Malam turun perlahan di langit kota, merangkai kelam dengan taburan bintang yang redup, seolah enggan bersinar terlalu terang. Taman kota masih dipenuhi riak kehidupan; pasangan muda yang tertawa kecil di bangku-bangku kayu, anak-anak berlarian mengejar bayangan mereka sendiri di bawah lampu taman, dan semilir angin yang membawa aroma tanah lembap selepas hujan sore tadi.
Di salah satu sudut taman, dua sosok duduk berdampingan. Erza dan Eric.
Lelaki itu telah menunggunya seperti biasa, seolah kebiasaannya pulang bersama Erza telah menjadi sebuah ritual yang tak boleh terlewatkan. Awalnya, Erza merasa sungkan—terlalu sering kebetulan berpapasan, terlalu sering Eric muncul di hadapannya dengan alasan yang nyaris selalu sama.
"Aku baru saja sampai dan tidak sengaja melihatmu keluar. Ayo, pulang bersama!"
"Aku lapar. Aku malu makan sendiri di restoran. Maukah kau menemani?"
"Jane ingin bertemu denganmu. Bisakah kau menemaninya sebentar, lalu pulang bersamaku setelahnya?"
Setiap kata yang dilontarkan Eric seperti rajutan halus yang perlahan menyelusup ke dalam keseharian Erza. Tak terasa, lelaki itu mulai menjadi bagian yang sulit dilewatkan. Namun, malam ini, kalimat yang Eric ucapkan terdengar berbeda—sesuatu yang lebih dalam, lebih tak terduga.
"Aku rindu padamu. Ayo, ikut ke taman bersamaku."
Masih terasa gemanya di telinga Erza. Jantungnya berdetak di luar kendali, seperti seorang pianis pemula yang tiba-tiba diminta memainkan sonata yang belum pernah ia pelajari. Pipinya merona, hangat, berdegup seperti malam itu menyimpan rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu.
"Erza, kenapa wajahmu merah? Kau sakit?"
Suara Eric tiba-tiba menyusup ke dekat wajahnya, begitu dekat hingga Erza bisa mencium samar aroma mint dari napasnya. Lelaki itu berdiri di depannya, satu tangan membawa hotdog yang masih mengepul.
"Hah? A-aku tidak sakit. Aku sehat, kok," sahut Erza, buru-buru mengalihkan pandangan.
Eric menyipitkan mata, seakan menyelami kebohongan kecil yang meluncur dari bibir Erza. "Lalu, kenapa wajahmu merah?"
Erza mengalihkan pandangan, matanya mencari-cari jawaban di antara dedaunan yang bergerak pelan. Hingga akhirnya, ia menatap hotdog di tangan Eric. "Aku lapar. Iya! Aku lupa makan siang," ucapnya cepat, seolah menemukan pelampiasan.
Eric tertawa kecil. "Jadi, wajahmu akan memerah kalau lapar? Begitu?"
Dalam hatinya, lelaki itu tahu bahwa bukan itu penyebabnya. Ada sesuatu yang lain. Namun, ia memilih untuk membiarkan kebohongan kecil itu mengalir, seperti air yang mengikuti arus tanpa perlu dibendung.
"Ya ... begitulah," jawab Erza, enggan mengaku.
"Tentu. Ini untukmu." Eric mengulurkan hotdog yang sejak tadi dipegangnya.
Erza menerimanya dengan cepat, lalu menggigitnya besar-besar, membuat pipinya mengembung seperti tupai yang menyimpan makanan. Eric mengamati wajahnya dengan tatapan geli.
"Jika kau sangat lapar, aku bisa membelikanmu lebih banyak," katanya dengan nada menggoda.
Erza menggeleng cepat. Harga dirinya masih lebih tinggi daripada rasa laparnya.
Eric tertawa, lalu—dengan gerakan yang hampir tanpa suara—ia mengulurkan tangannya dan mengusap lembut ujung bibir Erza, menghilangkan jejak saus yang menempel di sana.
Erza terkesiap. Matanya membelalak sesaat sebelum buru-buru mengalihkan pandangan, kembali mengunyah hotdog dengan wajah yang semakin memanas.
"Eric, jangan menggodaku," gumamnya di antara kunyahan. "Dadaku serasa mau meledak."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomanceSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)