SEBASTIAN
Aku melompat keluar dari mobil dan berjalan menuju lift. Kulirik mobil Abigail sekilas. Ketika aku meninggalkan basement, mobilnya tidak ada. Dan sekarang ada. Aku penasaran ke mana perginya tadi.
Ketika sampai di lantaiku, aku melihat sosok mungil berjalan gontai sambil berpegangan pada dinding. Aku langsung tahu perempuan berambut gelap tersebut adalah Abigail.
"Abigail?" Aku menyambar lengannya, namun ia menepisku. Saat ia berbalik untuk menghadapku, matanya merah dan berair.
"Oh, halo," balasnya sambil terkikik. Sengatan tajam aroma alkohol menguar dari mulut manisnya.
"Abigail!" Desisku tajam. "Kau minum?"
"Oh, apa pedulimu?" Ia masih terkikik.
Aku menarik lengannya—cukup untuk membuatnya bergerak namun tidak cukup untuk menyakitinya. Tubuhnya menempel sempurna di sisiku.
Membawanya ke apartemenku, aku menidurkan dirinya di ranjang. Kulucuti sepatu serta jaketnya, lalu kusiapkan segelas air di nakas sebelah ranjang bila sewaktu-waktu ia bangun dan mengalami... well, kau tahu, jika kita terlalu banyak minum alkohol. Ingatan pahit menyengatku.
Aku sendiri berganti pakaian menjadi sweatpants serta kaus tipis.
"Seb..." gumam Abigail. Untuk sesaat tubuhku menegang dan siap memarahinya, hingga kusadari ia hanya mengigau. "Aku..."
Aku menunggu dengan tegang. Apa yang akan dikatakannya? Apa yang ada di pikirannya?
"Seb..." gumamnya lagi. Tanganku berlari ke rambutku, menariknya frustasi. "Cinta..."
Brengsek!
Napasku tertahan, tubuhku membeku. Apa yang dikatakannya? Sesuatu tentang cinta?
Tubuh mungil Abigail bergerak-gerak gelisah. Aku bergabung dengannya di bawah selimut, melingkarkan lenganku di sekeliling tubuhnya. Tidak heran saat kurasakan betapa dingin dan bergetarnya tubuh Abigail. Aku mengeratkan pelukan padanya serta mengusap lembut punggungnya, lalu beberapa saat kemudian ia tak lagi bergetar.
Aku tidak mengerti dengan perasaan aneh ini. Perasaan bahwa aku tidak ingin menyakiti atau mengecewakannya, perasaan bahwa diriku hanya untuknya. Setelah ciuman kami, semuanya jadi terasa lebih jelas.
Dan aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
Tidak, bahkan sebelum kesengsaraan menjadi sahabatku.
Aku memejamkan mata, merasakan napas teratur Abigail yang berembus di sekitar leherku. Aromanya begitu memabukkan walaupun masih ada sentuhan alkohol. Tanganku berlari menuju rambut gelapnya yang terasa halus. Tubuhnya terasa pas menempel pada tubuhku.
Membuka mata, aku menemukan mata abu-abunya menatapku.
"Kukira kau tidur?"
"Kukira kau bisa merasakan kehadiran seseorang?" Tanyanya sambil tersenyum.
Aku tersenyum malu. "Aku terlalu fokus dengan... tubuhmu."
Kupikir ia akan menegang, namun dirinya semakin mendekat ke arahku. Dagunya di atas dadaku, tanganku di punggungnya.
"Aku minta maaf atas sikapku," gumamnya. "Sangat tidak sopan."
"Aku tidak peduli." Aku memberi jeda sejenak. "Tapi aku peduli dengan fakta bahwa kau minum."
Ia tersenyum lemah. "Kebiasaan lama."
"Kebiasaan lama?" Tanyaku terkejut. Kudengar tawa lembutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Guardians
Fanfiction[BAHASA INDONESIA] - [SEBASTIAN STAN] • Di saat dunia fantasi pribadinya membungkusnya rapat dari dunia luar yang kurang ajar, Abigail harus menerima fakta bahwa dunia fantasi tersebut tidak selamanya dapat menjadi pelindungnya. Ia harus keluar, har...
