Jangan bermain - main dengan hati. Karena hati akan selalu mengingat sakit yang membuatnya terluka.
***
Lisa tercengang ketika Bian mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju UKS. Bian meletakkan tubuh Lisa dengan hati - hati dikasur UKS.
Tanpa mengucapkan satu katapun ia berlalu dari sana. Lisa sempat kecewa ketika pria itu meninggalkannya. Tapi setidaknya ia sudah mengetahui jika pria itu masih peduli dengannya.
Tirai di UKS terbuka. Bian kembali masuk dengan membawa kotak p3k ditangannya. Senyuman Lisa yang tadi hilang kini sudah muncul kembali. Ia mengamati dengan teliti. Merekam apapun yang dilakukan pria itu. Menyimpannya, berjaga jika nanti Bian akan berubah lagi. Semoga tidak.
"Tahan, ini akan sakit. " Ucap Bian. Lisa menatap wajah pria itu yang terlihat begitu serius ketika mencabut pecahan kaca dikakinya itu. Ia sempat meringis ketika pecahan kaca itu terlepas dari kakinya.
Apakah aku harus terluka setiap hari agar kamu bisa kembali hangat padaku?
"Selesai, " ucap Bian. Lisa menatap kearah kakinya yang kini sudah diperban dengan rapi oleh Bian. Senyuman mengembang dibibir gadis itu.
Lisa menahan tangan Bian ketika pria itu hendak pergi dari hadapannya.
"Bi, " panggilnya.
Bian sama sekali tidak menoleh kearah Lisa. Ia berhenti, namun sama sekali tidak menatap gadis itu.
"Bi, aku mau ngomong sama kamu. "
Pintu UKS yang tadinya tertutup kini terbuka. Memunculkan sosok Bryan yang tengah berlari dengan raut wajah cemas. Bryan menghentikan langkahnya ketika melihat Bian berada disana.
"Bang, " sapanya.
Bian melepaskan tangan Lisa dari lengannya. Pergi meninggalkan ruangan UKS tersebut. Melihat raut wajah khawatir dari adiknya itu. Semakin membuat ia yakin jika keputusannya itu benar. Bryan sangat mencintai gadis itu. Sama seperti dia. Tapi Bryan lebih lama mengenal Lisa. Dan itu adalah satu langkah lebih unggul.
"Abang? " Tanya Lisa.
Bryan mengalihkan pandangannya ke Lisa. Ia mengangguk, "ya abang. Bian adalah kembaran gue. " Jelas Bryan.
Lisa menautkan alisnya. Antara percaya dengan tidak. Dimanakah ia menjatuhkannya.
"Maksud lo apaan Bry? Gue gak paham. "
Bryan mendekat kearah ranjang UKS. ia mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan sebuah foto dirinya dengan Bian sewaktu kecil. Mereka sangat mirip sewaktu kecil. Tapi seiring berjalan waktu. Terdapat beberapa perbedaan wajah keduanya. Hampir tidak bisa dilihat jika keduanya adalah kembar.
Lisa menyipitkan matanya ketika melihat foto dua anak laki - laki itu.
"Imbryan Alexandro Domanic. Bian Inova Domanic, " lirih Lisa.
"Ya, kita memiliki nama keluarga yang sama. Domanic, papa gue sama Bian. " Potong Byan.
Lisa menoleh kearah Bryan. Menatap pria itu dengan tatapan tak percaya.
"Ini gak masuk akal. "
Gue sayang sama dua orang yang memiliki hubungan darah. Bahkan kembar.
"Kocak banget ya, " Lisa tertawa sinis. "Kayak ada di cerita - cerita. Lucu banget. Sampe hampir gak percaya gue, " lanjutnya. Ia turun dari kasur itu dan berlalu meninggalkan ruang UKS.
Lisa sama sekali tidak menduga jika hal ini terjadi padanya. Memiliki rasa sayang pada seorang saudara kembar? Ini hampir tidak masuk diakal fikiran Lisa.
Jika ia bersama Bian, Bryan pasti akan bersedih. Begitu juga sebaliknya. Jika ia bersama Bryan, Bian akan lebih menjauh darinya. Diantara dua orang tersebut, ia bahkan belum bisa membedakan antara cinta dan sayang.
Cinta adalah ketika kamu merasakan deberan ketika bersamanya. Dan sayang adalah rasa nyaman yang muncul begitu saja karena selalu bersama. Siapa yang ia cintai? Siapa yang ia sayang?
***
BIAN
Melihat raut wajah khawatir dari Bryan tadi membuat aku tersadar. Jika adiknya itu sangat peduli dengan Lisa. Meskipun ini sakit, ini adalah keputusan paling benar yang aku buat. Meninggalkan Lisa. Membiarkan gadis itu bersama dengan pria yang mencintainya, Bryan.
Aku berjalan menaiki satu persatu tangga, menuju tempat dimana aku bisa membuat diriku tenang. Atap sekolah. Semua keburukan dari sosok Bian ada disana. Atap. Dimana banyak putung - putung rokok disana. Dan aku adalah nama pertama dari pelaku disana.
Aku membuka bungkusan yang masih tersegel itu. Mengambil satu batangan dan menyelipkannya dibibir. Menyulutnya dengan api. Menghisapnya kuat - kuat lalu kuhembuskan dengan perlahan. Menghilangkan rasa bersalah dalam diriku secara perlahan.
Hingga sebuah decitan dari pintu besi tua itu membuat aku terkejut. Tanpa aku melihatnya, aku sudah tau jika itu adalah Lisa. Ia berjalan mendekatiku. Lebih tepatnya berdiri didepanku. Aku segera mematikan rokok yang tadi aku nyalakan. Aku tidak menginginkan ia menjadi seorang perokok pasif karenaku. Cukup aku saja yang hancur.
"Jadi itu alasan lo? " Lirihnya.
Aku menengadahkan kepala, membalas tatapannya yang menajam kearahku. "Apa? " Tanyaku.
Ia menarik senyumnya. Senyuman sinisnya itu berhasil membuat hatiku sakit.
"Jadi ini alasan lo ngejauhin gue? Karena lo sama Bryan adalah saudara kembar. Dan lo tau kalau dia itu sayang sama gue. Jadi lo ninggalin gue gitu aja? Bener Bi? "
Aku terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Lisa. Aku meraih tangannya yang gemetar itu, menggenggamnya. Tetapi tidak lama, ia segera melepaskan genggaman tanganku.
"Lo gak bisa jawab kan? " Tudingnya. Ia menarik seringaiannya. "Udah gue tebak. " Gigi putihnya itu terlihat jelas ketika ia tertawa kecil. Tawa palsu yang ia tunjukan. Semakin membuat hatiku seperti diremas.
Aku mencoba untuk menggenggam tangannya itu kembali. Ia langsung menepisnya. Aku bisa melihat sorotan kebencian terpancar dari matanya.
"Dengerin gue Lis, " lirihku memohon.
Ia mengalihkan pandangannya dariku seakan memandangku itu haram baginya.
"Jelasin, " ucapnya dingin.
Aku menarik nafas. Mencoba untuk menggenggam tangannya lagi.
"Aku sayang sama kamu. Kamu tau itu. Tapi membuat kamu terus bersama dengan aku diatas penderitaan Bryan itu sama aja ngebunuh aku, Lis. Aku sama Bryan itu kembar. Udah cukup buat aku nyakitin dia karena kelakuan aku selama ini. Tidak untuk kali ini, " aku menarik nafas. Menjeda kalimatku.
Aku bisa merasakan tangannya itu gemetar. Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku padanya.
"Membuat kamu terus bersama dia. Itu akan semakin membuat aku bahagia. Karena kamu adalah alasan senyuman itu terus mengembang dibibir Bryan. Terkadang benar kata orang, mencintai bukan berarti memiliki. Mencintai adalah bagaimana cara kita mengikhlaskan dia yang dicinta untuk bahagia dengan orang lain. Dan Bryan bahagia sama kamu. "
Lisa menoleh kearahku. Tatapannya tetap menajam. Ia menepis genggaman tanganku kasar.
"Kamu egois, Bi! Kamu cuma melihat dari sudut pandang Bryan. Tapi kamu gak peduli sama perasaan aku. " Setetes air mata jatuh dari matanya. Membuat aku ingin segera menghapus jejak air matanya.
"Kamu itu gak peduli sama perasaan aku. Kamu cuma peduliin parasaan Bryan yang notabennya adalah kembaran kamu. Dari satu sisi, aku sakit, Bi. Hati aku sakit. Melihat kamu yang tiba - tiba menjauhiku. Melihat kamu yang dekat dengan gadis lain. Dan sekarang, fakta yang kamu ungkapin saat ini. " Tetesan air mata itu kini mulai menderas. Lisa menepis air mata itu dengan sangat kasar.
"Kamu pengecut! Kalau memang cuma mau main - main sama hati, tolong jangan sama aku. Karena aku akan sulit untuk melupakan itu. "
Aku menatap punggung gadis yang sangat aku cintai itu dengan perasaan sakit didada. Melihatnya tergores saja membuat aku sedih. Tapi, kini. Akulah yang membuat goresan dihatinya. Membuat ia akan selalu mengingat kejadian pahit ini untuk selama ia bisa. Sampai ada kata maaf terucap.
"Aku sayang kamu, Lis. Sangat menyayangimu. "
***
Up up up!!!
Yuhu... gimana nih sama kelanjutan kisahnya BiLis. Penasaran? Ikuti terus cerita ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Kudus, 17 Juli 2018
Wlnd0511
KAMU SEDANG MEMBACA
REFLECTION [ Selesai ]
Teen Fiction"Ini gak masuk akal. " Gue sayang sama dua orang yang memiliki hubungan darah. Bahkan kembar.
![REFLECTION [ Selesai ]](https://img.wattpad.com/cover/150206261-64-k902856.jpg)