The Guardians - #25

256 44 1
                                        

SEBASTIAN

Sebelum Jonas menjawab, pintu menjeblak terbuka lalu muncullah...

•••

Venetia.

Jonas meninggalkan kami, sementara mataku sendiri menatap lantai. Tiba-tiba saja karpet empuk yang kuinjak terasa lebih menarik dari apa pun di hadapanku.

Terdengar suaranya yang ceria ketika tergelak, lalu terdengar pula suara sepatu hak tingginya yang berjalan semakin dekat ke arahku. Tubuhku menegang, tidak siap dengan pembicaraan bersama Venetia.

"Halo, sayang," sapanya lembut. Salah satu jari lentiknya mengangkat daguku untuk menatapnya, dan aku hanya diam kaku tanpa perlawanan. "Kau terlihat tampan hari ini."

Aku menyentakkan jarinya dari daguku, lalu berdiri untuk menghadapnya. Sosokku telah bertumbuh jauh lebih tinggi dari Venetia, dan aku menyeringai senang dalam hati.

"Apa kau sengaja mengatur pertemuan ini, Venetia?" Kataku tanpa menyembunyikan nada kesal. "Kau pemilik tempat ini?"

"Oh, Sebby," desahnya. "Kau tidak tahu betapa aku telah mengatur semuanya sejak kembali ke kota kita yang tercinta ini."

"Jangan panggil aku—"

"Kau tahu," selanya tajam. "Karena sekarang gadis kecilmu tidak akan mengganggu kita... well, aku berpikir mungkin kau ingin mengajakku ke pesta pernikahan Jonas?"

Amarah menguasai akal sehatku. Sebut aku gila, namun aku tidak mampu menahan kepalan tanganku melayang ke pipi mulus Venetia. Wanita jalang itu terjatuh sambil memegangi pipinya yang sekarang merah lebam. Dan percayalah, aku tidak peduli.

"Kau gila?!" Serunya.

"Berhenti mengacaukan hidupku, Ven!" Teriakku di hadapan wajahnya. "Berhenti mengacaukan segala sesuatu yang kucoba untuk perbaiki! Berhenti menjadi wanita biadab seperti ini!"

Tanpa kenal rasa takut, Venetia membalas tatapanku dengan tatapan yang lebih intens. Tangannya mendarat di pipiku, dan meninggalkan bekas nyeri di sana.

"Jangan berani-berani bicara kepadaku seperti itu." Desisnya sambil menjambak rambutku. "Kau tidak akan kuat seperti sekarang tanpa bantuanku, Sebastian. Dan aku tahu kelemahanmu. Di balik segala sikap dingin yang kau tampilkan, kau hanyalah pemuda baik hati nan lembek yang tidak tahan melihat orang terdekatmu disakiti."

Venetia sengaja memberi jeda, namun tangannya tidak melepaskan rambutku. Dan aku membenci diriku sendiri karena tidak berani melawannya.

Setelah semua yang terjadi, aku masih bertekuk lutut terhadapnya.

"A-apa maksudmu?" Suaraku bergetar akan amarah serta ketakutan.

"Apa maksudku?" Ulangnya diiringi gelak tawa histeris. "Well, aku memberimu kesempatan untuk mengajakku ke pesta pernikahan Jonas. Ajak aku, atau sahabatmu yang tidak ada apa-apanya itu akan merasakan pesta pernikahan paling buruk sepanjang hidupnya!"

"Kau tahu aku tidak akan sudi—"

Satu tamparan kembali melayang ke pipiku.

"Sela aku sekali lagi, dan kau tidak akan kuberi pilihan." Desisnya tajam. "Sekarang, pilih!"

Cengkeraman Venetia pada rambutku semakin kuat. Bisa kurasakan kulit kepalaku nyeri dan akar-akar rambutku seakan copot dari tempatnya. Venetia juga membuatku berlutut secara perlahanan. Aku mengutuk diriku sendiri karena bersikap pengecut.

Aku memang pengecut. Mungkin itu sebabnya aku belum bisa terlepas dari belenggu Venetia.

Dan bodohnya aku ketika sempat dengan bangga mengira Abigail—cinta dalam hidupku—berhasil mengubahku.

The GuardiansTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang