Langit berarak muram, menggelayut dalam warna kelabu yang seolah meresapi kesedihan orang-orang di bawahnya. Angin bertiup lirih, membelai pucuk pepohonan dan menggetarkan dedaunan yang berguguran seperti air mata yang tak mampu lagi ditampung oleh mata manusia.
Di kejauhan, Banner menatap sosok Alan yang berdiri kaku di depan peti mati istrinya. Tubuh dokter muda itu tampak tegap, tapi raut wajahnya mengisyaratkan kehancuran yang tak dapat disembunyikan. Tatapannya kosong, matanya nanar, dan tangannya mengepal seakan ingin menggenggam sesuatu yang telah lama pergi.
Banner tidak bergerak. Ia hanya mengamati.
Saat prosesi pemakaman selesai dan semua orang mulai meninggalkan lokasi, Alan masih tetap di sana, berdiri di depan pusara Agnes seperti patung yang kehilangan jiwa.
Banner menelan ludah. Ia harus mendekatinya. Ia harus mengatakan sesuatu, walau ia tahu kata-katanya mungkin tak akan berarti apa-apa.
Dengan pelan, ia mulai menggerakkan kursi rodanya, melewati rerumputan yang masih basah oleh embun pagi. Namun, baru beberapa meter, langkahnya terhenti.
Alan berbicara.
Hanya sebuah bisikan, tapi cukup untuk menghantam dada Banner dengan keras.
"Aku amat menyayangimu, Agnes. Tenanglah di sana. Aku sudah memaafkanmu."
Suara Alan tak bergetar, tapi di balik ketenangan itu, Banner bisa merasakan kesakitan yang merayapi setiap suku katanya. Banner kembali dihantam gelombang rasa bersalah yang luar biasa.
Lihatlah apa yang telah ia lakukan. Lihatlah betapa ia telah menghancurkan sahabatnya sendiri.
Alan akhirnya berbalik. Mata elangnya menangkap keberadaan Banner dengan tatapan dingin. Tanpa kata, tanpa amarah yang meledak, hanya sepasang mata yang telah kehilangan semua kehangatan.
Lalu, Alan berjalan melewatinya.
Banner mencoba memanggil. "Alan."
Tak ada jawaban.
Hanya suara langkah kaki Alan yang perlahan menjauh, mengabaikannya seakan ia tak lebih dari bayangan yang tak layak dipedulikan.
Banner mengatupkan bibir. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa runtuh.
Ia menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar sendirian. Tanpa keluarga, tanpa teman, dan tanpa pemilik hatinya.
"Kau menyesal sekarang?"
Suara Alan tiba-tiba terdengar, menghentikan Banner dalam pusaran keheningannya.
Banner menoleh. Alan berdiri di sana, menatapnya dengan sorot mata yang penuh kebencian.
Banner mengangguk pelan. "Lebih dari itu," ucapnya lirih sambil memutar kursi rodanya agar bisa berhadapan langsung dengan Alan.
Alan menyeringai. "Kau menikmati karmamu?"
Banner melihat mata Alan turun ke arah kakinya yang kaku.
Ada kebencian di sana.
Ada kepuasan.
"Maafkan aku, Alan," Banner berkata dengan suara yang lebih tenang. "Aku tahu kau membenciku saat ini."
Alan tertawa kecil, tapi suaranya terdengar hampa. "Ralat, Banner. Aku tidak hanya membencimu. Aku teramat sangat membencimu." Ia menatap tajam. "Dan begitu juga dengan Erza."
Banner menelan ludah.
Erza.
Nama itu bagaikan pisau yang terbenam di hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomanceSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)