Gebi sedang duduk di kelasnya. Dia tiba di sekolah pukul enam pagi. Akibat pesan dari Bilal semalam dia menjadi susah tidur. Gebi juga heran kenapa dia bisa susah tidur hanya mendapat gombalan receh dari Bilal.
Gebi di kelas tidak sendiri, sudah ada beberapa temannya yang hadir. Ada yang datang cepat karena piket, ada juga ingin mencotek pr, ada juga karena ingin memakai wifi sekolah.
Sasa memasuki kelas dengan muka kusam. Dia berkali-kali menarik napas lalu mengeluarkannya. Sesekali kakinya dihentakkan ke lantai untuk melampiaskan kekesalannya.
Gebi melihat Sasa bingung, biasanya jika Sasa datang pasti heboh, ini tumben-tumbenan dia datang dengan muka seperti pakaian kusut. Bibirnya dimajukan, sesekali dia juga mengumpat.
"Lo kenapa, Sa?" Gebi bertanya dengan heran.
Sasa tidak menjawab, dia duduk di kursinya dengan kasar. Dia juga masih menggerutu.
"Lo kenapa sih?" Gebi memegang bahu Sasa agar sahabatnya itu melihat kearahnya.
"Gue sebel!!sebel!!sebel!!" Sasa berteriak sesekali tangannya memukul meja.
"Sebel kenapa lo? pr lo belum selesai? atau utang lo di kantin belum lunas?" Gebi masih menatap Sasa penasaran. Dia terkikik ketika mengatakan Sasa berhutang di kantin.
"Sialan lo!!" Sasa memukul bahu Gebi, yang di pukul malah tertawa melihat muka Sasa bertambah kesal. "Gue enggak punya utang!!"
Gebi masih tertawa melihat bibir Sasa tambah maju. Rasanya Gebi ingin mengikat bibir Sasa dengan karet.
"Terus lo kenapa? jangan lebay deh! di tanya dari tadi enggak di jawab-jawab. Capek gue yang nanya." Gebi ikut-ikutan menjadi kesal, dia bertanya tetapi malah diabaikan.
"Lo tau, Rian mantan gue?" Gebi mengangguk menjawab pertanyaan Sasa.
"Dia bikin gue kesel! masa dia ngikutin gue pergi sekolah karena gue nolak untuk pergi bareng dia. Padahal udah gue larang. Terus dia ngirimin gue pesan mulu di Line." Sasa memasang muka tak berdaya.
"Terus?"
"Terus dia ngajak gue balikan, gue enggak maulah balikan sama mantan brengsek kayak dia. Tukang selingkuh, cakep juga enggak tapi gayanya selangit." Sasa bertambah kesal mengingat kelakuan Rian kepadanya ketika berpacaran dulu.
"Terus?"
"Gue khilaf kali ya nerima dia dulu, atau jangan-jangan gue di pelet waktu itu." Sasa bergidik ngeri. Dia masih mengingat kenapa dia menerima Rian pada saat itu. Dia mengutuk dirinya bodoh, bisa-bisanya dia berpacaran dengan manusia seperti itu. Untung cuman sebentar batin Sasa.
"Terus?"
"Mbah lo lah, Geb!" Sasa memukul bahu Gebi kesal. "Terus terus aja yang lo bilang. Hibur gue kek, apa kek. Ini malah terus mulu." Sasa membalikkan badannya untuk tidak melihat Gebi. Dia kesal mendapat respon seperti itu ketika sedang bercerita.
Gebi tertawa melihat Sasa merajuk. Dia memegang perutnya karena geli sendiri melihat sahabatnya seperti itu.
"Maaf deh, Sa. Gue cuma mau menjadi pendengar yang baik aja." Gebi bangun dari kursinya, lalu memasang muka semelas mungkin dihadapan Sasa.
Sasa yang melihat Gebi seperti itu membuang muka. Sementara Gebi masih memasang muka melas sambil terus memohon. Sasa tak tahan juga, bibirnya berkedut menahan tawa. Dia masih mencoba marah dengan Gebi. Tapi tidak berhasil, ketika melihat muka Gebi lagi tawanya pecah.
"Gila, Geb. Muka lo jelek banget." Sasa masih tertawa, sedangkan Gebi melihat Sasa tertawa tersenyum tipis.
"Gini 'kan enak di liat muka lo. Dari pada lo kesel-kesel enggak jelas cuman karena, Rian." Gebi menepuk-nepuk bahu Sasa.
Sasa yang mengerti tujuan Gebi untuk menghiburnya kembali tertawa. Sahabatnya memang unik pikirnya. Cara dia emang beda.
"Siap bu guru!!" Sasa hormat kepada Gebi. Kemudian mereka berdua kembali tertawa.
Bilal dan Udin masuk kelas bersama. Mereka melihat Gebi dan Sasa tertawa tertegun sebentar. Kemudian senyum mereka mengembang karena melihat senyuman mereka.
Udin segera berlari menghampiri meja Gebi dan Sasa. Kemudian dia menggebrak meja mereka. Akibatnya sang punya meja terkejut. Langsung saja Sasa yang dekat dengan Udin memukulnya. Udin hanya tertawa mendapat pukulan dari Sasa. Sasa yang melihat Udin tertawa bertambah kesal. Dia menarik rambut Udin tampa ampun.
Gebi dan Bilal tertawa melihat kelakuan Udin yang suka mengganggu Sasa. Kadang-kadang dia juga suka mengikuti Sasa kemana-mana. Udin sudah menargetkan Sasa sebagai Raisa dan dia sebagai Hamish.
***
Sekarang anak kelas Xl Ipa 1 sedang berganti pakain olahraga. Karena pelajaran selanjutnya adalah pelajaran olahraga. Anak kelas sedang sibuk bertengkar, anak cewek menyuruh anak cowok keluar kerena merek ingin berganti pakain di kelas. Sementara anak cowok tidak mau keluar. Jelas saja itu membuat anak cewek kesal.
"Keluar kalian!!" Caca si bendahara kelas berteriak kesal. Dia sudah berkali-kali menyuruh mereka keluar tapi tidak dipedulikan.
"Ganti baju ya tinggal ganti baju aja," kata Rafi santai. Dia menopang dagu dengan anak cowok lainnya menunggu anak cewek berganti baju. Mereka seolah menunggu tontonan gratis di depan mata mereka.
Gebi sudah kesal melihat kelakuan anak cowok kelasnya. Gebi melihat Bilal yang sama saja seperti yang lain. Dia mengambil sapu di ikuti dengan Sasa yang mengambil sekop. Lalh mereka mendekati anak cowok dengan wajah garang.
"Keluar enggak!" geram Gebi melihat mereka. Dia sudah mengangkat sapu bersiap untuk memukul mereka.
Anak cowok yang mendeteksi bahaya akan datang langsung saja bergegas lari keluar. Mereka tidak mau mendapat pukulan cantik dari Gebi. Apalagi dari Sasa si anak silat. Bisa berabe kan kalau Sasa mengeluarkan jurus karatenya.
Bilal yang melihat Gebi marah tertawa, menurutnya ketika Gebi sedang marah itu lucu. Apa lagi mukanya sudah merah seperti tomat karena menahan marah.
Gebi yang merasa dirinya di lihat langsung saja mencari pelakunya. Dia melihat Bilal yang tertawa sambil melihat kearahnya.
"Apa lo ketawa-ketawa!!" kata Gebi galak, dia menatap Bilal sinis.
"Yaelah, yang. Santai kayak di pantai, cepat tua loh kalau marah-marah." Bilal menggoda Gebi dengan mengedipkan satu matanya.
Gebi yang masih kesal karena anak cowok kelasnya bertambah kesal dikatain Bilal tua.
"Apa lo bilang? keluar sana lo!!" Gebi mengejar Bilal untuk memukulnya dengan sapu yang masih ditangannya. Bilal tentu saja ikut berlari untuk menghindari sapu Gebi.
Tak jauh beda dengan Sasa yang mengejar Udin. Dia kesal dengan Udin yang tidak mau keluar. Padahal jam pelajaran olahraga akan dimulai sebentar lagi. Sementara anak cewek belum berganti baju.
Tau sendiri kan kalau anak cewek itu ribet. Kalau anak cowok tinggal buka celana buka baju langsung pakai baju olahraga. Sementara anak cewek kalau berganti baju susah, ada aset berharga yang harus mereka lindungi dari mata-mata genit.
"Keluar lo, Udin!!" teriak Sasa kepada Udin yang sedang berlari.
***
Maaf typo dan kekurangan yang ada di dalam cerita ini.
Dumai, 29 Maret 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Gebi #ODOCTheWWG
Novela Juvenil[BELUM DIREVISI] Ini lucu, sungguh menggelikan, di saat aku berjuang untuk mendapatkan sesuatu malah orang lain yang mendapatkan. Bukankah takdir ini lucu. Gebi salah satu siswi di SMA Harapan Jaya, sekarang duduk di bangku XI Ipa 1. Kebiasaan Gebi...
