Langit sore menumpahkan warna-warna sendu ke dalam kamar, seolah melukiskan perasaan yang tak terucap di antara dua insan yang tengah berbagi ruang, tetapi tidak hati. Cahaya keemasan menyelusup melalui celah gorden, memantulkan bayangan lembut di lantai marmer yang dingin.
Erza duduk di sisi tempat tidur, tangannya masih sibuk memijat kaki lelaki di hadapannya. Jemarinya bergerak dengan penuh kehati-hatian, menyusuri setiap lekuk dan ruas, seperti sedang membaca kisah panjang yang tertulis di sana-kisah seorang pria yang telah lama ia cintai, tetapi tak pernah benar-benar menggenggamnya.
"Hm, dasar bodoh," suara Banner memecah keheningan, nada suaranya mengandung kelakar samar yang sulit diartikan.
Erza mengangkat wajahnya, tatapannya terkejut. Seakan tak percaya, lelaki yang selama ini dingin padanya justru kini melemparkan sebuah senyuman.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Banner dengan nada menggoda.
Erza segera mengalihkan pandangan, kembali menundukkan wajahnya ke arah kaki sang suami. "Ti-tidak," ujarnya pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Apa kau terpesona padaku?" goda Banner lagi, bibirnya melengkung tipis.
Seketika, Erza meliriknya dengan tatapan jengah, lalu menghela napas. "Sombongnya," gumamnya. Namun, ada bias kehangatan di matanya, sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.
Banner menatapnya dengan sedikit ketertarikan. Ia tahu betul bahwa wanita ini telah lama berada di sisinya, tapi hanya hari ini ia benar-benar memperhatikan keberadaannya.
"Pastamu rasanya enak," ujar Banner tiba-tiba. "Mengingatkanku pada nenek dulu."
Erza tersenyum kecil, merasa sedikit bangga. "Ibuku yang mengajariku memasak saat aku masih sekolah menengah," katanya lirih. "Ah, itu adalah satu-satunya kenangan yang paling indah bersamanya."
Banner mengerutkan kening. "Memangnya kenapa dengan ibumu?"
"Ia meninggal saat aku kelas dua belas," jawab Erza, suaranya sedikit bergetar. "Dia seorang wanita karier yang gila kerja seperti ayahku. Satu-satunya momen di mana aku merasa benar-benar memilikinya adalah saat kami berbagi waktu di dapur."
Banner terdiam sejenak, sebelum akhirnya menanyakan sesuatu yang lebih ringan. "Lalu, bagaimana dengan cinta pertamamu? Apa kau punya?"
Erza menoleh, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sekilas, matanya menyiratkan keraguan, tetapi akhirnya ia mengangguk pelan. "Tentu saja."
Banner menyipitkan mata, ada sejumput rasa ingin tahu yang menggeliat dalam dirinya. "Siapa pria tidak beruntung yang kau cintai?" tanyanya dengan nada menggoda.
Sekali lagi, Erza hanya menatapnya dalam diam. Lalu, dengan bibir yang sedikit gemetar, ia berkata, "Kau."
Hening.
Banner tidak segera merespons. Matanya terpaku pada wajah wanita itu, seolah mencoba mencari kebohongan di sana-tetapi ia tidak menemukannya.
"Oh, betapa sialnya diriku," ucapnya akhirnya, berusaha menutupi keterkejutannya dengan nada sarkasme.
"Maaf," lirih Erza.
"Sudah kubilang-"
"Aku tidak bisa tidak mengatakan maaf padamu." Suaranya terdengar lebih tegas kali ini. "Kau tahu apa yang selalu kupikirkan? Seandainya ada cara untuk menghapus perasaanku padamu, sudah sejak dulu kulakukan. Aku tak perlu terus terluka, bukan? Aku tak perlu selalu merasa bersalah."
Banner menatapnya tanpa ekspresi. "Benarkah kau mencintaiku?"
"Tentu saja."
Banner menyeringai, tetapi ada sesuatu yang tidak terucap di balik senyuman itu. "Aku berbuat kasar saja kau masih sangat mencintaiku. Apalagi jika aku memperlakukanmu seperti Agnes."
Wajah Erza mengeras, tetapi ia tidak mundur. "Aku memang bukan Agnes yang sempurna di matamu. Aku bahkan terlampau jauh untuk bisa dikatakan layak sepertinya. Tapi, pernahkah kau tahu bahwa aku bisa mencintaimu sebesar kau mencintai Agnes? Aku bisa mencintaimu, bahkan ketika kau terus melukaiku dengan sikap dinginmu. Apa Agnes bisa?"
Banner terdiam. Kata-kata itu menghantamnya dengan cara yang tidak ia duga.
"Kau lelah mencintaiku?" tanyanya pelan.
Erza menatapnya, lalu tersenyum kecil. "Aku akan belajar berhenti," katanya. "Tapi, jika kau berpikir aku bisa melakukannya dalam semalam, kau salah."
Banner hanya membungkam. Ada sesuatu dalam dirinya yang berontak, tetapi ia tidak tahu pasti apa itu.
"Bagaimana isi perutmu?" tanyanya tiba-tiba, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh, mmm ... dia baik-baik saja."
"Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?"
Erza tersenyum lembut. "Aku tidak peduli laki-laki atau perempuan. Yang penting dia akan terus menemaniku sampai tua nanti."
"Hmmm, terserahlah. Sekarang, pijat yang sebelah kiri."
Erza menurut. Mereka kembali tenggelam dalam keheningan, hingga akhirnya Erza membuka suara. "Apa kau masih pusing?"
"Menurutmu?"
Perlahan, tangannya terangkat, menyentuh dahi lelaki itu. Banner membeku seketika.
"Masih demam. Kau harus beristirahat."
"Pijat saja kepalaku."
Erza menelan ludah. Kemudian, dengan hati-hati, ia mendekat. Banner menyandarkan kepalanya di pahanya, membuat jantung wanita itu berdegup lebih cepat.
"Bernyanyilah," kata Banner tiba-tiba.
Erza mengerutkan kening. "Kau tidak akan menyukai suaraku."
"Bernyanyi saja. Aku akan menyuruhmu berhenti jika aku tidak suka."
Erza menghela napas, lalu mulai bernyanyi.
Every time you touch me, I become a hero
I'll make you safe no matter where you are
And give you everything you ask for
Nothing is above me
Suara Erza mengalun lembut, menyusup ke dalam relung hati, menggetarkan sesuatu yang telah lama Banner abaikan. Setiap nada seperti menyentuh bagian terdalam jiwanya, menggali perasaan-perasaan yang selama ini ia tekan.
Saat lagu berakhir, Erza menunduk, melihat wajah suaminya yang kini terpejam. Rambutnya yang halus tergerai di atas pahanya, terasa hangat.
Ia mengulurkan tangan, membelai pipi lelaki itu dengan jemarinya yang bergetar. Setetes air mata jatuh, menyusuri wajahnya, lalu mendarat di kulit Banner.
Ia buru-buru menghapusnya.
"Kau orang yang baik," bisiknya. "Dan semua itu terlihat nyata saat kau terpejam."
Kemudian, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia menambahkan, "Maaf karena mencintaimu ... but please, don't hate me."
Malam merayap masuk ke dalam kamar, menyelimuti mereka dalam diam yang penuh makna. Di luar, angin bertiup pelan, membawa serta harapan yang tak terucapkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomanceSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)