Ruangan itu seolah mengeras menjadi bongkahan es yang tajam, menusuk tanpa ampun. Cahaya lampu yang menggantung di langit-langit rumah sakit terasa lebih dingin, seperti sorot mata yang menghakimi setiap dusta yang pernah diucapkan di dalamnya.
Alan berdiri dengan tubuh menegang, dadanya naik turun tak teratur, seakan menahan badai yang siap meledak kapan saja. Napasnya memburu, dan suaranya keluar seperti bisikan beracun yang tajam dan dingin.
"Kau pembunuh!"
Suaranya menggema, membelah udara yang berat dan pekat oleh kebohongan.
Agnes tersentak. Matanya melebar, tangannya mencengkeram selimut rumah sakit yang melapisi kakinya, seolah benda itu satu-satunya yang bisa menahannya agar tidak terjerembab dalam kehancuran yang ia ciptakan sendiri.
Alan melangkah maju, tatapannya beralih ke arah Banner yang masih berdiri kaku, seakan jiwanya telah lepas dari tubuhnya sendiri.
"Lihat baik-baik, Banner! Ini wanita yang kaupercayai! Ini perempuan yang kau pilih di atas segalanya. Kau memilih seorang pembunuh!"
Kata-katanya bagaikan pedang yang diayunkan dengan amarah. Setiap suku katanya penuh luka, mencabik-cabik kepercayaan yang tersisa.
Setelah berkata demikian, Alan memutar tubuhnya, tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah berat, membawa serta amarah dan kepedihan yang tak lagi bisa ditahan.
Keheningan menyelimuti ruangan, tetapi bukan keheningan yang menenangkan. Ini adalah keheningan yang menekan, yang menyiksa.
Agnes menoleh ke arah Banner dengan tatapan memohon. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dalam ketakutan yang kini mulai merambati setiap jengkal tubuhnya.
"Banner, jangan percaya dia! Dia dan nenek tua ini sudah gila!"
Namun, tak ada jawaban.
Banner masih berdiri di tempatnya, menatap Agnes dengan sorot yang bukan lagi marah, tetapi kosong. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tidak ada makian yang keluar dari bibirnya. Yang ada hanya kehancuran, yang sunyi, yang perlahan-lahan menggerogoti dari dalam.
"Kau menipuku, Agnes," suaranya rendah, tetapi cukup untuk membuat Agnes bergidik. "Kau melukai Erza... dan membunuh anakku."
Pernyataan itu seperti pukulan telak bagi Agnes. Ia terhuyung ke belakang, bibirnya terbuka, tetapi tak ada kata yang keluar.
"Banner, aku mohon..." suaranya lirih, nyaris seperti bisikan. "Jangan percayai siapa pun. Mereka ingin memisahkan kita."
Dalam kepanikannya, Agnes mencabut jarum infus yang tertanam di punggung tangannya. Darah langsung menyembur, mengalir deras menodai selimut putih yang membungkus tubuhnya. Ia tak peduli. Rasa sakit fisik tak ada artinya dibanding ketakutan yang kini mencekiknya.
Ia bangkit dengan tubuh yang masih lemah, langkahnya tertatih, tetapi tekadnya bulat. Dengan tangan yang bergetar, ia mencoba mendekati Banner, mencoba menggenggam apa yang tersisa darinya sebelum semuanya benar-benar lenyap.
Nenek Min dan Tony hanya bisa menatap dengan ekspresi kaku. Tidak ada yang mencoba menghentikan Agnes, seolah mereka tahu bahwa apa pun yang mereka lakukan sekarang, tak akan mengubah takdir yang sudah menanti di ambang pintu.
Namun, Banner tetap bergeming. Ia tidak bergerak, tidak menyambut langkah Agnes.
"Kau membohongiku..." suaranya terdengar lebih lirih sekarang, nyaris seperti bisikan yang tertelan oleh kehampaan. "Padahal aku memercayaimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Broken Lady [completed]
RomanceSeorang wanita yang menganggap dunia adalah melodi yang belum selesai, terjebak dalam kehidupan yang jauh dari harmoninya. Dikenal dengan kelembutan hati dan cintanya pada seni, ia hidup dalam bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati. Ketika tak...
![The Broken Lady [completed]](https://img.wattpad.com/cover/154223024-64-k235997.jpg)