Dua Puluh Enam

205 29 1
                                        

Bian menggerang ketika cahaya matahari mengusik tidurnya. Ia menarik bantalnya, menutupi telinganya yang sedari tadi terganggu oleh teriakan adiknya.

"Bang bangun! Lo sekolah apa enggak! " Teriak Bryan dari luar pintu.

Bian menggeliat, "berisik lo bangke! "

Dengan penuh keterpaksaan Bian membuka matanya. Jujur saja ia sangat malas untuk sekolah kali ini. Ia takut untuk bertemu dengan Lisa hari ini. Takut jika ia akan melanggar janjinya kemarin.

Ini adalah awal ia akan mulai menjauhi Lisa. Membiarkan gadis itu terlepas dari ikatannya. Bukan, ia bahkan belum mengikat gadis itu.

....aku mau kita berkomitmen....

Tidak ada sebuah kepastian dalam kata komitmen.

Ia seakan termakan oleh omongannya sendiri. Teringat tentang perkataannya beberapa hari yang lalu. Ketika ia meminta untuk membuat komitmen dengan gadis itu. Tapi sekarang, dia lah yang melanggar komitmen itu. Seperti seorang pengecut.

Bian menghembuskan nafasnya berat, ia akan bersiap - siap pergi sekolah sekarang. Pada dasarnya, menjauh dari kenyataan itu tidak baik. Jadilah seorang yang berani mengambil resiko dari apa yang pernah kita perbuat.

***

Bian berjalan dengan permen karet yang ia kunyah. Tidak menghiraukan sapaan para gadis disepanjang lorong. Ia terfokus pada ponselnya. Sebuah permainan online. Ia bahkan tidak menyadari sapaan dari Lisa. Atau bahkan ia mengetahui tapi ia mengabaikannya.

Gadis itu sedikit mendengus ketika sapaannya tidak digubris sama sekali oleh Bian. Ia sempat bergumam, ada apa dengan dia?

Seperti tidak menyerah semudah itu, Lisa mengikuti langkah Bian dari belakang.
"Bi, " panggilnya. Ini sudah yang kesekian kalinya.

Lagi - lagi diabaikan. Ingin sekali gadis itu menahan langkah Bian, menarik pria itu untuk berbalik kearahnya. Meneriakkan umpatan didepan wajah pria itu. Tapi ia segera tepis fikiran bodoh itu.

"Bi, " panggilannya lagi.
Pria itu menghentikan langkahnya. Sudut bibir Lisa terangkat. Ia juga ikut menghentikan langkahnya.

Detik selanjutnya pria itu mulai membuka suara. Bukan, lebih tepatnya adalah sebuah umpatan.
"Oh shit! "

Lisa cukup terperonjat dengan apa yang ia dengar barusan. Bian mengumpat padanya.
"Bi, kamu mengumpat padaku? " Tanya Lisa melirih.

Pria itu sedikit tersentak. Terlihat ketika bahunya terangkat sedikit. Ia menoleh. Menemukan keberadaan Lisa dengan raut wajah sedihnya.
Jangan luluh, Bi! 

Ia meneguhkan hatinya. Sejujurnya ia tidak tega melihat gadis itu seperti ini. Meskipun itu hanya sebuah kesalah pahaman. Bian menarik nafasnya pelan. Memasang wajah terdatar yang ia punya.
"Gue kalah game, " ucapnya dingin.

Detik berikutnya ia berbalik arah dan meninggalkan gadis itu sendiri disana.
Maafin gue, Lis. Ini yang terbaik buat kita.

***

Sikap Bian yang berubah menjadi dingin tadi pagi membuat gadis itu tak bisa berkonsentrasi. Pasalnya pria itu juga bertukar tempat dengan Chan. Ia melirik sekilas kearah meja sampingnya. Terdapat Bian yang tengah mendengarkan pelajaran sembari menopang dagu.

"Lo ada masalah sama dia? " Tanya Chan tiba - tiba.
Lisa melirik kearah pria bongsor disampingnya.
"Gak tau. "

Chan hanya menyeringai. Ia mengikuti arah pandang Lisa yang kembali terarah pada Bian.
"Kata orang, mungkin mencari kesalahan diri sendiri lebih baik dari pada mencari tahu kesalahan kita dari orang lain. "

Lisa melirik tajam kearah Chan, "sibuk lo!"

Pria bertubuh bongsor itu menoleh kearah Lisa dengan senyuman menawan mengembang dibibirnya.
"Gue bandel kayak gini juga pinter kali. "

Lisa mendengus, "gak ada sejarahnya yang males itu pinter. "
Chan menunjuk seseorang dengan dagunya, "ada. Kenyataannya Bian adalah orang yang pintar yang bersembunyi dibalik kedok bad boy—nya. "

Lisa kembali menatap pria itu. Ia mengakui akan hal yang satu itu. Dibalik sifat urakan dari seorang Bian. Tersembunyi otak jenius dibalik tempurung kepalanya pria itu.

Senyuman terukir dibibir Lisa. Gadis itu mengalihkan pandangannya kembali kebuku ketika Chan mengubah posisi didepan Bian. Hingga pria itu berhasil menutupi wajah Bian.

Lisa mendengus, ia mendorong kepala Chan kekanan.
"Ganggu aja kerjaan lo. "
Chan menarik senyumnya, "karena menganggu sudah menjadi nama belakang gue. "

"Bego!  Nama belakang lo 'utama', kocak! "
Chan menarik senyumnya canggung. Pria itu juga mengusap tengkuknya yang tak gatal.
"Masuk diakal juga sih, " ucapnya dengan memanggut - manggutkan kepala.

"Hidup lo tuh yang gak masuk diakal!"

***

Satu hal yang bisa membuat orang terluka. Perubahan sifat. Semua akan ada fasenya. Dimana hampir sebagian besar sikap hangat yang biasa ditunjukan akan hilang bergantikan sikap dingin. Ini berlaku kebalikan dengan mencairnya gunung es.

Itu lah yang sekarang Lisa rasakan. Baru kemarin pria itu berhasil membuat Lisa sulit tidur semalaman karena mengingat ciuman itu. Dan kini sekarang, Lisa akan dibuatnya tidak bisa tidur karena mengingat perubahan sikap Bian.

Gadis itu terduduk dibangku tepi lapangan. Matanya tengah mengamati ciptaan Tuhan yang indah ini. Dimana Bian dengan ahlinya mendrible bola dan memasukkannya keadalam ring. Keringat yang bercucuran dipelipisnya menambah kesan maskulin pria itu.

Sesekali terdengar teriakan siswi yang juga menonton permainan ini. Teriakan semakin kencang ketika Bian kembali menambah poin timnya. Pria itu dengan bangganya menunjukkan senyumannya pada gadis - gadis itu. Senyuman yang bahkan belum Lisa dapatkan hari ini.

Mata Lisa membulat sempurna ketika melihat seorang gadis berambut panjang itu berlari menghampiri Bian. Gadis itu mengulurkan sebotol minuman. Tangannya yang memegang tisu juga tak tinggal diam untuk menghapus keringat didahi pria itu.

Rasanya seperti ada sebuah garpu rumput taman yang menggaruk hatinya. Hati yang sudah mulai mengering itu kembali terluka karena sayatan. Yang paling membuat hatinya menjadi semakin sakit ketika Bian membalas perlakukan gadis itu dengan senyuman manis. Senyuman yang lagi - lagi belum ia terima hari ini.

Apa cinta akan terasa sesakit ini?

———

Ehem.. Tes tes.. Satu dua tiga saya sayang Dongi.
Masih adakah yang setia menunggu Reflection?
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Makasih.




Kudus, 08 Juli 2018

Wlnd0511

REFLECTION [ Selesai ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang