Happy reading
***
Lisa, gadis itu tengah termenung menatap keluar jendela. Tidak ada siswa - siswi yang tengah lewat sekarang. Fikirannya terpecah, sebagian memikirkan pelajaran yang tengah berlangsung, sebagian lagi memikirkan Bian.
Siapa gadis yang menghampiri Bian tadi? Itu lah pertanyaan yang selalu muncul diotaknya. Senggolan dibahunya membuat ia terdasar, ia menoleh kesampingnya. Menatap Chan seolah berkata, ada apa?
Pria itu menarik buku Lisa, menuliskan sesuatu disana.
"Percaya, itu adalah hal yang paling sulit dilakukan manusia. Tapi itu patut dicoba. " Tulis pria itu pada buku Lisa.
Lisa meringis, percaya ya? Gadis itu kembali menatap lurus kedepan. Bukan papan tulis. Melainkan jam yang ada diatas papan tulis.
Lima, empat, tiga, dua, satu, ucapnya membatin.
Setelah itu terdengar suara bel jam istirahat. Ini adalah saat yang paling ditunggu oleh Lisa.
Setelah guru itu keluar dari kelas. Tak ingin menyia - nyiakan waktu, gadis itu sudah bergegas pergi meninggalkan kelas.
Langkah kakinya membawa ia ke gedung olah raga. Gelap, itu lah yang ia lihat saat ini. Gedung ini hanya akan ramai ketika ada pertandingan yang sebelumnya sudah diumumkan lewat speaker sekolah.
Lisa mengambil duduk di tengah lapangan basket itu. Ia menekuk lututnya. Menenggelamkan wajahnya dilututnya. Helaan nafasnya terdengar sangat berat.
Putaran memori beberapa hari yang lalu kembali berputar diotaknya. Setidaknya itu adalah memori manis kenangannya bersama Bian. Sebelum pria itu bersama gadis lain yang bahkan tidak ia ketahui.
Suara dari bola yang di dribble membuat ia mendongak. Seorang pria tengah meloncat untuk memasukkan bola itu kedalam ring. Samar - anar Lisa dapat melihat pria itu yang tersorot cahaya dari jendela.
Pria itu berjalan mengambil bola yang terjatuh ketika berhasil memasuki ring. Ia membawa bola itu dan melemparkannya kearah Lisa. Untung saja gadis itu dengan sigap menangkap bola lemparan pria yang tidak ia ketahui itu.
Lisa menghela nafasnya ketika mengetahui jika pria itu adalah Bryan. Ia mengambil duduk disamping Lisa. Menjadikan tangannya sebagai tumpuan dibelakang. Ia menoleh kearah Lisa.
"Ada apa kali ini? "
Lisa menunduk, memainkan bola yang ia pegang. Merasa tidak dijawab, Bryan mengubah posisinya. Ia bersila didepan Lisa. Menatap wajah gadis itu dalam - dalam.
"Lo gak bisa nyembunyiin masalah lo dari gue Lis." Ucap Bryan lagi.
Lisa mengangkat wajahnya. Ia membalas tatapan dari Bryan. Tangannya terulur untuk mengusap rambut pria itu. Memberantakkan rambut Bryan yang selalu rapi.
"Gue gak ada masalah, Bry. " Ia menepuk roknya ketika bangun. Mengambil bola dan melemparkannya pada Bryan kembali.
"Ayo main, " ajak Lisa.
***
Bryan menjatuhkan tubuhnya kelapangan. Ia menutup wajahnya dengan tangan miliknya. Senyumannya kembali terukir dibibir. Terdengar nafasnya yang memburu. Seragam yang ia kenakan sudah terlepas, menyisakan kaos berwarna putih yang penuh keringat.
Bryan membuka matanya, menatap gadis di sampingnya yang juga tengah mengatur nafasnya. Gadis itu juga tengah tersenyum disela - sela nafasnya. Ia kembali menatap lurus kedepan.
Bryan memposisikan tubuhnya untuk duduk.
"Jangan nyakitin diri lo sendiri, " ucap Bryan tiba - tiba.
Gadis itu cukup tersentak hingga membuatnya menoleh. Ia menautkan alisnya.
"Cukup jangan sakitin diri lo sendiri, udah cukup buat gue, " Bryan bangun dari duduknya. Mengusap rambut Lisa pelan.
"Jangan bikin gue khawatir. "
Lisa menatap punggung Bryan yang mulai menjauh darinya.
Dia khawatir sama gue?
"Cuma lo yang gak pernah nyakitin gue, Bry. Dan jangan sampe. "
***
Bryan menatap lurus jalanan dibawahnya. Pertemuannya dengan kakaknya didepan gedung olahraga tadi menjadi alasannya untuk berdiri di atap gedung sekolah.
"Apa yang udah lo lakuin sama Lisa bang? " Tanya Bryan tanpa menoleh kearah kakaknya.
Bian menghela nafasnya, ua berjalan mendekati sang adik.
"Rose, cewek itu namanya Roseline. "
Bryan menoleh, "Rose? " Ulangnya.
Bian mengangguk, ia memegang pundak adiknya itu.
"Cewek yang waktu itu nyamperin gue saat main basket tadi, " jelas Bian.
Bryan menepis tangan kakanya pelan. Ia menatap tak percaya pada sang kakak.
"Jadi Lisa sedih gara - gara cewek itu?" Tanya Bryan memastikan.
Bian mengangguk.
Bryan kembali menatap lurus kearah jalanan dibawahnya.
"Cukup kali, jangan buat Lisa sedih karena lo deket sama cewek lain. "
"Gue gak bisa, Bry! "
Bryan menoleh dengan tatapan tak bersahabat.
"Maksud lo apa? Abang gue bukan cowok brengsek! "
Bian menghela nafasnya. Ia kembali memegang pundak Bryan, tapi segera ditepis oleh pria itu.
"Gue udah janji bakal ninggalin Lisa buat lo. "
Pria berkaca mata itu menggeram. Ia meraih kerah seragam kakaknya.
"Tapi gue belum ngomong setuju bego! " Teriaknya tepat didepan wajah Bian.
Tidak ada tolakan dari Bian. Pria itu hanya menerima apa yang adiknya lakukan padanya. Bryan melepaskan cengkraman tangannya pada kerah Bian setelah tersadar.
"Maaf bang, " pintanya.
Bian maju selangkah, mendekati adiknya.
"Gue mau lo buat Lisa bahagia bang, " lirih Bryan. Sorotan matanya berubah menjadi sendu.
"Tapi gue gak mungkin ngerebut kebahagiaan adik gue sendiri. Kembaran gue sendiri, " tolak Bian.
Rahang Bryan mengeras. Otot lehernya tercetak jelas dibalik kulitnya.
"Kalau itu mau lo. Oke! Gue lakuin. Jangan nyesel kalau lo beneran kehilangan Lisa bang! " Bryan mendorong kakaknya kesamping.
Karena gue tau lo cowok yang baik buat Lisa, Bry.
***
Makasih udah mau baca cerita saya. Tinggalkan jejak ya. Makasih.
Kudus, 11 Juli 2018
Wlnd0511
KAMU SEDANG MEMBACA
REFLECTION [ Selesai ]
Roman pour Adolescents"Ini gak masuk akal. " Gue sayang sama dua orang yang memiliki hubungan darah. Bahkan kembar.
![REFLECTION [ Selesai ]](https://img.wattpad.com/cover/150206261-64-k902856.jpg)