Erza terbangun dalam kekacauan. Rambutnya kusut, matanya sembap, dan jejak air mata yang mengering membentuk guratan pilu di pipinya. Semalaman ia hanya terisak dalam kesunyian, membiarkan luka-lukanya menganga tanpa siapa pun yang tahu. Bayang-bayang kejadian malam tadi terus menghantuinya, mengiris hatinya dengan bilah-bilah kenangan yang tak ingin ia miliki.
Tangannya meraba perut yang mulai membuncit, seolah mencari kehangatan yang kini terasa jauh. Ada kehidupan di dalam sana, satu-satunya alasan yang membuatnya tetap bertahan dalam pusaran takdir yang begitu kejam. Bibirnya bergetar saat ia berbisik, "Kau baik-baik saja, Sayang?"
Tak ada jawaban, hanya keheningan yang menemaninya. Namun, ia tahu, di dalam sana, janinnya mendengar. Ia hanya ingin memastikan bahwa buah hatinya tidak turut merasakan kesedihan yang tengah ia pendam. Bahwa bayi itu tetap aman, tetap tenang, meski dunianya sendiri tengah runtuh perlahan.
Erza menarik napas panjang, mencoba mengusir kesedihan yang menggantung di dadanya. Ia menurunkan kakinya ke lantai marmer yang terasa sedingin es, membiarkan sensasi itu menjalar ke tubuhnya seakan ingin membangunkannya dari mimpi buruk. Dengan langkah gontai, ia menuju meja rias, menatap pantulan dirinya yang tampak begitu rapuh. Ia merapikan rambutnya dengan tangan gemetar, mengikatnya rapi seolah ingin menata kembali kehidupannya yang kini terasa berantakan.
Setelah membasuh wajah di kamar mandi, ia keluar dan matanya langsung tertumbuk pada piano putih yang berdiri anggun di sudut kamar. Piano itu adalah hadiah dari Banner beberapa bulan lalu, saat segalanya masih terasa sedikit lebih baik.
Dulu, ia percaya bahwa kebahagiaan bisa diukir kembali. Bahwa Banner, meski tidak mencintainya, setidaknya memiliki kepedulian yang cukup untuk membuatnya merasa dihargai. Tapi kini, setelah malam itu-setelah melihat suaminya menatap Agnes dengan cara yang tak pernah ia dapatkan-keyakinan itu perlahan menghilang.
Ia mengelus perutnya lagi. "Mungkin kita perlu mendengarkan sesuatu yang lebih ceria," bisiknya lembut. Ia berusaha tersenyum, meski hatinya masih terasa hancur.
Erza mendekati piano dan duduk perlahan. Jemarinya menyentuh tuts-tuts dingin yang telah lama tak ia mainkan. Lalu, tanpa sadar, ia mulai bermain. Nada-nada yang mengalun begitu lirih, seakan mencerminkan perasaannya yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Suaranya mulai menyanyikan lirik yang selama ini menguatkannya:
In a perfect storybook, the world is brave and good,
A hero takes your hand, a sweet love will follow.
But life's a different game, the sorrow and the pain.
Only you can change your world tomorrow
Namun, alunan itu terputus mendadak ketika suara yang familiar menyela dari belakang.
"Wah, merdu sekali."
Erza terlonjak, jantungnya berdegup lebih kencang. Dengan cepat ia menoleh dan mendapati Banner berdiri di ambang pintu, tersenyum hangat. Ada binar kekaguman di matanya, sesuatu yang langka, sesuatu yang selalu ia dambakan.
"Hai, apa aku membuatmu terkejut?" tanya lelaki itu.
"Sedikit," jawab Erza, suaranya nyaris berbisik.
Banner berjalan mendekatinya, langkahnya tenang, namun tatapannya intens. Seakan ia ingin menghafal setiap detail wajah istrinya yang tampak begitu rapuh pagi ini.
"Bisakah jangan menatapku seperti itu? Kau membuatku merinding," ujar Erza, mencoba meredam kegugupannya.
Banner terkekeh kecil. "Kau pikir aku hantu apa?" Kini, ia sudah duduk di samping Erza. Jemarinya terulur, menyentuh salah satu tuts piano dengan ringan. "Siapa yang mengajarimu bernyanyi dan bermain piano seindah ini?"
"Kakekku," jawab Erza. "Dia seorang pianis saat muda dulu."
Banner mengangguk, lalu bertanya lagi, "Bagaimana dengan nenekmu?"
Erza tersenyum tipis, meski ada sedikit kepedihan di matanya. "Dia seorang pelukis."
"Lalu, apakah kau juga bisa melukis?"
Erza menahan napas. Ia tidak bisa mengatakan bahwa dirinya telah banyak melukis wajah Banner diam-diam.
"Tentu," jawabnya singkat.
Senyap sejenak. Banner menatapnya dalam, seolah mencari sesuatu dalam sorot mata istrinya yang teduh namun menyimpan banyak luka.
"Menyenangkan bisa bersamamu, Erza," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
Erza menoleh, jantungnya kembali berdegup tak menentu. "Menyenangkan juga bisa bersamamu, Banner."
Lalu, tanpa diduga, suaminya menghela napas panjang, seakan ada beban besar yang ingin ia lepaskan. "Erza... apakah kau sedih?"
Erza terdiam. Ia tidak ingin menjawab, tidak ingin mengakui bahwa dirinya begitu terluka.
Banner melanjutkan, suaranya terdengar sarat dengan penyesalan. "Maafkan aku, Erza. Aku tidak pernah merencanakan semua ini. Aku tidak tahu bahwa segalanya akan menjadi serumit ini. Aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu."
Erza memalingkan wajah, tidak ingin Banner melihat genangan air yang mulai terbentuk di matanya. "Banner, kita sudah membicarakan ini kemarin. Kau tidak perlu meminta maaf."
"Tidak, ini salahku," Banner bersikeras. "Aku yang menyeretmu ke dalam kehidupanku, yang membuatmu kehilangan banyak hal. Aku yang merenggut kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikmu."
Erza tersenyum kecil, getir. "Kau sudah membuatku bahagia, Banner." Ia menatap suaminya, mencoba menyampaikan ketulusan yang ia rasakan. "Aku bahagia melihatmu tersenyum, mendengar kunyahanmu saat kau makan pasta buatanku dengan lahap. Setelah kita bercerai nanti, aku akan tetap bahagia. Aku punya anakku, aku memiliki bagian darimu dalam hidupku."
Banner menatapnya lama, seolah berusaha memahami logika dari ucapan itu. "Kau begitu mencintaiku, Erza?"
Erza mengalihkan pandangan. "Mungkin."
"Kenapa? Kenapa kau bisa mencintaiku?" Banner bertanya, suaranya penuh kebingungan.
Erza tersenyum pahit. "Aku tidak tahu."
"Kau begitu baik, cantik, dan penyayang," Banner bergumam. "Tapi kenapa aku tak bisa jatuh cinta padamu?"
Erza menelan ludah. "Karena kau tak mau membukakan hatimu untukku. Kau tak pernah memberiku kesempatan untuk masuk ke dalamnya."
"Kau benar." Banner menundukkan kepala. "Aku terlalu mencintai Agnes."
Saat nama itu disebut, seakan ada bilah tajam yang menusuk dada Erza. Ia menggigit bibirnya, menahan tangis yang ingin pecah.
Banner menghela napas, lalu menatapnya lagi. "Aku tidak ingin menyakitimu lebih lama, Erza. Aku akan menceraikanmu secepatnya."
Saat itu, dunia Erza seakan berhenti berputar. Air matanya luruh begitu saja. "Jangan lakukan itu, Banner," ucapnya dengan suara bergetar. "Kau sudah berjanji padaku, kau akan menunggu sampai anak kita lahir."
Banner terdiam. Melihat Erza yang begitu terpukul, ia merasa bersalah. Tanpa ragu, ia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan. "Maaf, aku tidak akan melakukannya."
Erza terisak dalam pelukan itu. "Kau sudah berjanji."
"Iya," Banner berbisik, "Aku akan menepatinya."
Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar dari ruang tamu. Mereka terlonjak, segera berlari keluar.
Di sana, Agnes tergeletak di lantai, tak sadarkan diri.
"Agnes!" Banner bergegas menghampiri wanita itu, wajahnya dipenuhi kepanikan. "Kita harus membawanya ke rumah sakit!"
✦·┈๑⋅⋯ -ˋˏ ༻❁✿❀༺ ˎˊ- ⋯⋅๑┈·✦
Di rumah sakit, Erza hanya bisa berdiri di sudut, menyaksikan Banner yang menggenggam tangan Agnes dengan penuh kasih.
"Aku mencintaimu, Banner," ujar Agnes lemah.
Banner tersenyum. "Aku juga."
Erza tersentak. Kata-kata itu bagai gemuruh yang menghantam hatinya. Ia menunduk, menggigit bibir, berusaha menahan tangis.
Mungkin, inilah saatnya menyerah, ia tidak perlu lagi berjuang untuk seseorang yang hatinya telah tertutup rapat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomantikSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)