Lisa kembali ke kelasnya, setelah menemani Bryan makan tadi. Ia memutuskan untuk menemui Bian dan memberikan kotak bekal untuk pria itu. Ia menatap ruang kelas didepannya itu sudah penuh. Tapi lagi - lagi selalu kosong pada samping tempat duduknya.
Seseorang melewatinya dari belakang. Ia adalah Bian. Lisa menarik senyumnya sebelum berjalan mengekori Bian. Setibanya di tempat duduk, Lisa mengulurkan kotak bekal itu kearah Bian. Pria itu mengerutkan dahinya.
Gak cuma Bryan aja ternyata.
Ia menarik seulas senyumnya, "buat gue? "
Lisa mengangguk mantap. Ia kembali tersenyum lebar ketika tangan Bian mengusap kepalanya.
"Makasih sayang, " lirih Bian.
Sebuah sorakan dari bangku belakang membuat Bian melepaskan tangannya dari kepala Lisa.
"Ciee.. Ehem.. Ehem.. Ada yang udah jadian nih! " Goda June.
Lisa menoleh kebelakang, "sibuk lo! "
Seketika June langsung terdiam.
***
Gadis itu, Lisa. Dengan keringat bercucuran dipelipisnya. Tidak membuat gadis itu berhenti untuk memukul lawan didepannya. Bukan lawan, lebih tepatnya adalah Samuel, adiknya. Ia tengah berlatih tinju, setelah beberapa lama ia melupakan latihan rutinnya bersama sang adik.
Bian, pria itu mengamati Lisa yang sedang berlatih dengan terperangah. Ia begitu takjub ketika Lisa beberapa kali bisa menghindari tinjuan tangan dari Samuel. Senyumnya mengembang. Ia melirik ponsel Lisa yang berada disebelahnya yang berbunyi beberapa kali.
Ia memilih untuk mengangkat telfon itu. Sebuah panggilan masuk dari Bryan. Bian menghela nafasnya, sebelum akhirnya ia mengangkat telfon itu.
"Halo," sapanya.
Tidak ada jawaban dari penelfon diujung sana. Hanya terdengar helaan nafas.
"Bang.. " panggil Bryan diujung telfon.
Bian terkejut, apakah semudah itu suaranya dikenali oleh sang adik? Atau memang Bryan sudah mengetahui semuanya dari awal.
Bian berdehem, menjawab panggilan dari adiknya.
"Jangan sampai bikin Lisa nangis ya bang, " ia menjeda kalimatnya.
"Kita perlu ngobrol. Temuin gue dilapangan basket tempat biasa satu jam dari sekarang. " Lanjutnya.
Bian menghela nafasnya, ia menutup telfon itu dan meletakkannya kembali ditempat. Fikirannya masih berpusat pada Bryan adiknya.
"Gak seharusnya gue sayang sama lo, Lis. " Lirihnya lurus kearah Lisa yang sedang tertawa atas kemenangannya. Bian menarik sudut bibirnya keatas. Membalas senyuman Lisa kepadanya.
***
"Lo tau gue sayang sama Lisa kan bang, " ucap Bryan menunduk. Menatap bola basket yang ia pegang.
Bian kembali berdehem.
"Lo tau cuma dia yang ngulurin tangan ke gue saat itu kan? "
Bian berdehem kembali.
Bryan menarik nafasnya, ia memutar pandangannya kearah Bian. Dan dibalas oleh Bian.
"Gue sayang Lisa bang. Tapi gue juga sayang sama lo, " ucap Bryan.
"Jadi—" ucapan Bryan terputus.
Bian mendekat kearah adiknya itu. Ia menepuk pundak Bryan beberapa kali. Menarik senyumnya, "gue bakal tinggalin Lisa."
Pria itu berlalu begitu saja setelah mengucapkan satu kalimat yang membuat Bryan terkejut. Ia menatap punggung sang kakak yang mulai menjauhinya.
"Jadi biarin gue pergi supaya Lisa bisa bahagia sama lo bang. Itu yang mau gue omongin tadi, " lirihnya.
Mungkin dalam hati Bryan, tawa Lisa adalah prioritasnya. Ia akan membuat gadis itu tertawa lepas meskipun tidak dengannya. Membuat gadis itu sampai lupa cara untuk menangis karena terlalu asik tertawa.
Setidaknya gadis yang ia cintai akan bersanding dengan orang yang sangat ia percayai. Kakaknya, tapi keputusan Bian tadi membuatnya kembali berfikir. Apakah akan ada tangis lagi setelah tawa?
***
Bian tersenyum miris untuk dirinya sendiri. Ia merasa ini adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.
"Sudah cukup lo buat adik lo itu menderita, tolol! " Umpatnya pada diri sendiri.
Ia terduduk dibangku taman disekitar Lisa latihan tadi. Gadis itu memintanya untuk menunggu disini. Karena gadis itu akan segera selesai latihan tinju. Bian menatap kearah Lisa yang tengah berjalan dengan senyuman mengembang dibibir mungil gadis itu. Rambutnya yang dikuncir kuda bergerak seirama dengan langkah kakinya.
"Lo cantik, Lis. Tapi maaf, gue harus ambil keputusan ini. " Lirih Bian.
Ia menarik senyumnya ketika gadis itu sudah berada didepannya. Dari jaket bombernya itu ia mengeluarkan sebungkus permen lolipop, diulurkannya pada Bian.
"Lolipop akan selalu membuat lo mengingat gue, " ucap gadis itu.
Bian menarik senyumnya, tangannya terulur untuk mengusap kepala Lisa lembut.
"Gue sayang sama lo. " Balas Bian.
Tapi gue harus ninggalin lo.
Pria itu bangkit dari duduknya, mengambil tangan Lisa dan digenggamnya.
"Kita mau kemana sekarang? "
Gadis itu sempat berfikir, "gue mau makan permen kapas! " Ucap gadis itu antusias.
Bian tersenyum, ia menarik ujung hidung Lisa pelan.
"Kita beli permen kapas! "
Senyuman terukir dibibir Lisa gadis itu menyelipkan permen lolipop disaku jaket Bian tanpa sepengetahuan pria itu.
Bian menatap Lisa didepannya yang tengah memakan permen kapas dengan sangat lucu. Senyuman dibibirnya kembali memudar. Mengingat apa yang telah ia katakan pada Bryan tadi.
....gue bakal tinggalin Lisa....
Ia meremas rambutnya frustasi ketika mengingat hal itu.
"Hari ini. Cuma hari ini aja gue mohon, " lirihnya.
Ia berjalan menghampiri Lisa dan segera memakan permen kapas itu langsung. Membuat Lisa yang juga sedang memakannya itu kaget. Ia segera menarik bibirnya dari permen kapas itu. Menjauhkan tubuhnya dari Bian.
"Apaan sih Bi! " Ucapnya sewot.
Bian mengambil sisa permen kapan dari bibir Lisa. Memakannya begitu saja, "santai Lis. " Ucapnya diiringi seringaian.
Lisa hanya mendengus, ia kembali melanjutkan makannya yang tertunda. Melangkah kan kaki melewati stand makanan di festival makanan ini. Matanya mengamati sekelilingnya. Makanan - makanan yang membuatnya lapar. Mata Lisa membulat ketika tangannya digenggam oleh Bian. Ia menoleh menatap pria itu. Tapi tentu saja Bian menunjukkan sikap biasanya.
Ia menarik tangannya kembali tapi tertahan oleh Bian. Ia kembali menoleh kearah pria itu.
"Biarin kayak gini aja. Gue takut kehilangan lo, " ucap Bian.
Lisa mendengus, "gue gak bakal hilang. Gue udah gede, Bi! "
Bian menatap Lisa dengan tatapan yang sulit diartikan.
Gue beneran takut kehilangan lo, Lis.
Merasa ada yang natap, gadis itu pun menoleh. Dan benar, Bian tengah menatapnya dengan tatapan anehnya. Tangannya mengetuk dahi Bian pelan
"Jangan lihatin gue kayak gitu! "
Bian menarik senyumnya, semenjak bersama Lisa. Entah kenapa pria itu lebih sering tersenyum.
"Lo cantik. Gue mau pandangi lo sepuas gue." Balas Bian yang berhasil membuat pipi gadis itu merona.
Karena ini terakhir kali gue bisa pandangin lo selama ini.
———
Pada gereget sama keputusan Bian ya? Namanya juga saudara. Apa lagi saudara kembar. Mereka maunya gak bikin masing - masing sakit hati. Pada dasarnya emang kakak ngalah sama adik kan? Haha.. Tunggu aja nanti kelanjutannya ya.
Tinggalkan jejak oke?
Kudus, 1 Juli 2018
Wlnd0511
KAMU SEDANG MEMBACA
REFLECTION [ Selesai ]
Teen Fiction"Ini gak masuk akal. " Gue sayang sama dua orang yang memiliki hubungan darah. Bahkan kembar.
![REFLECTION [ Selesai ]](https://img.wattpad.com/cover/150206261-64-k902856.jpg)