Up! Up! Up! Makasih yang sudah mau baca cerita abal - abalan ini. Cerita ini adalah karya author yang sering mengkhayal tentang sosok Bian alias Hanbin. Author lebih suka manggilnya Bian. Bikos apa? Karena suka aja. Oke sekian curhatan dari author. Selamat membaca. Kecup jauh dari calon masa depannya Bian 😘
———
Bian menghela nafasnya. Setelah turun dari wahana sialan itu, ia tidak lagi merasakan mual yang ada diperutnya. Lisa memandangi pria itu sedari tadi. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan tawanya agar tidak meledak begitu saja.
Merasa dipandangi, Bian menoleh kearah Lisa. Menampilkan senyuman terbaik yang ia punya. Bukan senyuman manis yang ia harapkan, tetapi sebuah senyuman canggung yang ia dapatkan. Sudut bibir Lisa berkedut.
"Gue emang sengaja kayak gitu biar lo itu ketawa. Dan bom! Gue berhasil bikin lo ketawa, " ucap Bian dengan percaya diri.
"Terserah lo! Kalau emang takut ketinggian tuh bilang. Jangan sok berani, kalau ujung - ujungnya lo itu bikin gue malu dengan teriakan lo tadi, " jelas Lisa. Gadis itu berlalu meninggalkan Bian ditempat.
Bian menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian berlalu menyusul Lisa yang sudah berjalan didepannya. Ia mengimbangi jalan gadis disampingnya.
"Lo malu sama gue? " Tanya Bian.
Lisa menghentikan langkahnya, ia menatap Bian yang tengah memasang wajah seriusnya.
"Siapa juga yang gak malu kalau lo teriaknya paling kenceng dari semuanya, " ia menoyor dahi pria itu.
Bian tersenyum.
"Gak apa - apa gue bikin lo malu. Yang penting gue bisa bikin lo senyum, " jawabnya diiringi dengan senyuman. Senyuman yang bisa membuat Lisa membeku ditempatnya. Jika Bian tidak membuyarkan lamunan gadis itu dengan meniup wajahnya, mungkin saja Lisa masih berdiri ditempat sampai malam hari.
"Cari makan yuk. Laper gue, " ajak Bian. Dan jawab anggukan oleh Lisa.
Lisa memakan pasta didepannya dengan lahap. Ia sangat kelaparan sejak tadi. Bagaimana tidak, ia bahkan belum sarapan tadi pagi gara - gara terlambat tadi. Ia bahkan tidak perduli dengan keadaan bibirnya yang berlepotan karena makannya tadi.
Gadis itu membulatkan matanya ketika sebuah tangan menyapu bibirnya. Membersihkan saos yang tertinggal dibibirnya.
"Kalau makan itu pelan - pelan. Gak ada yang mau ngambil makanan lo, " ucap Bian.
Lisa tidak menjawab, juga tidak membantah seperti biasanya. Ia tersadar dan segera mengambil tisu yang ada didepannya.
"Gue bisa sendiri! "
Bian menarik kembali tangannya dan menjilat sisa saos yang tertinggal ditangannya.
"Jorok banget sih! " Cibir Lisa.
"Mubadzir Lis, " Bian menyengir kuda.
Wuah! Seksi bro!
Mana gue lihat!
Samar - samar Bian mendengar obrolan dimeja sampingnya. Ia menoleh. Beberapa pria yang mengenakan seragam SMP itu menatap kearah Lisa. Bukan kearah gadis itu, tetapi menatap kearah bawah meja Lisa. Bian mengikuti arah pandang pria itu. Begitu ia terkejut, objek pandangan pria itu adalah rok Lisa yang tersingkap.
Bian bangun dari duduknya, menghampiri kearah meja pria tersebut. Urat wajahnya terlihat jelas. Seperti ucapannya tadi. Ia tidak suka tubuh Lisa dipandangi oleh orang lain. Apalagi kali ini tepat didepan matanya.
"Hei! Lihat apa kalian?! "tanya Bian ketika sampai dimeja para pria itu.
Salah seorang pria dengan rambut disemir warna coklat itu berdiri menghampiri Bian.
"Wuah! Ada pahlawan kesiangan disini, " ucapnya dengan seringaian.
Bian mencerbikkan bibirnya, "ckk.. Kalian itu kelas berapa? Masih bocah tapi kelakuan kayak gini. Mau jadi apa negara ini nantinya kalau masih bocah aja udah suka sama porno! " Cibir Bian.
Salah seorang pria ikut berdiri menghadang Bian. Raut wajah pria itu sangat ketara jika ia tengah meredam amarahnya. Bian ikut membalas tatapan sinis dari pria itu.
"Pergi dari sini! Suciin pikiran lo! Biar pelajaran yang lo terima itu masuk, " ucap Bian dengan menepuk pundak kanan pria didepannya.
Pria berambut coklat itu berbalik, menginstruksikan untuk teman - temannya pergi dari sana.
"Jika bukan karena ada guru gue disini. Gue bakal hajar lo, " ucap pria didepan Bian tepat disamping telinganya.
Bian tersenyum sinis, "gue gak takut!"
Lisa sedari tadi mengamati pria itu yang tengah melakukan perang pandangan dingin. Bian kembali kearah mejanya, ia melepas jaketnya dan mengulurkannya pada Lisa.
"Ini adalah alasan gue nyuruh lo pake jaket gue buat nutupin paha lo, " uluran jaketnya tidak dibalas oleh Lisa. Ia menghela nafas, menarik tangan Lisa untuk berdiri.
Bian berjongkok didepan Lisa.
"Mau ngapain lo? " Tanya Lisa panik.
"Tenang, gue gak bakal mesumin lo disini kok, " balas Bian dengan entengnya.
Pria itu menalikan jaket jeans yang ia miliki kepinggang Lisa. Membuat gadis itu membeku ditempatnya. Bahkan ia tidak menyadari jika Bian sudah menyelesaikan tugasnya.
"Mau pulang kapan? " Tanya Bian.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Bahkan sampai kedetik kelima, belum juga ada jawaban dari Lisa. Kemana perginya sosok Lisa yang cerewet? Apakah nyawa gadis itu belum kembali pada raganya? Apakah ini akibat dari perlakuan Bian kepadanya tadi?
Bian menggerakkan tangannya didepan wajah Lisa.
"Lis.. Mau pulang kapan? "
Lisa tersentak, ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menjawab.
"Sekarang! "
"Semangat banget sih Lis, " tangan Bian terulur untuk mengusap pucuk kepala Lisa. Tapi segera ditepis oleh gadis itu.
"Apaan sih lo! "
***
Lisa mengulurkan jaket yang melekat dipinggangnya pada sang pemilik.
"Pulang. Udah sore, " ucap Lisa.
Mata Bian menyipit, "gak disuruh masuk dulu. Kasih minum kek atau apa gitu. "
Lisa menggeleng.
Bian mendengus, ia melihat sesosok wanita paruh baya yang berdiri dibelakang Lisa. Ia menyapa wanita itu dengan sebuah senyumannya.
Lisa menengok, "nenek. Kok sudah pulang. Restoran sudah tutup? "
Lucy mengangguk, "Lis. Ajak temen kamu masuk dulu. Bikinin minun sana. "
Bian tersenyum. Ia mengedipkan matanya kearah Lisa. Seakan berkata.
Gue berhasil kan?
Lisa membalas kedipan mata Bian dengan tatapan tajamnya.
Pulang lo!
Bian turun dari motornya, "gak usah repot - repot nek. Tapi kalau dipaksa sih saya bisa apa. " Ia menampilkan senyuman lebarnya pada wanita paruh baya itu yang tak lain adalah nenek dari gadis disampingnya.
"Yasudah. Ayo masuk. " Lucy menggiring Bian untuk masuk keadalan istana kecilnya itu.
Bian mendudukkan tubuhnya pada sofa rumah Lisa. Matanya mengamati setiap sudut dari ruang tamu rumah Lisa.
"Gak usah jelalatan tuh mata! " Sindir Lisa yang keluar dari dalam rumahnya dengan membawa senampan minuman.
"Makasih, " Bian menarik senyumnya lebar.
Sial! Jangan senyum bodoh!
Lisa membatin, ia mengambil duduk didepan Bian. Meremas tangannya, entah kenapa ia merasa gugup. Sangat tidak masuk akal. Tak lama neneknya datang dan bergabung dengan mereka. Dalam hati, Lisa bersorak gembira. Setidaknya rasa gugupnya berkurang 2%.
Lucy mengulurkan selembar kartu kearah Bian, "ambil! Karena kamu sudah mengantar Lisa pulang. Kamu dapat kupon gratis direstoran saya. Restoran depan gang sini, itu adalah milik saya. " Jelas Lucy.
Bian mengangguk.
Lisa bangun dari duduknya, "baiklah. Karena sekarang lo udah dapet kupon gratis dari nenek gue. Sekarang lo pulang. Bentar lagi malem. Ntar lo dicariin nyokap bokap lo. Bye Bi. Makasih udah nganterin gue. " Lisa menarik tangan Bian untuk berdiri. Sekaligus mendorong tubuh pria itu keluar dari rumahnya.
"Saya pulang dulu ya nek. Makasih buat kuponnya, " tak lupa ia juga berpamitan dengan Lucy—nenek Lisa.
Lucy tersenyum, membalas ucapan Bian tadi. Setelah motor pria itu menghilang dari halaman rumahnya. Wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada sang cucu.
"Pacar kamu ya Lis? " Tuding Lucy.
Mata Lisa membulat, "ya enggak lah nek. Masa Lisa pacaran sama cowok yang wujudnya kayak gitu! "
Lucy terkekeh, "wujudnya kayak gitu gimana maksud kamu? Orang dia ganteng kayak artis korea - korea gitu kok. Kayak leadernya grup apa itu namanya.. Kon - kon apa itu.. "
"Nah iya. Ikon. Kayak leadernya Ikon itu lho. Siapa namanya lupa. " Lanjut Lucy.
Lisa memutar bola matanya, "serah nenek. Kayaknya nenek perlu mengurangi suka Korea - Koreaan. Ini gara - gara si Jennie sih nularin virus ginian ke nenek. " Ia berjalan mendahului neneknya sambil menggelengkan kepalanya.
"Nanti suruh Jennie bawa albumnya BTS yang baru ya. Nenek mau pinjem!" Teriak Lucy karena cucunya itu sudah berjalan mendahuluinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REFLECTION [ Selesai ]
Novela Juvenil"Ini gak masuk akal. " Gue sayang sama dua orang yang memiliki hubungan darah. Bahkan kembar.
![REFLECTION [ Selesai ]](https://img.wattpad.com/cover/150206261-64-k902856.jpg)