27

177 27 16
                                    


~~Happy Reading~~

.

.

.

Setelah persiapan yang matang, Lee Saehwan memerintahkan seluruh penunggang rysing untuk sedikit membuka portal agar pangeran dan yang lain dapat keluar dari wilayah istana. Kemudian, keempatnya mulai terbang untuk menuju daerah wilayah hitam.

"Yeon ah, ini terlalu cepat," lirih Taekwoon memeluk pinggang Hakyeon erat dengan tangan yang sedikit gemetar. "Ahaha jangan bilang kau takut, Woonie. Tenang saja, kau tak akan jatuh. Lagipula, kita memang harus bergegas, bukan?" balas Hakyeon sedikit tertawa.

"Eish, baiklah. Kendarai rysing ini dengan baik."

Hakyeon terkekeh pelan, "Siap, Pangeran!" candanya. Dapat yeoja mungil itu rasakan jika pelukan sang pangeran semakin mengerat, lalu tak lama bahunya terasa sedikit berat. Ia rasa sang pangeran menopang kepala pada bahunya.

'Kuharap ini dapat menjadi pertolongan terakhirku, Woonie.'

Tak terasa hari mulai gelap, namun hal itu tak menyurutkan tekad keempatnya untuk tetap bergerak maju. Memasuki wilayah kerajaan hitam memang amat sulit, bahkan Wongeun yang terbang bersama panglima Tae harus bersusah payah mencoba berulang kali. Awalnya mereka sempat berpikir bahwa Zelond takkan kuat melewati portal tersebut, namun ternyata isting hewan Carlosie tak membiarkan kawannya untuk melewatinya sendirian. Rysing putih itu ikut membantu kawannya dari jarak jauh, dan akhirnya mereka berhasil masuk dengan selamat.

"Mereka melakukan ritual di dalam hutan, dan sudah kupastikan jika istana tak akan terlalu berbahaya. Mereka semua pasti berkumpul di dekat tempat ritual, kita akan masuk ke dalam hutan melewati jalan belakang istana. Karena jika melewati arah barat itu, sudah kupastikan akan ada banyak penyihir. Bagaimana?" jelas Wongeun menyusun rencana dengan berbisik.

Taekwoon menatap namja itu, tak pernah ia bayangkan jika sosok pembunuh dongsaengnya yang amat ia benci selama ini dapat membantunya seperti ini. Bahkan demi menyelamatkan warganya, ia memberi tahu segala informasi tentang kerajaannya.

"Kita akan ikut pada rencananya," ucap Taekwoon mengalihkan tiga pasang mata tersebut. Pasalnya panglima Tae sempat beradu argumen dengan Wongeun, karena di dalam hatinya masih belum dapat menerima sepenuhnya jika penyihir muda itu ada pada pihaknya. Namun, perasaannya sirna seketika saat sang pangeran berkata demikian.

"Baiklah, kalau begitu kita akan bergerak sekarang."

Ketiganya mengangguk pasti. Setelah Taekwoon, Wongeun, dan Panglima Tae beranjak turun, kemudian mereka berjalan memasuki wilayah istana hitam dengan langkah mengendap-endap. Beruntungnya bahwa tata ruang istana tersebut yang amat luas tidak seperti istana kerajaan Tandtoria, karena dengan hal ini Hakyeon tak perlu turun dari rysingnya.

"Cepat lewat sini." Wongeun menuntun ketiganya tanpa menimbulkan kegaduhan sedikitpun, bahkan arahan Wongeun terkesan amat cepat nan tepat.

Mereka bergerak memasuki sebuah kamar yang amat luas, kamar ini sangat berbeda dengan nuansa lorong istana di luar sana. Di sini lebih terasa minimalis dibandingkan dengan design lorong yang amat kelam.

"Ambil ini. Hempaskan di depan kedua mata mereka, maka mereka tidak akan dapat melihat dalam waktu sepuluh menit," jelas Wongeun seraya menyerahkan empat bungkus kain berisikan pasir emerlad, yang diyakini dapat membutakan mata para penyihir dalam waktu yang sedikit singkat.

I CANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang