini akan berdampak positif padaku yang akan mengalami penyempurnaan riamo, namun hal itu tidak berlaku bagi Hakyeon. Pasca upacara adalah saat-saat terlemahnya, Appa. Aku tak ingin sesuatu terjadi padanya," bujuk sang pangeran berusaha meyakinkan sang appa.
Ratu Youngra yang setuju dengan pendapat putranya juga memandang suaminya penuh harap. Sebagai seorang toria malension atau toria setengah manusia, ia mengerti dengan pasti saat-saat di mana dirinya sangat lemah, yaitu saat setelah upacara pernikahan berlangsung. Karena pada saat itu semua aura dan juga riamo baru yang merasuki tubuhnya mulai masuk untuk pertama kalinya. Bahkan tidak hanya lemah, tubuhnya terasa amat kesakitan. Hal ini memang akan terjadi kepada semua manusia yang akan bertransformasi menjadi toria malension. Namun, efeknya akan bertambah berat saat mereka menikah dengan toria tremendous atau toria bangsawan yang tentu saja memiliki riamo yang amat banyak.
"Apakah kau bersedia menerima semua resikonya, Taekwoon ah? Appa tidak bisa memastikan sesuatu yang baik setelah ini," tanya sang raja. Taekwoon menarik napasnya dalam, kemudian mengangguk pasti. "Aku siap menanggung segalanya, Appa. Apapun akhirnya nanti."
"Baiklah, upacara pernikahan akan ditunda. Pangeran Taekwoon akan memimpin perang perlawanan kali ini, pastikan semua warga aman dan memasuki area istana. Taekwoon, Appa percaya padamu," tutur sang appa. Taekwoon mengangguk dan membalikkan tubuhnya untuk segera menyusun strategi bersama panglima Tae.
.
.
.
"Hakyeonie, kumohon dengarkan aku baik-baik." Hakyeon sontak mengerutkan dahinya kala sang pangeran yang tiba-tiba kembali ke ruang riasnya itu mengatakan sesuatu yang sepertinya penting. "Setelah melihat pesan Wongeun, kini aku tahu bahwa para penyihir itu mengincar dirimu," ujarnya. Kelopak mata Hakyeon sontak melebar saat mengetahui hal tersebut.
"M-mwo?" lirihnya bingung. "Tidak, tidak. Jangan kau risaukan hal itu, kau tenang saja. Aku akan mengumpulkan semua warga ke dalam wilayah istana sekarang, dan kumohon kau untuk tetap di istana karena mereka semua tak akan dapat menyentuh wilayah istana sedikitpun. Dan juga..maafkan aku, upacara akan ditunda dahulu. Tapi, aku berjanji, Hakyeonie. Kita akan tetap menikah setelah ini, jadi kumohon jangan pernah tinggalkan wilayah istana, mengerti?" jelas sang pangeran sembari menatap yeoja mungil di hadapannya intens.
Hakyeon mengangguk perlahan. "Arraseo, tapi kau harus berjanji satu hal Taekwoonie," tuturnya. "Berjanjilah untuk tidak terluka, mengerti?" tuturnya lagi. Senyuman teduh perlahan merekah di wajah tampan sang pangeran. "Tentu saja, Yeon ah," jawabnya lembut.
Hakyeon menggembungkan pipinya kesal. "Berjanjilah, Wooniee," rengeknya. "Iya, iya aku berjanji, bidadariku sayang," ujarnya sembari mengusap pipi Hakyeon lembut. "Baiklah, sekarang kau selamatkan para calon wargaku itu. Ingatlah untuk tidak terluka yaa."
Taekwoon mengulurkan tangannya untuk memeluk calon istrinya sejenak, setelah dirasa cukup, ia melepaskannya dan mulai berjalan menjauhi Hakyeon. "Aku berjanji, Hakyeon ah," lirihnya masih menatap Hakyeon.
Setelah Taekwoon meninggalkan ruangannya, ketiga temannya yang tadi sempat menjauh kembali mendekatinya. "Kami harap pangeran akan baik-baik saja," tutur Jiah. Hakyeon menolehkan kepalanya menatap ketiga temannya dan tersenyum. "Terima kasih," lirihnya tulus.
"Bisakah kau membantuku berganti pakaian?" tanya Hakyeon pelan. "Tentu, Putri. Dengan senang hati."
.
.
.
"Pangeran, ada kabar buruk dari istana," bisik Jokyun panik setelah menghampiri sang pangeran yang kini sedang berbicara dengan para pemimpin desa. Sontak ucapan Taekwoon terhenti dan ia langsung mengalihkan pandangannya menatap sang panglima.
"Maaf, tunggu sebentar," tuturnya meminta maaf untuk sejenak memutus obrolan mereka dan beranjak keluar dari ruangan yang digunakan untuk berdiskusi tadi. Setelah keduanya keluar dari sana, sang panglima menjatuhkan sebuah pin pararel. Kemudian, terpampanglah sosok appa dan eommanya yang terbaring di atas ranjang mereka dan terlihat kesakitan.
Tatapan terkejut tak dapat disembunyikannya. "Apa yang terjadi?" tanyanya kepada sang panglima seraya berusaha untuk mengontrol dirinya. "Yang mulia raja dan ratu tiba-tiba saja kesakitan. Uisa kerajaan berkata bahwa pusat energi keduanya mulai terliputi oleh sihir hitam, mereka bahkan tak dapat menggunakan riamo mereka sedikitpun. Saya rasa para penyihir itu sengaja melakukan ini untuk mempermudah penyerangan, Pangeran. Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya sang panglima.
Taekwoon menggertakan giginya menahan amarah, lagi-lagi ulah para makhluk hina itu. "Arggh, sial! Kita tak dapat kembali ke istana sekarang, cepat kumpulkan para warga ke wilayah istana, aku akan mencari titik lemah mereka!" gertak Taekwoon memberi arahan.
.
.
.
TBC
Annyeong~~~
How are you?? Are you great, guyss?? Wkwkwk basi:v
Sooo. how about this chapter? Ngefeel ga? Engga ya?:" soljikhi, neee~
Okayy, thanks for reading and sorry for typos~
Gimme your comment^^
#hhanie

KAMU SEDANG MEMBACA
I CAN
FantasySeorang manusia yang seenaknya datang ke duniaku dan masuk ke kehidupanku. Sosok yang membuatku mulai mengerti, seorang pangeran itu juga makhluk hidup. Makhluk yang tak dapat hidup tanpa orang lain. Ia mengajarkanku apa makna dari kata bahagia. I...