8.

39.2K 1.5K 70
                                        

Erza menatap wajah lelaki itu dalam-dalam, menelusuri tiap lekuk yang telah ia hafal dengan mata dan hati yang telanjur terikat. Jari-jarinya bergerak perlahan, menyapu helai-helai rambut yang jatuh di dahi Banner, menyusuri setiap helaian seolah sedang membelai takdir yang tak berpihak kepadanya. Ia tak mengerti mengapa dirinya masih bisa menikmati keheningan semacam ini, meski kesunyian itu menyakitinya lebih dari apa pun.

Sesekali, ia menyentuh ujung bulu mata lelaki itu, merasakan kelembutan yang bahkan lebih ringan dari kelopak bunga di musim semi. Ada sesuatu yang menenangkan dalam kebiasaan kecil ini, seakan dirinya masih diizinkan untuk berada di sisi Banner, meski hanya dalam diam yang tak bertuan.

Namun, dunia terlalu kejam untuk membiarkan momen itu bertahan lebih lama.

"Kau membuatku terbangun," suara parau Banner menggema dalam ruang yang remang, menyusup ke dalam gendang telinga Erza seperti belati yang tajam dan dingin.

Erza tersentak, tangannya buru-buru menarik diri. Seharusnya, ia tidak menyentuh lelaki itu. Tidak seharusnya ia terlena pada kebiasaan yang tidak pernah disambut.

"Maaf, aku tidak akan mengganggumu lagi," ucapnya lirih.

Banner menghela napas, lalu menatapnya dengan sorot mata yang mengandung sesuatu yang tak bisa diterjemahkan. Bukan kemarahan, bukan juga kelembutan-hanya kehampaan yang dalam dan tak berujung.

"Kau hanya perlu pergi dan menghilang dari pandanganku jika kau ingin berhenti menggangguku," ujarnya ketus.

Erza terdiam, menelan luka seperti menelan pahitnya pil yang tak bisa ia hindari. Tapi kali ini, ia tidak ingin merespons dengan air mata. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi lebih kuat, setidaknya demi anak yang kini bersemayam dalam rahimnya.

"Iya," jawabnya akhirnya, suaranya tenang meski hatinya bergemuruh. "Aku akan melakukannya setelah melahirkan. Bersabarlah."

Banner menyeringai kecil, seakan menertawakan betapa naïfnya wanita di hadapannya. "Hm, kupegang kata-katamu. Aku akan menghancurkan hidupmu jika masih melihat wajahmu nantinya."

Erza tak menjawab. Ia hanya membisu, membiarkan kalimat itu menggantung di udara tanpa memberi perlawanan.

"Kenapa diam?" Banner kembali menyindir, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Kau tidak terima?"

"Tidak," Erza menjawab dengan mantap, meski suaranya bergetar sedikit. "Aku akan memastikan tidak akan muncul di hadapanmu nantinya. Lagi pula, aku akan bahagia dengan anakku. Jadi, untuk apa berurusan dengan masa lalu, 'kan?"

Dadanya terasa sesak saat mengucapkan kalimat itu. Namun, ia tahu bahwa dirinya harus membiasakan diri dengan luka ini, sebab luka inilah yang akan menjadi tamengnya kelak.

Sayangnya, tubuhnya tidak sekuat hatinya. Tak urung, air mata itu jatuh juga, mengalir begitu saja meski ia sudah mati-matian menahannya. Ia buru-buru memalingkan wajah, tidak ingin Banner melihatnya menangis.

Tapi terlambat.

Banner menarik dagunya, memutar kepalanya hingga tatapan mereka bertemu. Mata kelam itu mengunci pandangannya, menelanjangi emosinya dengan brutal.

"Berhentilah mengeluarkan air mata ini," ucap Banner pelan, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Kau membuatku merasa seperti pendosa. Jika kau ingin menangis, menangislah, tapi jangan di depanku seperti sekarang. Kau membuatku semakin membencimu karena membuatku merasa bersalah."

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada pisau yang pernah ia bayangkan bisa membunuhnya. Tapi Erza tetap diam, berusaha mengumpulkan kepingan dirinya yang telah retak.

"Kalau begitu," suaranya nyaris seperti bisikan, "bisakah kau bersikap baik padaku, sekalipun hanya pura-pura? Karena tidak ada wanita yang bisa menahan air mata saat disakiti."

Banner terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tak bisa menemukan kata-kata untuk membalas.

Erza menggigit bibirnya, mengutuk dirinya sendiri karena masih berharap pada sesuatu yang tak ada. Ia mengusap perutnya, mencari ketenangan dalam kehangatan yang belum bisa ia genggam.

"Aku akan ke dapur untuk memasak," katanya tiba-tiba. Ia butuh udara. Ia butuh kesibukan agar tidak tenggelam dalam lautan emosi yang semakin dalam.

Perlahan, ia mengangkat kepala Banner dari pahanya, lalu beranjak pergi tanpa menunggu jawaban.

✦·┈๑⋅⋯ -ˋˏ ༻❁✿❀༺ ˎˊ- ⋯⋅๑┈·✦

Sejak malam itu, Banner semakin dingin. Ia tidak lagi menatapnya lebih dari satu detik, tidak lagi berkata lebih dari satu kalimat jika tidak perlu.

Erza sudah terbiasa, atau setidaknya, ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah terbiasa.

Pagi ini, ia menyiapkan sarapan dengan tenang. Roti panggang, telur setengah matang, dan secangkir kopi hitam. Ia tahu Banner tidak menyukai sesuatu yang berlebihan.

Sebelum membuka pintu kamar, ia menarik napas dalam-dalam. Kemudian, dengan hati-hati, ia masuk dan menaruh nampan di meja kecil di samping ranjang.

Banner menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke jendela.

"Hai," sapanya pelan, mencoba menormalkan suasana. "Bagaimana tidurmu?"

Banner hanya mengangguk. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada tatapan tajam seperti biasanya.

"Aku sudah menyiapkan sarapan."

Banner menatap nampan itu, lalu kembali menatapnya. "Tambahkan mayones."

Erza mengerjap. "Baiklah," ucapnya sebelum bergegas ke dapur untuk mengambilkannya.

Saat ia kembali, Banner masih diam. Ia mengambil sandwich itu, menggigitnya tanpa berkata apa-apa.

Erza bersiap untuk pergi, tapi tiba-tiba, pergelangan tangannya ditahan.

"Terima kasih sudah merawatku," ucap Banner kaku.

Erza menatapnya, tidak yakin apakah ia sedang bermimpi atau ini benar-benar terjadi.

"Itu kewajibanku," jawabnya akhirnya. "Tidak perlu berterima kasih."

"Minta sesuatu," ujar Banner tiba-tiba. "Aku akan mengabulkannya, dengan beberapa pengecualian, tentu saja."

Mata Erza berbinar. Ia tak menyangka akan diberi kesempatan seperti ini.

"Apa kau mau pergi bersamaku untuk berdoa di gereja pusat kota?" tanyanya hati-hati.

Banner menatapnya, sedikit terkejut. "Kenapa tidak di gereja biasanya?"

"Hanya ingin saja," jawab Erza pelan. "Dulu aku selalu ke sana bersama ayah dan ibu."

Banner menghela napas. "Baiklah. Kita akan ke sana hari Minggu."

Seulas senyum terbentuk di bibir Erza. Senyum yang tulus, penuh kehangatan yang hampir ia lupakan.

Saat itu, ia merasa harapannya kembali menyala, meski hanya sejumput kecil di tengah kegelapan.

✦·┈๑⋅⋯ -ˋˏ ༻❁✿❀༺ ˎˊ- ⋯⋅๑┈·✦

Setelah Banner selesai makan, Erza berdiri dan membawa piring-piring kotor ke dapur.

Namun, tepat saat ia ingin melangkah keluar, Banner tiba-tiba berkata, "Apa kau akan benar-benar melupakanku jika kita berpisah nanti?"

Erza berhenti.

"Entahlah," jawabnya jujur. "Kenapa kau menanyakannya?"

"Aku hanya ingin tahu," ucap Banner ringan, "siapa tahu, setelah berpisah kau masih mengusik hidupku dengan mengatasnamakan cinta."

Erza tersenyum tipis.

"Aku tidak akan melakukannya," katanya pelan, "sekalipun masih mencintaimu."

Banner kembali terdiam.

Erza menatapnya satu kali lagi, sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan Banner dengan pikirannya sendiri.

The Broken Lady [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang