Di dalam kamar mandi beraroma melati yang bercampur embun pagi, Erza berdiri kaku, kedua tangannya gemetar. Cahaya lampu redup memantulkan wajahnya di cermin, memperlihatkan sorot mata yang tak bisa memutuskan apakah ia lebih takut atau berharap.
Di genggamannya, sebatang test pack mungil, saksi bisu dari pertanyaan yang membanjiri kepalanya.
"Bagaimana jika dua garis merah itu muncul?" Suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Sebuah ketakutan menyeruak, bagai riak ombak di tengah samudra malam. Perutnya yang terus terasa mual setiap pagi telah membisikkan kemungkinan yang ingin ia tolak, namun hati kecilnya tahu bahwa ia tak bisa terus berlari.
Jadi, dengan napas yang tertahan, ia melangkah ke batas yang tak bisa dihindari.
Detik berdetak lambat, seakan waktu menahan napas bersamanya. Erza menggigit bibir, dadanya berdebar bagai sayap kupu-kupu yang terjebak di dalam sangkar. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan menjadi penentu.
Lalu, dengan jantung yang hampir melompat dari rongganya, ia membuka mata.
Dua garis merah.
Dunia seakan berhenti sejenak. Ada angin sepoi yang tak ada, ada keheningan yang berisik.
"Aku mengandung..." Bisikan itu lolos dari bibirnya, seperti mantra yang tak bisa ditarik kembali.
Di dadanya, badai berkecamuk. Antara suka dan duka, antara bahagia dan takut.
Namun satu pertanyaan menggantung di udara seperti awan badai yang mengancam.
"Apakah Banner akan menerimanya?"
✦·┈๑⋅⋯ -ˋˏ ༻❁✿❀༺ ˎˊ- ⋯⋅๑┈·✦
Banner.
Nama itu menggema di kepalanya seperti lonceng gereja tua yang berdentang tanpa henti.
Erza memandang ke luar jendela, ke arah langit yang perlahan berubah kelabu. Ia menggigit bibirnya, mencoba mencari keberanian di sela-sela pikirannya yang berkabut.
Sebab, suaminya adalah badai yang tak bisa ia kendalikan.
Pernikahan mereka bukan kisah tentang cinta, melainkan takdir yang dijahit dengan paksaan dan dosa. Banner bukan lelaki yang ingin menikahinya, namun lelaki yang terikat oleh janji yang ia buat di atas kuburan ayahnya.
Namun Erza, gadis malang yang memiliki hati sekeras karang, tetap jatuh cinta.
Ia mencintai lelaki yang telah merenggut nyawa ayahnya.
Ironis?
Mungkin.
Tapi apakah hati pernah benar-benar bisa memilih?
✦·┈๑⋅⋯ -ˋˏ ༻❁✿❀༺ ˎˊ- ⋯⋅๑┈·✦
Langkah kaki mendekat. Erza menoleh.
Di ambang pintu, Banner berdiri dengan sorot mata sedingin musim dingin yang menolak berlalu.
"Apa yang sudah kukatakan tentang mengunci pintu, Erza?" suaranya berat, penuh ketidakpedulian.
Erza mengeratkan genggamannya pada gaun tidur yang ia kenakan. "Maaf."
"Jangan lakukan lagi."
Lalu, tanpa peringatan, bahunya ditabrak begitu saja.
Erza tidak protes. Ia sudah terbiasa.
Sebab, begitulah Banner mencintai seseorang-dengan cara yang tidak bisa disebut cinta.
✦·┈๑⋅⋯ -ˋˏ ༻❁✿❀༺ ˎˊ- ⋯⋅๑┈·✦
Saat makan malam, Erza duduk dengan hati yang berdebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
Storie d'amoreSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)