Dua Puluh Dua

210 32 5
                                        

Lisa melambaikan tangan ketika motor Bian melaju meninggalkan rumahnya. Senyuman terukir dibibirnya. Ia memegang dadanya, debaran jantungnya kembali tidak teratur.

"Ternyata terjadi ketika gue deket sama Bian, " lirihnya.

***

Pagi ini gadis itu sudah bangun lebih awal. Ia juga sudah berkutat dengan alat - alat dapur. Hari ini ia akan membuatkan bekal untuk Bryan, sebagai pertanda maaf. Meskipun ia tidak menyadari ia salah apa. Tapi setidaknya memulai lebih awal itu baik.

Lisa memasukkan kotak bekal itu kedalam tasnya. Ia menghampiri Lucy yang berada diruang tengah, mencium pipi wanita paruh baya itu.
"Aku pergi nek, " pamitnya.
Tak lupa ia juga memberantakkan rambut adiknya yang sudah rapi sebelum ia berangkat. Samuel hanya bisa mendengus tanpa membalas.

"Untung lo kakak gue! "
"Iya, kakak juga sayang lo! " Balas Lisa dengan senyumannya.
"Gila! "

Gadis itu mengamati lingkung sekelilingnya ketika sudah sampai di sekolah. Matanya mencari sosok Bryan. Pria berkacamata itu selalu berada ditaman dekat parkiran jika pagi. Mengobrol dengan kumpulan orang - orang pintar yang menjadi temannya. Membicarakan olimpiade atau sejenisnya dan itu membosankan bagi Lisa.

Gadis itu menghampiri sekumpulan orang - orang berkacamata itu. Ia meneguhkan hatinya sejenak. Sebelum akhirnya memantapkan diri untuk menuju kesana.
"Ehem! " Dehemnya.
Mereka yang ada disana seketika menoleh kearah Lisa. Seakan berkata, kenapa nih anak!

Lisa menelan ludahnya. Sebegitu awkward—nya situasi saat ini. Ia menghela nafasnya.
"Bryannya ada? " Tanyanya.
Seorang pria berkacamata itu mengangkat tangannya, menunjukkan seseorang. Lisa mengikuti arah tangan pria itu. Bryan tengah berdiri dibelakangnya dengan membuat gelembung dengan permen karetnya. Lisa tersenyum kikuk. Ia pergi dari sekumpulan orang itu sesudah ia berterima kasih.

Lisa menghampiri pria itu dengan senyuman dibibirnya. Ia mengeluarkan kotak makan itu dari tasnya dan mengulurkannya pada Bryan.
"Makanan buat lo. "

Bryan meraih kotak makan itu dengan alis menaut.
"Buat gue?  Tumben, " ia menyimpan kotak makan itu kedalam tasnya.
"Iseng aja." Lisa mendudukan tubuhnya pada kursi taman. Diiikuti oleh Bryan disampingnya.

"Temen lo aneh semua, " kata Lisa.
Bryan menarik senyumnya, "termasuk lo. "
Lisa menoleh kearah pria itu. Memberikan tatapan tak bersahabat. Tangannya menunduk pada wajah Bryan, "gue pengecualian."

Pria itu tersenyum, kemudian menggigit pelan jari Lisa yang ada didepannya. Gadis itu mendelik, ia mengusapkan jarinya pada lengan Bryan.
"Jijik Bry! "

Pria itu tertawa, ia merangkul pundak Lisa dan membawanya untuk berjalan disampingnya. Lisa juga ikut tertawa ketika mendengar tawa Bryan yang lucu menurutnya.

Disatu sisi, Bian menatap gadisnya yang tengah dirangkul oleh pria lain. Bukan pria lain, melainkan adik kembarnya.
"Jadi, Lisa adalah gadis yang dimaksud oleh Bryan? " lirihnya.

***

Gadis itu tengah bertopang dagu, menatap Bryan didepannya yang tengah memakan bekal buatannya. Sesekali ia melemparkan senyumannya pada Bryan. Membuat pria itu menghentikan makannya beberapa kali. Ia menyendokkan nasi goreng itu dan mengulurkannya kearah Lisa.

"Gue udah makan tadi, " tolak Lisa.
Bryan menggeleng, "gue mau lo makan bareng gue. Sesuap aja. "
Lisa menarik senyumnya, ia mencondongkan tubuhnya kearah Bryan dan menerima suapan pria itu.
"Ternyata gue pinter masak juga ya, " pujinya.

Bryan mencerbikkan bibirnya, "ckk.. Menyanjung diri sendiri. "
Lisa menunjukkan deretan gigi putihnya. Bryan mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Lisa. Mengusapnya dengan penuh kasih sayang.

Kalau lo bukan cewek yang abang gue cinta. Gue mungkin bakal milikin lo, Lis!

***

Satu sisi, Bian merasakan sakit pada hatinya. Satu sisi, ia juga tidak bisa merebut Lisa dari sisi Bryan adiknya. Ini pertama kalinya ia melihat sang adik tersenyum begitu lebarnya hanya karena seorang gadis.

Sudah cukup ia membuat menderita adiknya selama ini. Ia tau, jika ia sedang berada dalam pertandingan tinju illegal itu. Dan ia terkena pukulan. Ia yakin,Bryan juga merasakan sakit yang sama seperti aoa yang ia rasakan. Tidak satu atau dua kali, bahkan berkali - kali. Apalagi ketika ia ditinggal oleh Cinta. Hampir setiap malam ia berada di ring.

Mereka memang tidak sama dari luarnya. Tapi dari dalam, mereka akan merasakan hal yamg sama ketika salah satu terluka atau bahagia. Seperti sekarang, separu hati Bian seperti berbunga - bunga. Sisi lainnya terasa sakit.

Bian memegang dada sebelah kirinya, terasa sedikit nyeri.
"Mungkin ini yang sering lo rasain Bry. "

———

Maaf sedikit. Bikos author tidak ada lagi ide. Kalau dipaksa, nanti hasilnya juga kepaksa. Haha..
Tinggalkan jejak ya.

Kudus, 30 Juni 2018

Wlnd0511

REFLECTION [ Selesai ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang