Minggu ini, untuk pertama kalinya, Banner menepati janjinya pada Erza. Ia akan menemani wanita itu ke gereja-bukan karena keterikatan batin, bukan pula karena iman yang melandasi keyakinannya, melainkan sebagai bentuk balas budi.
Selama beberapa waktu, ketika tubuhnya didera sakit, Erza adalah satu-satunya sosok yang tak beranjak dari sisinya. Tanpa keluhan, tanpa tuntutan, wanita itu tetap berada di sana, merawatnya dengan kesabaran yang bahkan Banner sendiri tak sanggup pahami.
Ia bukan pria yang mudah berterima kasih, apalagi pada seseorang yang tak pernah ia tempatkan dalam ruang hatinya. Namun, ketulusan-betapapun kerasnya ia mencoba mengabaikannya-tetaplah sesuatu yang nyata.
Sebagai bentuk penghargaan, ia akan menghabiskan hari ini bersama Erza.
Hanya hari ini, setidaknya, itulah yang ia yakini.
✦·┈๑⋅⋯ -ˋˏ ༻❁✿❀༺ ˎˊ- ⋯⋅๑┈·✦
Pagi yang lembut menyelubungi langit, membalutnya dalam semburat keemasan yang menetes di antara tirai tipis jendela. Angin berbisik pelan, membelai dedaunan yang gugur dengan ragu di halaman. Di dalam rumah itu, di antara bayang-bayang masa lalu dan keengganan masa kini, Banner menuruni anak tangga dengan langkah terukur. Jam tangan yang tersemat di pergelangan tangannya sedikit longgar, membuatnya sibuk membetulkan posisi tali kulit yang melingkar.
Namun, di antara gerakannya yang tenang, matanya menangkap sesuatu yang membuat detak jantungnya sedikit lebih berirama dari biasanya.
Di ruang makan, seorang wanita tengah sibuk menata sarapan. Gaun panjangnya berayun lembut saat ia bergerak, sementara rambutnya yang tergerai seperti aliran sungai malam, memantulkan cahaya pagi yang menerobos ke dalam ruangan. Cahaya itu menari-nari di helaian rambutnya, membentuk pantulan keemasan yang samar, seolah langit sendiri menuangkan cahayanya hanya untuk wanita itu.
Erza.
Nama itu meluncur dari bibir Banner tanpa perintah, seperti mantra yang tak sengaja terucap. Seakan tanpa kendali, suaranya membelah udara yang tenang, membuat Erza menoleh dengan sedikit terkejut.
Banner menyesal telah memanggilnya.
"Ya?" Erza menoleh, senyum tipis terbit di bibirnya.
Banner, yang selalu yakin bahwa perasaannya hanya terikat pada satu nama-Agnes-mendadak merasa seperti seseorang yang berdiri di tepi jurang, melihat bayangan dirinya sendiri di air yang mengalir di bawah sana.
"A-aku ingin teh hijau," katanya, tergagap.
Gugup? Tentu saja tidak. Ia hanya kelelahan. Ya, hanya itu.
Erza menatapnya sejenak sebelum mengangguk. "Tunggulah di meja makan."
Seharusnya itu percakapan sederhana. Namun, saat senyum wanita itu mengembang, ada sesuatu yang menelusup ke dalam dadanya. Sesuatu yang asing, sesuatu yang seharusnya tidak boleh ada.
Banner mengalihkan pandangannya. Dengan wajah masam, ia berjalan menuju meja makan, berusaha sekuat tenaga untuk menepis keanehan yang mulai menyelinap dalam benaknya.
Tak lama berselang, Erza datang dengan secangkir teh hijau. Uapnya masih mengepul, membawa serta aroma khas yang menguar ke udara. Ia meletakkan cangkir itu dengan hati-hati di hadapan Banner.
"Masih panas," ucapnya, menatap Banner dengan penuh ketenangan.
Banner mendengus. "Senyummu membuatku mual. Hentikan itu."
Namun, bukannya menurut, Erza justru tertawa kecil. Ada sesuatu dalam tawanya yang mengalir ringan, seperti angin yang mengusap permukaan danau.
"Kalau begitu, aku tidak akan tersenyum," katanya, menahan gelak. "Tapi tidak ada larangan untuk tertawa, bukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomanceSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)