Langit pagi masih basah oleh embun ketika Erza menginjakkan kaki kembali di rumah yang selama ini ia tinggali bersama Banner. Rumah besar yang dulu pernah menjadi saksi janji-janji cinta mereka, kini hanya terasa seperti sangkar kosong yang dingin.
Setelah dokter menyatakan dirinya boleh pulang dari rumah sakit, Tony dan Alan membantunya membawa barang-barangnya. Namun, alih-alih langsung pergi, Erza justru merasa perlu untuk melakukan sesuatu sebelum meninggalkan tempat itu selamanya.
Di sudut kamar yang luas, sebuah piano berdiri megah. Warna hitam mengilapnya masih sama seperti dulu, meskipun kini terasa lebih asing. Erza mendekat, ujung jarinya menyentuh tuts-tuts yang dingin. Sudah lama sekali ia tidak memainkannya. Ia menarik napas dalam, lalu duduk, membiarkan jemarinya menari di atas tuts.
Nada pertama mengalun lembut, bergulir dalam irama yang menyayat. Setiap not adalah potongan kenangan, setiap nada adalah bisikan luka yang tertahan. Musik memenuhi ruangan, membalut udara dengan kesedihan yang tak terucapkan.
Erza menangis. Tapi bukan karena ia akan meninggalkan rumah ini, bukan karena ia akan meninggalkan Banner. Air matanya jatuh karena sesuatu yang lebih dalam-kesadaran betapa bodohnya ia telah bertahan begitu lama dalam ikatan yang hanya melukai. Ia menangis untuk bayi yang tak sempat ia peluk, untuk harapan-harapan yang telah hancur, untuk dirinya sendiri yang selama ini terpenjara oleh kebohongan dan keangkuhan perasaannya sendiri.
Nada terakhir mengalun lirih sebelum senyap mengambil alih. Ruangan itu kembali sunyi, hanya tersisa suara napasnya yang tidak beraturan. Erza menutup mata, menenangkan diri sejenak, lalu bangkit.
Di atas piano, ia meletakkan map berisi surat cerai yang telah ia siapkan. Benda itu tampak begitu sederhana, namun di baliknya tersimpan keputusan besar yang akan mengubah segalanya. Ia menatapnya selama beberapa saat, seperti ingin memastikan dirinya benar-benar siap.
Ia tidak ingin menyerahkan surat itu langsung kepada Banner. Tidak ingin mendengar argumen, tidak ingin melihat ekspresi laki-laki itu, tidak ingin membiarkan perasaannya terombang-ambing lagi. Tony yang akan mengurusnya. Begitu surat itu ditandatangani, ia akan meminta Tony menyerahkannya pada Samuel. Sederhana dan selesai.
Saat hendak melangkah pergi, sesuatu menghentikannya. Ada satu hal yang belum ia lakukan.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat tangan kirinya. Cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manisnya terasa begitu berat kini. Dulu, benda itu adalah simbol cinta dan komitmen. Sekarang, hanya sebuah lingkaran logam yang tidak berarti
Perlahan, ia melepasnya. Ada rasa aneh yang menyeruak-seperti beban yang terangkat, tetapi juga seperti ada sesuatu yang terlepas dari dirinya. Ia meletakkan cincin itu di atas map surat cerai, membiarkan kedua benda itu menjadi tanda penutup dari kisah yang sudah seharusnya berakhir.
Tanpa menoleh lagi, Erza menarik kopernya dan melangkah keluar. Setiap langkahnya terasa ringan, seolah ia baru saja menghembuskan kepedihan terakhir yang selama ini ia simpan.
Di luar, udara pagi menyambutnya dengan kesegaran yang kontras dengan beratnya beban yang baru saja ia tinggalkan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Erza merasa benar-benar bebas.
Ia memutuskan untuk kembali ke rumah lamanya-tempat yang pernah menjadi miliknya sebelum ia menikah dengan Banner. Rumah itu memang sudah lama ingin ia jual, tetapi untuk sementara, ia akan tinggal di sana. Setidaknya, sampai ia benar-benar siap untuk melangkah lebih jauh.
Langkah pertama yang ia ambil setelah pergi dari rumah Banner adalah memutus semua ikatan. Ia membuka ponselnya, menatap kontak yang masih tersimpan di dalamnya. Satu per satu, ia memblokir nomor-nomor yang berhubungan dengan Banner. Tidak ada ruang untuk pesan panjang berisi permohonan, tidak ada kesempatan untuk kata-kata manipulatif yang mungkin akan melemahkannya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomanceSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)