22

31K 1.6K 232
                                        

Senja baru saja turun, melarutkan langit dalam sapuan jingga keemasan. Cahaya redup dari lampu kantor menggantikan sinar matahari yang semakin meredup, mewarnai ruangan dengan kehangatan yang semu. Namun, bagi Erza, suasana itu tidak lebih dari latar belakang yang nyaris tak ia perhatikan. Jemarinya terus menari di atas papan ketik, menciptakan irama monoton yang berpadu dengan dengung pendingin ruangan.

Di seberang meja, Alex masih setia dengan ketertarikannya yang tak kunjung padam. Seperti bayangan yang selalu mengikuti di setiap langkah, pria itu masih mencoba mencuri perhatiannya, bahkan setelah mengetahui statusnya yang seharusnya menjadi batas yang cukup jelas.

"Erza," panggil Alex dengan suara yang dibuat santai, namun jelas menyiratkan maksud tertentu. "Sepupuku baru saja membuka restoran baru di daerah persimpangan kota."

Erza mengira pria itu akan berhenti mendekatinya setelah mengetahui bahwa ia adalah seorang janda. Namun, sepertinya, dugaan itu terlalu optimis. Alex tetap ada di sana, masih berusaha menariknya dalam pusaran perhatiannya.

Ia hanya menjawab dengan gumaman kecil, tanpa benar-benar berniat menanggapi. Jemarinya kembali menekan-nekan tombol pada keyboard, berpura-pura sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang sebenarnya tidak begitu banyak.

Namun, Alex tetap tidak menyerah.

"Malam ini mau—"

"Anne, aku minta data rekapitulasi minggu lalu, dong," potong Erza cepat, sengaja mengalihkan fokus.

"Oh, tentu, aku akan membawanya padamu," sahut Anne dari balik biliknya tanpa rasa curiga.

Alex terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali mencoba. Kali ini, suaranya terdengar lebih ragu-ragu. "Hm... Er... Erza?"

Erza menghela napas dalam diam. "Ya, ada apa?"

"Kau mau makan malam denganku di restoran sepupuku?" Wajahnya penuh harap, sorot matanya jelas menunggu jawaban yang ia inginkan.

Erza tersenyum kecil, tetapi bukan karena rasa tertarik. Ia hanya sedang merangkai alasan yang cukup masuk akal.

"Hm, begini, Alex... Aku punya adik yang sedang hamil di rumah, jadi aku harus menjaganya."

Ekspresi Alex sedikit berubah. "Yah... memang mana suaminya?"

"Suaminya tidak ada," jawab Erza santai. "Jadi, aku yang harus menjaganya. Maaf, ya."

Sejenak, ada keheningan yang menggantung. Wajah Alex yang tadinya bersemangat kini surut, seperti balon yang kehilangan udara.

"Ya, sudah, kalau begitu... lain kali saja," ujarnya akhirnya, meskipun jelas ada kekecewaan dalam suaranya. Ia kembali ke komputernya, mencoba mengabaikan apa yang baru saja terjadi.

Erza mengembuskan napas lega. Akhirnya, ia bisa terbebas dari gangguan pria itu—setidaknya untuk saat ini. Entahlah, apa yang sebenarnya membuat Alex begitu tertarik padanya. Ia bukan wanita yang istimewa, tidak seperti mereka yang selalu tampil memesona dan penuh pesona.

Mungkin, hanya ego laki-laki yang tak suka ditolak.

"Erza, ini file yang kau minta."

Anne tiba-tiba muncul di sisinya, menyodorkan sebuah diska lepas. Erza menerimanya dengan anggukan kecil.

"Terima kasih, Anne."

Namun, sebelum Anne kembali ke mejanya, wanita itu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, lalu berbisik pelan, "Jadi?"

Erza mengangkat alis, seolah tidak mengerti. Anne lalu melirik sekilas ke arah Alex, yang kini tengah menyandarkan kepala di atas meja, tampak pasrah.

"Aku menolak ajakannya," jawab Erza pelan.

The Broken Lady [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang