Dua Puluh Satu

227 34 5
                                        

Bryan

Lisa, dia adalah satu - satunya gadis yang masih menetap dihatiku selama ini. Berawal dari pertemuanku dengannya saat sekolah menengah pertama dulu. Dia adalah satu - satunya gadis atau bahkan orang yang mengulurkan tangannya padaku saat itu.

Sekolah menengah pertama tahun pertama,

Aku yang mereka kenal sebagai Bryan yang cupu dan dekil. Dengan rambut belah tengah dan kacamata kotak tebal sudah menjadi ciri khas seorang Bryan.

Aku berjalan menunduk melewati lorong kelas saat mereka semua menatapku. Ini adalah salah satu alasan aku tidak suka keluar kelas saat jam istirahat. Entah apa yang membuat mereka suka sekali membully diriku. Mungkin karena penampilan luarku. Konon pepatah mengatakan, jangan lihat buku dari sampulnya. Itulah yang sedang aku lakukan saat ini. Bersembunyi dibalik tampilan cupu ini untuk mencari seseorang yang benar - benar tulus. Karena aku tau, mereka yang tulus akan datang tidak perduli dengan tampilan luar kita.

Baru beberapa langkah aku keluar kelas. Aku terjatuh begitu saja. Dalam hati tentu saja aku mengumpat. Dan mereka tidak akan tau. Aku menarik senyumku paksa. Melirik sekilas kearah pimilik kaki sialan itu. Tentu saja gadis - gadis itu. Gadis berlipstik merah seperti darah ayam itu dan dayang - dayangnya.

Sudah terbiasa dengan hal itu, aku seakan kebal. Aku bangun dari posisiku dan menatap wajah gadis paling depan. Aku akui ia cantik, tapi sayang hatinya tak secantik wajahnya. Aku menurunkan pandanganku. Dalam hati aku melirih, berlakulah seperti Bryan sang pengecut. Sejujurnya aku sangat membenci jika aku menggumamkan kalimat itu. Berbanding terbalik dengan aku sebenarnya, tentu saja hanya aku yang tau.

Gadis itu maju selangkah, mendorong bahu kananku dengan jari telunjuknya.
"Lo itu kalau jalan pakai mata, cupu!" Ucap gadis itu yang diakhiri dengan seringaian.
Aku menggeram dalam hati, jika saja ia bukan wanita. Aku sudah memukul rahangnya. Jika saja aku bukan Bryan sang pengecut, hal itu sudah aku lakukan kemungkinan pertama terwujud.

Aku hanya bisa menunduk ketika merasakan sebuah benda dingin menyentuh rambutku, turun kewajahku hingga membuat kacamata yang kukenakan ternoda oleh warna hitamnya. Gadis itu terang - terangan mengguyurku dengan sodanya dilorong kelas.

Samar - samar aku melihat Bian, saudara kembarku tengah menatapku kasihan. Aku mengulas senyuman kepadanya, hingga bisa membuat ia sedikit menghela nafasnya. Sejujurnya sudah pilihanku juga berpenampilan seperti ini. Sekaligus meminta Bian untuk tidak melindungiku.

Sebuah handuk terjatuh dikepalaku, aku mengintip dibalik sela handuk itu. Sebuah gadis dengan permen lolipop yang berada dimulutnya. Kipatan rambutnya yang disemir kuda itu membuatku terkesan seketika.

"Gak usah sok berkuasa lo disini, " ucap gadis yang tak ku kenal itu.
Senyuman kecil terukir dibibirku.
"Lo adek kelas diem aja! " Ia mendorong bahu gadis itu dengan telunjuknya, sama seperti yang ia lakukan padaku tadi.

Gadis itu membuang lolipopnya pada tempat sampah disamping. Ia menampilkan seringaiannya.
"Jangan mentang - mentang lo kakak kelas disini. Seolah lo itu berkuasa, jadi berhak buat ngebully adek kelas. Menjijikkan! " Sindir gadis berkuncir kuda itu.

Nora, sang kakak kelas yang selalu membullyku itu melangkah mendekat pada pahlawan wanitaku. Bukan R.A Kartini!
"Dan lo adek kelas songong. Urusin urusan lo sendiri. Sebelum lo menjadi target selanjutnya setelah si cupu! "

Gadis itu terkekeh sejenak, "gue gak takut asal lo tau." Detik selanjutnya ia menoleh kearahku. Menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Ia membawaku ketaman belakang. Mengambil handuk yang sudah berada ditanganku tadi. Diusapnya rambutku dan pakaianku oleh gadis itu. Aku tertegun melihat hal itu. Apalagi saat mendekatiku untuk mengambil kacamata yang tertengger didaun telingaku.

Dari jarak tersebut aku berhasil mengaguminya. Mengagumi kecantikan wajahnya tanpa riasan.
"Lo ternyata ganteng kalau gak pakai kacamata, " ucapnya.
Aku tersadar, aku segera mengambil kacamata yang dipegangnya kemudian memakainya kembali.

Dia mengambil duduk disebelahku, "mau nyembunyiin diri asli lo?  Ah.. Lo pasti orang pintar kan ya. Terus lo gak mau kalau punya temen yang cuma manfaatin lo. Udah ketebak. "

Aku menoleh sejenak kearah gadis itu, ia membuka kembali bungkusan permen yang ia ambil dari saku seragamnya. Memasukkan kedalam mulutnya. Ia juga mengulurkan kearahku. Karena tidak aku tanggapi, ia membuka pembungkus permen itu dan memasukkannya kedalam mulutku.

"Tenang, gue orang baik. Otak gue udah cukup buat gue sendiri, gue gak perlu nyuri dari otak lo. "

***

Semenjak kejadian beberapa tahun lalu dimana aku dipertemukan dengan sosok Lisa. Aku menyadari jika ku memiliki perasaan terhadapnya. Hatiku merasakan sakit ketika malam itu ia datang menemuiku dengan air mata sudah membasahi pipi. Lisa yang aku kenal bukan seorang yang cengeng, gadis itu bahkan sangat sulit untuk menangis. Dan kini, ia menangis didepanku.

Ia berjalan kearahku, berhampur kedalam ke pelukanku. Semakin membuat hatiku sakit ketika aku mendengarnya terisak. Persetan untuk mereka yang membuatnya menangis!

Tanganku terulur untuk mengusap rambutnya. Ia masih belum melepaskan pelukannya. Masih Setia membuat kaos yang aku kenakan basah. Satu jam yang lalu ia menelfonku dengan suara yang terdengar berat. Ia memintaku untuk menemuinya ditaman malam ini. Dan ia menemuiku masih dengan menggunakan seragam sekolah itu. Aku yakin jika ia belum kembali kerumahnya. Atau lebih parahnya lagi, mungkin ia belum makan.

Aku menjauhkan dirinya dari tubuhku. Menatapnya, matanya bengkak. Persetan untuk mu! Dalam hati aku selalu mengumpat pada mereka yang membuatnya menangis. Ia menarik nafasnya perlahan. Aku membawanya untuk duduk disebelahku.

"Nathan, " itulah nama seseorang yang ia sebut.
Aku tau jika akhir - akhir ini ia dekat dengan pria itu. Lisa juga mencintai pria itu. Mendengar nama pria itu membuat darahku mendidih.
"Dia dengan gadis lain, " lanjutnya.

Tanganku terulur untuk mengusap pundaknya. Membawanya kembali bersandar pada bahuku.

Mendengarnya disakiti oleh pria lain saja membuatku sakit. Apalagi pria lain yang sekarang adalah kakakku sendiri. Aku sudah mengetahuinya saat dikantin. Aku mendengarkan apa yang mereka obrolkan. Bian, kakakku itu menyukai Lisa. Untuk pertama kali setelah kejadian 'itu', ia kembali menyukai seorang gadis. Tidak mungkin aku menghancurkan sesuatu yang membuatnya bahagia. Setelah beberapa lama ia terpuruk. Bahkan karena dekat dengan Lisa itu, aku mengetahui jika kakakku tidak lagi pulang malam. Tidak ada lagi jalan sempoyongan karena mabuk. Kakakku mulai berubah karena Lisa.

Aku menarik senyumku ketika melihat Lisa mulai menarik senyumannya. Jujur saja, hatiku terasa sakit saat itu. Rasa sakit yabg terulang untuk kedua kalinya. Perasaan yang aku pendam sejak dulu mungkin lebih baik hanya aku yang tau. Supaya tidak ada lagi orang yang tersakiti. Biar saja aku yang merasakan sakit ini. Menyimpannya sendiri, entah sampai kapan.

———

Bryannya sering sakit hati ya. Sakit hati demi membuat orang yang dia sayang bahagia. Pengorbanan banget. Kalau kalian jadi Lisa, kalian bakalan milih Bian atau Bryan. Kan sama - sama gantengnya. Milih mana? 

Author minta maaf ya kalau telat update. Dikarenakan author ketiduran semalam. Jangan lupa tinggalkan jejak.

Kudus, 29 Juni 2018

Wlnd0511

REFLECTION [ Selesai ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang